REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Persoalan Kewarganegaraan di Balik Rivalitas Amerika Serikat-Meksiko


Aditya Hasymi pada 2021-08-20 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Selama masih manusia yang memainkan si kulit bundar maka jangan harap ia lepas dari perihal identitas.

Tersebutlah dua negara yang saling merebut gelar penguasa di zona Concacaf. Keduanya berdekatan hingga terkadang batas-batasnya terasa samar. Adalah Amerika Serikat dan Meksiko yang saling berebut tahta sebagai raja kawasan. Sepak bola mencatat perseteruan keduanya silih berganti dan tak berkesudahan hingga kini.

Semuanya bermula dari tahun 1930, kala Amerika Serikat dan Meksiko saling berhadapan dalam partai penting, guna lolos ke Piala Dunia 1934 melalui babak play-off. Keduanya bersepakat untuk tanding di tempat netral dan dipilihlah Italia yang juga akan menjadi tuan rumah di edisi Piala Dunia waktu itu.

Melalui perjalanan panjang dengan kapal kurang lebih satu bulan, baik Amerika Serikat dan Meksiko, membuat perjumpaan perdana di lapangan hijau ini begitu dikenang. Menariknya, kedua tim kala itu mempersiapkan diri sesuai dengan jati diri bangsanya. USMNT begitu serius berlatih hingga menggelar sesi latihan di dek kapal, sesuai dengan citra diri negara yang begitu teratur. Sebaliknya, El Tri begitu santai dan percaya diri, sejalan dengan masyarakatnya yang gemar berpesta.

Hasil akhir partai perdana yang mempertemukan dua negara bertetangga itu berpihak kepada Amerika Serikat. Skuad negeri paman sam menang 4-2 dan berhak lolos ke Piala Dunia 1934. Sejak saat itu, pandangan Meksiko begitu berbeda ketika bertemu US Team. Seolah kesetanan, kesebelasan negeri sombrero ini beringas untuk menang kala kembali berhadapan, dimana rekor golnya menyentuh 19-6.

Silih berganti mengalahkan satu sama lain merupakan hasil yang tersaji di ‘El Clasico’ nya zona Concacaf ini. Di partai final Gold Cup 1993, Meksiko menghancurkan AS dengan skor telak 4-0 di final. Gantian pada gelaran Piala Dunia 2002, gol dari Landon Donovan dan Brian Mcbride mematahkan hati seantero Azteca di babak 16 besar. Terbaru, skuad USMNT dua kali menekuk Meksiko di final Concacaf Nations League dan Piala Emas.


sumber foto: Greg Wood AFP Getty Images

Layaknya sebuah jalan cerita di film yang mudah tertebak, begitu pula rentetan pertemuan Amerika Serikat dan Meksiko di lapangan hijau. Rivalitas keduanya berpola seperti ini: USMNT mempermalukan Meksiko, yang justru membuat Los Tricolores termotivasi, dan dominasi tak terelakkan setelahnya.

Begitu panjangnya rivalitas yang terjadi antara negeri paman sam dan negeri sombrero tak dapat dielakkan begitu saja. Ternyata, apabila dilihat lebih dalam, motif yang membuat perseteruan bal-balan di antara keduanya sudah masuk ke alam sadar pelakunya, yakni manusia. Jika sudah melibatkan mereka yang punya akal dan rasa ini maka muncul kepentingan yang sifatnya politis adalah sebuah keniscayaan.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Meksiko ini, yang bermula di lapangan hijau, turut berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Apa yang terjadi kala kedua kesebelasan merumput tak lagi jadi faktor utama dari persaingan tak berkesudahan ini. Upaya saling mengalahkan antar dua negara ini sudah masuk ke dimensi sosial: urusan kewarganegaraan.

 

Sistem Kewarganegaraan Ganda yang Meruncingkan Duel AS-Meksiko

Sepak bola di level antar negara adalah bentuk paling jelas untuk perwujudan rasa nasionalisme. Ketika satu negara bertanding dengan negara lainya, begitu mudah rasa keterwakilan untuk membela berkobar di dada. Tengok saja bagaimana seorang pemain bisa tampil seratus persen saat berseragam timnas ataupun suporter yang dapat berlinang air mata saat lagu kebangsaan dikumandangkan.

