REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Portsmouth vs Reading: Rekor 11 Gol dalam Satu Pertandingan Premier League


M Bimo pada 2020-04-04 jam 12:00 PM


footballtransfertavern


Premier League musim 2007/2008 bisa dibilang musim yang luar biasa. Waktu itu perebutan gelar juara sangat sengit diikuti oleh tiga klub, Manchester United, Chelsea dan juga Arsenal. Hingga akhirnya MU lah yang berhasil keluar sebagai juara. Skuat klub berjuluk Setan Merah ini masih diisi oleh nama beken seperti Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney dan Carlos Tevez. Posisi nahkoda klub juga masih ditangani oleh Sir Alex Ferguson.

Buat kamu yang masih ingat, pasti rindu betapa serunya musim 2007/2008. Perebutan kekuasaan klasemen berurutan diisi oleh Manchester United di posisi pertama dengan 87 poin, disusul oleh Chelsea di posisi kedua dengan 85 poin dan Arsenal di peringkat ketiga dengan 83 poin. Poin yang dihasilkan oleh duo London itu mencetak rekor raihan poin tebanyak untuk klub yang finis di posisi dua dan tiga.

Serunya Premier League edisi ini bukan hanya tentang perebutan gelar juara. Tapi juga dengan banyaknya gol yang tercipta di beberapa pertandingan. Pertandingan Tottenham Hotspurs versus Reading disebut luar biasa menghibur dengan skor akhir 6-4 untuk kemenangan Tottenham. Pada Mei 2008, Middlesbrough berhasil menenggelamkan Manchester City dengan skor 8-1. Saat itu, City masih merupakan tim medioker di Liga Inggris.

Pada sepanjang musim 2007/2008 juga banyak tercetak rekor-rekor menyoal hattrick yang sungguh luar biasa. Emmanuel Adebayor menjadi pemain pertama yang sukses mencetak tiga gol beruntun di dalam pertandingan kandang dan tandang melawan tim yang sama. Adebayor mencetak hattrick pada kemenangan kandang dan tandang melawan Derby County.

Rekor hattrick lain dicetak di pertandingan yang mempertemukan Wigan Athletic dan Blackburn Rovers. Laga yang berakhir dengan skor 5-3 untuk kemenangan Wigan itu menjadi pertandingan Premier League pertama di mana pemain kedua klub saling mencetak hattrick. Tiga gol diborong oleh Marcus Bent dari Wigan dan Roque Santa Cruz untuk Blackburn.

Sementara itu pada musim yang sama, terukir pula rekor klub dengan performa terburuk. Rekor ini sayangnya harus diciptakan oleh Derby County. Bayangkan, dalam satu musim mereka hanya menang satu kali, delapan kali imbang dan kalah sebanyak 29 kali. Raihan gol dan kebobolan juga sudah tentu ambyar. Pemain Derby hanya mampu mencetak 20 gol dan kebobolan 89 gol. Dalam musim itu, Adebayor yang bermain untuk Arsenal bisa mencetak dua kali lipat total gol yang dilesakkan oleh seluruh pemain Derby dalam satu musim. Derby County finis paling buncit dengan hanya meraih sebelas poin saja.

Deretan rekor itu bisa saja membuat musim 2007/2008 menjadi salah satu musim yang paling luar biasa di Premier League. Namun, ada satu rekor yang hingga kini belum terpecahkan yang dibuat oleh dua klub yang belum sama sekali disebutkan di atas. Rekor ini terjadi pada 29 September 2007, di mana saat itu Portsmouth bertemu dengan Reading dan menciptakan rekor pertandingan dengan skor paling banyak dicetak selama 90 menit di Premier League.

Dua musim sebelumnya, Portsmouth yang dijuluki Pompey ini berhasil lolos dari zona degradasi hanya selisih empat poin. Namun di musim seterusnya hingga musim 2007/2008, Pompey selalu nyaris lolos ke Liga Europa. Sayangnya mereka hanya berjarak beberapa poin saja dan finis di urutan 8 pada musim 2005/2006 dan urutan 9 pada musim 2006/2007.

Sementara itu, Reading melakoni musim keduanya di Premier League sejak promosi pada musim 2006/2007 saat bertemu dengan Portsmouth. Di musim itu juga mereka meraih hasil yang sangat baik sebagai klub promosi dengan finis di urutan kedelapan. Di akhir musim, mereka finis satu peringkat lebih baik dan unggul satu poin dari Portsmouth.

Pada hari pertandingan, tuan rumah Portsmouth sedang bertengger di di posisi ke-11. Peringkat mereka baru saja terdongkrak berkat kemenangan tipis 1-0 atas Blackburn Rovers. Reading yang musim lalu punya rekor mengesankan di Premier League juga baru saja menang di kandang Wigan Athletic dengan skor 2-1.

Suporter yang datang di Stadion Fratton Park saat itu dibuat sangat sibuk. Sebelas gol yang tercipta, membuat suporter tuan rumah bersorak tujuh kali dan suporter tim tamu hanya kebagian bersorak empat kali saja. Suporter tuan rumah hanya harus menunggu enam menit saja sebelum sorakan pertama dimulai.

Gol dari Benjani Mwaruwari memaksa bola harus dimulai dari tengah lapangan lagi. Kerja samanya dengan Papa Bouba Diop dan John Utaka membuat pertahanan Reading kocar-kacir di awal laga. Penjaga gawang Reading sampai mengangkat tangannya, tak percaya karena kebobolan dengan skema yang sangat simpel. Ia sudah frustasi dari awal.

Perlu 30 menit untuk terjadi gol berikutnya pada pertandingan yang mencatatkan rata-rata satu gol setiap 8,18 menit ini. Lagi-lagi skema diawali oleh Diop dan diakhiri oleh Benjani. Dia yang mendapat umpan dari Diop di sepertiga akhir pertahanan Reading, mengutak-atik bola berusaha meloloskan setiap manuver yang dilakukan dari hadangan bek Reading. Tendangan Benjani dari luar kotak penalti hanya direspon oleh penyelamatan pasrah dari penjaga gawang Marcus Hahnemann. Dua gol untuk Benjani, dua gol untuk Portsmouth.

Menjelang turun minum, Portsmouth nyaris saja keluar lapangan dengan unggul tiga gol. Namun upaya itu dapat digagalkan Hahnemann yang berujung serangan balik. Kemelut di depan gawang Portsmouth yang dikawal David James terjadi. Liam Rosenior mendapat peluang persis di depan mulut gawang, namun hanya mengenai mistar. Bola liar jatuh ke sepatu kiri Dave Kitson, bola rebound itu masih bisa diselamatkan James. Tetapi bola tepisan kakinya mendarat di kepala Stephen Hunt. Sundulannya mengecilkan ketertinggalan bersamaan dengan wasit meniup peluit babak pertama usai.

Babak kedua dimulai baru berjalan tiga menit, Reading menyamakan kedudukan. Blunder David James yang grusa-grusu dalam menyapu umpan dari Hunt membuat gawang kosong tanpa penjaga. Kitson yang mendapat umpan dari Hunt dan berhasil melewati James dan tanpa susah payah mendorong bola masuk. Game on.

Namun tak lama kemudian, suporter Fratton Park kembali merayakan keunggulan. Sundulan Hermann Hreiðarsson mampu membuat tim asuhan Harry Redknapp ini kembali memimpin setelah menerima umpan dari Sylvain Distin.

Satu jam pertandingan berjalan. Skor 3-2 untuk keunggulan Portsmouth. Lima gol tercipta masih jauh dari apa yang membuat pertandingan ini tercatat di sejarah Premier League. Namun rentetan gol berturut-turut dicetak oleh kedua kesebelasan baru terjadi mulai menit ke-70.

Benjani memulai dengan menorehkan hattrick-nya di papan skor. Kocekan Gunnarsson, pemain tengah Reading, dapat dibaca dengan baik oleh Sulley Muntari. Memungkinkan dia untuk membuat intersep dan memberikan umpan terobosan kepada Benjani. Sekali kocek melewati kiper Reading asal Amerika Serikat, Hahnemann, lalu Benjani tinggal mendorong bola ke belakang garis gawang lawan. Pompey terus menjauh.

Pertandingan tampak mudah bagi Portsmouth setelah lagi-lagi mampu mencetak gol lewat sundulan Niko Kranjcar. Tapi skuat asuhan Steve Coppell tak mau menyerah begitu saja. Empat menit setalah gol Kranjcar atau tepatnya pada menit ke-79, Shane Long membuka asa setelah tendangan first time James Harper mengenai badannya dan bola masuk ke gawang usai membentur tiang. Skor 5-3 dan perlawanan tim kuda hitam yang bandel ini berlanjut.

Namun asa Reading itu hanya bertahan dua menit. Bek Reading asal Islandia, Ivar Ingimarsson, yang memblokir tendangan jarak jauh Sean Davis dengan kepalanya, malah membuat bola belok dan mengecoh Hahnemann. Gol bunuh diri untuk Ingimarsson. Tambahan satu gol untuk Portsmouth.

Drama sebelas gol di Fratton Park menuju akhir. Niko Kranjcar yang meliuk-liuk mencoba membuyarkan baris pertahanan Reading sampai di kotak penalti. Liukan pamungkasnya harus dihadang tekel dari pemain belakang tim lawan. Sulley Muntari yang jadi algojo membuat suporter tim tuan rumah bersorak untuk terakhir kalinya di menit 90+2 pada pertandingan itu.

Tapi ternyata masih ada gol tersisa di detik-detik akhir laga. Reading yang masih mencoba aktif menyerang mulai menyisir dari arah kiri pertahanan Portsmouth. Umpan crossing Shane Long disambut tendangan first time Nicky Shorey. Sol Campbell menghadangnya namun bloknya itu malah bikin laju bola semakin liar yang berujung amukan dari David James. Pertandingan luar biasa yang berakhir dengan skor 7-4.

Pada akhir musim, nasib Portsmouth lebih beruntung ketimbang Reading. Meskipun pengejaran tempat di kompetisi Eropa gagal dicapai pada pekan-pekan terakhir kompetisi, namun The Pompey mampu memenangkan Piala FA setelah mengalahkan Cardiff City di Stadion Wembley. Itu adalah trofi pertama mereka sejak hampir enam dekade.

Di tempat lain, petualangan Reading di Premier League harus berakhir. Setelah mencetak sejarah dengan kekalahan atas Portsmouth, mereka harus finis di posisi 18 yang merupakan zona degradasi. Sejatinya, nasib Reading ini cukup ngenes karena ia turun ke divisi Championship hanya karena kalah selisih tiga gol dari Fulham yang sangat beruntung.

Setelah pertandingan kontra Reading yang cukup menghibur itu, Harry Redknapp menganggap pertandingan itu mirip dengan final klasik Liga Europa antara Real Madrid versus Eintracht Frankfurt yang berakhir dengan skor 7-3.

Sementara pelatih Reading memberikan komentar kalau merasa kesulitan untuk menganalisis pertandingan yang dia bilang absurd ini. Mencetak sejarah melakoni pertandingan dengan jumlah gol terbanyak di Premier League bukan dianggap sebuah prestasi untuk dia. Jadi, Steve Coppell sama sekali nggak mau membahas pertandingan itu sama sekali.

Hingga kini, rekor tersebut masih dipegang oleh pertandingan Portsmouth versus Reading. Belum ada lagi dua klub yang mencetak lebih dari 11 gol dalam satu pertandingan. Kamu bisa nonton pertandingan bersejarah itu di sini:


TAG: Laga Premier League Portsmouth Reading






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI