REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Perjalanan Massimiliano Allegri Sebelum Jadi Pelatih Italia Tersukses


M Bimo pada 2020-06-27 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Siapa yang setuju kalau Massimiliano Allegri merupakan pelatih Italia tersukses saat ini? Pelatih kelahiran Livorno 52 tahun lalu ini terakhir kali melatih Juventus. Bersama tim berjuluk Nyonya Tua sejak 2014, Allegri mampu membawa Juventus juara Serie A lima musim berturut-turut.

Pada kancah Eropa, Allegri juga pernah membawa Juventus ke final Liga Champions, meski belum berhasil membawa pulang trofi juara ke Italia. Sebelumnya pada 2011, pelatih ini juga berhasil membawa AC Milan meraih scudetto. Deretan catatan ini bisa dibilang raihan terbaik Allegri dalam satu dekade terakhir.

Nama Allegri populer setelah menangani AC Milan dan mempersembahkan scudetto setelah dua musim. Namun, perjalanan kariernya sebagai pelatih dimulai panjang jauh sebelum itu. Massimiliano Allegri pertama kali terjun ke dunia kepelatihan pada 2003. Sebelumnya, ia adalah seorang gelandang yang aktif bermain sejak 1984.

Klub pertama yang dilatih Allegri ialah Aglianese Calcio 1923, sebuah klub Serie D atau divisi keempat Liga Italia. Dalam kurun waktu empat musim, ia pernah melatih Real SPAL dan Grosetto selama dua musim. Baru pada 2007, Allegri ditunjuk sebagai pelatih Sassuolo yang saat itu masih berkutat di Serie C.

Di sinilah karier Allegri mulai berkembang. Sebab tak butuh waktu lama, dia mampu membawa Sassuolo promosi ke Serie B untuk pertama kali dalam sejarah klub. Ia melakukan itu hanya dalam waktu satu musim saja. Prestasi Allegri ini membuat jasanya dilirik oleh Massimo Cellino, pemilik dan presiden klub Serie A, Cagliari. Saat itu pada akhir musim 2007-2008, Cellino sedang mencari pengganti Davide Ballardini yang tidak diperpanjang kontraknya.

Musim itu adalah musim yang horor bagi Cagliari. Mereka jatuh bangun berjuang menghindari degradasi dengan tiga pelatih berbeda dalam satu musim. Lalu kemudian muncul nama Allegri, yang saat itu sedang banyak dibicarakan media karena berhasil membawa Sassuolo promosi ke Serie B. Akhirnya Presiden Cagliari menunjuk Allegri untuk menahkodai timnya dan menyodorkan kontrak selama 12 bulan.

Tiba di Sardinia pada Juni 2008, pelatih asli Italia ini menghadapi tugas yang berat. Ia diberi misi untuk memperbaiki performa Cagliari yang pada musim sebelumnya nyaris terperosok ke Serie B. Pertahanan menjadi area yang disorot Allegri ketika pertama kali menangani Cagliari.

Kiper Federico Marchetti dan bek tengah Davide Astori adalah dua pemain pertama yang dibawa Allegri ke Stadio Sant'Elia. Saat itu, Marchetti sedang disorot performanya. Ia dianggap sebagai salah satu kiper terbaik di Serie B saat masih berseragam AlbinoLeffe.

Sementara Davide Astori didatangkan dengan kesepakatan kepemilikan bersama dengan AC Milan. Astori sempat dijuluki bek masa depan Italia dan harapannya bisa menjadi penerus bek lama Cagliari, Diego Lopez. Satu pemain lain yang direkrut saat itu ialah pemain tengah Andrea Lazzari yang didatangkan dari Atalanta.

Ketika itu Cagliari hanya lemah dalam bertahan. Sebenarnya di lini depan, mereka punya materi yang cukup bagus. Ada nama seperti Alessandro Matri, Joaquin Larrivey, Jeda dan juga Robert Acquafresca. Musim sebelumnya, Acquafresca bahkan menjadi top skorer klub dengan raihan 10 gol.

Meski diharapkan membawa Cagliari bangkit, namun nyatanya Allegri sempat terpuruk pada awal-awal kariernya di sana. Menjalani lima pertandingan pertamanya, Allegri mendapatkan hasil lima kekalahan. Seorang pelatih yang tidak bisa membuat menang timnya lima kali berturut-turut, sudah pasti posisinya bakal terancam.

Sementara itu, Cellino dikenal sebagai pemilik klub yang tak kenal ampun. Sejak menjadi pemilik pada 1992, Cellino telah memecat 19 pelatih dan beberapa di antaranya dipecat dengan waktu kerja yang singkat.

Namun mengejutkannya, Cellino tidak memecat Allegri. Alih-alih cari pelatih baru, pemilik Cagliari ini malah menyodorkan perpanjangan kontrak dua tahun kepada Allegri. Kali ini ia memberi pelatihnya napas yang lebih panjang untuk bisa melakukan penyesuaian terhadap klub.

Semasa masih di Cagliari, formasi favorit Allegri adalah 4-3-1-2. Andrea Cossu diberi peran sebagai playmaker yang bertugas memasok bola kepada Jena dan Joaquin Larrivey di ujung tombak. Namun tampaknya komposisi ini menemui kebuntuan. Itu terjadi setelah lima pertandingan awal, hanya Larrivey yang berhasil mencetak gol.

Allegri patut berterima kasih kepada Robert Acquafresca. Striker ini awalnya sempat banyak dicadangkan. Namun perlahan-lahan membuktikan setelah beberapa kali menjadi super sub setelah mencetak gol kemenangan dan pembalik keadaan.

Sejak saat itu, Allegri mempercayakan Acquafresca yang ia duetkan dengan Jena di depan. Dengan menggunakan komposisi ini, tim berjuluk Rossoblu mampu meraih kemenangan pertamanya di liga usai mengandaskan Torino. Gol menit akhir dari Acquafresca membawa semangat dan kepercayaan diri skuat Cagliari semakin meningkat.

Setelah melalui lima pertandingan tanpa kemenangan dan meraih kemenangan perdana di Serie A, Massimiliano Allegri mulai menemukan taktik yang pas untuk Cagliari. Itu berujung pada performa bagus menjelang paruh musim. Dalam 10 pertandingan, Cagliari di bawah arahan Allegri hanya kalah tiga kali, imbang dua kali dan menang lima kali.

Tak hanya itu, Rossoblu juga mencatatkan kemenanan fantastis usai mengalahkan Bologna 5-2 dan mengandaskan Fiorentina 1-0. Pada jeda paruh musim dingin, Cagliari berada di peringkat ke-13. Peringkat yang lumayan bagus jika dibandingkan musim sebelumnya yang berada di dasar klasemen.

Pada paruh kedua, Cagliari mulai menemukan ritme permainan pada performa tandangnya. Mereka mampu mencuri poin penuh saat menumbangkan dua klub besar di partai tandang. Lazio menjadi korban pertama usai dikalahkan 4-1 di Stadio Olimpico. Allegri juga pernah membuat Juventus gigit jari di kandangnya usai melakukan comeback dengan skor akhir 3-2 untuk kemenangan Cagliari.

Kemenangan melawan Bianconeri membuat Cagliari naik lebih jauh di papan klasemen. Mereka sempat bertengger di peringkat ketujuh. Berada di klasemen cukup tinggi, membuat mereka sempat merasakan harapan untuk bisa lolos ke kompetisi Eropa. Jika tercapai, ini akan menjadi prestasi luar biasa bagi Allegri maupun klub itu sendiri.

Namun kembali, itu tetap hanya menjadi mimpi sebuah klub medioker. Sebab, penampilan Cagliari mulai menunjukkan inkonsistensi jelang akhir musim. Padahal, Allegri mampu tidak kalah dari tim-tim besar. Roma mereka tahan imbang, Inter pun dikalahkan dengan skor 2-1.

Namun Cagliari malah kalah dengan Reggina yang sudah pasti terdegradasi. Juga dibantai oleh Udinese 2-6 pada laga terakhir Serie A musim 2008-2009. Cagliari pun mengakhiri musim itu dengan finis di posisi kesembilan.

Allegri bagai sebuah keajaiban untuk Cagliari. Ia dapat menyulap tim yang musim sebelumnya nyaris terdegradasi, menjadi tim yang nyaris berkompetisi di kancah Eropa untuk pertama kali. Tak heran jika musim itu ia memenangkan Panchina d'Oro, penghargaan untuk pelatih terbaik Serie A.

Padahal pada musim 2008-2009, Jose Mourinho melewati musim yang fantastis bersama Inter Milan dan menjuarai Serie A. Namun, banyak kalangan yang berpendapat bahwa penghargaan yang diterima Allegri ini tidak berlebihan. Ia berhak mendapatkannya.

Finis di posisi sembilan adalah raihan tertinggi Cagliari di Serie A selama 17 tahun terakhir. Tak cuma itu, perubahan taktikal dan formasi racikan Allegri telah membuat lini depan Cagliari semakin tajam. 60 persen gol Cagliari pada musim itu disumbang oleh para pemain depan, Acquafresca 14 gol, Jena 10 gol dan Matri enam gol.

Kreativitas lini tengahnya pun patut mendapat acungan jempol. Andrea Cossu berhasil menyumbang 12 asis pada musim itu, tertinggi kedua di bawah pemain AC Milan, Kaka. Misi utama Allegri saat datang ke Cagliari pun diselesaikan dengan baik. Lini pertahanan yang dikawal oleh Federico Marchetti dan kawan-kawan berhasil kebobolan enam gol lebih sedikit dari musim lalu.

Namun sayangnya, perjalanan Allegri bersama Cagliari hanya bertahan satu setengah musim saja. Sebab pada pertengahan musim 2009/2010 ia pindah ke AC Milan. Namun sebelum meninggalkan Stadio Sant'Elia, Allegri mampu mempertahankan posisi papan tengah untuk Cagliari.

Pada awal musim 2009-2010 Allegri juga turut membawa masuk pemain-pemain yang jadi andalan Cagliari, seperti Nene dan Radja Nainggolan. Dua pemain ini kemudian menjadi pemain kunci klub di lini serang dan juga lini tengah.

Cagliari merupakan batu loncatan Allegri untuk menuju puncak. Pada musim kedua bersama AC Milan, Allegri mampu mempersembahkan gelar liga. Allegri juga sempat membawa Rossoneri juara Piala Super Italia pada 2011. Sebelum akhirnya pelatih ini keluar San Siro pada 2014.

Hengkang dari Milan bukan malah membuat karier Allegri meredup. Justru ia malah dipinang Juventus yang saat itu memang sedang superior sepeninggal Antonio Conte. Gabung sejak 2014, Massimiliano Allegri berhasil membawa Juventus scudetto lima kali berturut-turut, juara Coppa Italia empat musim berurutan, juara Supercoppa Italiana dua kali dan dua kali membawa Juventus sebagai runner up Liga Champions.

Namun, kontrak Allegri dengan Juventus tak berlanjut setelah musim 2018-2019 berakhir. Juventus kini ditangani oleh Maurizio Sarri. Sementara sejak hengkang dari Juventus, Allegri hingga kini belum lagi menangani klub baik di Italia maupun negara lain.

Allegri menjadi contoh pelatih yang sukses berkat kemampuan taktikalnya yang jempolan. Meski sejauh ini, kemampuan Allegri baru dibuktikan di sekitaran Italia saja. Menarik untuk dinanti karier Allegri jika nanti menangani klub di luar Italia. Akankah bisa melanjutkan raihan fantastis ketika semasa menangani klub Italia atau malah gagal bersinar?


TAG: Massimiliano Allegri Serie A Juventus






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

3

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

4

Omelan Bang Ben dan Intensitas Permainan Timnas yang Buruk

5

Formasi WM dan Perkembangannya

LEGENDA HARI INI


Card image cap
05 March

Pada tanggal 5 Maret 1870, London menjadi tuan rumah pertandingan internasional pertama di dunia, dengan mempertemukan Timnas Inggris menghadapi sekelompok pemain Skotlandia yang berbasis di London. Pertadningan Itu berakhir imbang 1-1.


IKUTI KAMI