Atas dasar tingginya rasa nasionalisme yang muncul saat tim nasional berlaga, maka motif keterwakilan sontak naik. Itulah mengapa para pemain yang berlaga bisa dipuja setinggi langit kala berhasil mengharumkan nama bangsa. Sebaliknya, ketika ada kegagalan yang terjadi menimpa, para pengolah bola inilah yang langsung ditunjuk sebagai biang keladinya.

Tak jarang, dalam motif keterwakilan di sepak bola antar negara, para skuad tim nasional tak lagi dilihat hanya sekadar pengolah bola biasa. Lebih dari itu, mereka yang berbaju timnas diharapkan dapat menjadi corong yang melambangkan citra baik dari negara yang dibela. Singkatnya, mereka yang berlaga bersama timnas juga termasuk sebagai lambang identitas negara.

Begitu pentingnya pemain sebagai identitas negara, urusan kewarganegaraan selalu ramai. Apalagi saat pemanggilan pemain membela timnas. Nama-nama terbaik selalu menjadi prioritas bagaimana pun caranya. Tak jarang, bagi mereka dengan talenta wahid bisa digoda untuk berpindah kewarganegaraan. Polemik pun tak terhindarkan.

Proses pemberian status kewarganegaraan ini sebenarnya telah diatur sedemikian rupa. Negara-negara yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), diberikan kewenangan mengatur perihal kewarganegaraan sesuai hukum yang berlaku di ranah domestik masing-masing. Maka FIFA sebagai otoritas tertinggi di sepak bola tinggal mengikutinya saja.

FIFA mengejawantahkan prinsip terbuka soal status warga negara dari PBB tadi ke dalam dokumen resmi. Sebuah dokumen berjudul ‘The Rules Governing Eligibility to Play for Representative Teams’ dirancang oleh badan regulator sepak bola global ini guna menjelaskan keabsahan status pemain untuk bisa berlaga bersama tim nasional.

Ada tiga kondisi, menurut FIFA, seorang pemain bisa membela timnas. Pertama, lahir di negara tersebut. Kedua, memiliki orang tua biologis yang lahir di negara tersebut. Ketiga, nenek atau kakek si pemain tersebut lahir di negara tersebut. Adapun yang keempat, pemain yang bersangkutan telah tinggal sekurangnya lima tahun setelah berusia 18 tahun di negara tersebut.

Sayangnya, urusan kewarganegaraan ini jadi polemik karena sistem yang mengaturnya begitu terbuka. Apalagi untuk negara yang secara geografis begitu berdekatan. Banyak pihak, terutama asosiasi sepak bola, mencari celah atas regulasi tersebut demi memperkuat tim nasionalnya masing- masing. Tak terkecuali antara Amerika Serikat dan Meksiko.


sumber foto: Zhizhao Wu Getty Images

Polemik dalam urusan kewarganegaraan tersebut juga yang membuat rivalitas Amerika Serikat-Meksiko terus begitu panas secara tensi. Banyak penduduk, dalam hal ini pemain, yang saling terikat keturunan. Menjadi wajar dapat terjadi mengingat keduanya hanya dipisahkan garis batas konstitusional secara wilayah. Ditambah lagi Amerika Serikat punya satu negara bagian yang dipenuhi komunitas sombrero; New Mexico.

Banyak pemain yang berdarah campuran di antara kedua negara tersebut. Legenda yang sempat menjadi kapten USMNT di Piala Dunia 2002, Carlos Bocanegra, punya darah Meksiko dari sang ayah. Lalu ada sosok Omar Gonzalez, bek peraih dua gelar Piala Emas yang lebih membela timnas AS ketimbang negara kedua orang tuanya yang dari Meksiko.

Hal tersebut memang tampak wajar sebelum politik identitas turut memengaruhi. Pandangan dari Amerika Serikat dan Meksiko amat berjarak. Terdapat stereotype dari warga AS bahwa Meksiko ini hanya negara ketiga bak benalu yang mencari penghidupan dan merenggut kesempatan warga asli. Sensitifitasnya naik baik disiram bensin saat Trump menjabat presiden. Imigran dari Meksiko dibatasi akses ke AS. Bahkan sampai dibuat tembok pembatas.

Jadi, jangan heran kalau duel AS-Meksiko selalu keras. Ada sensitivitas soal kewarganegaraan yang turut bermain di sana.


TAG: Amerika Serikat Meksiko Politik Identitas Laga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI