REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Rashford dan Keterlibatan Pesepakbola dalam Kerja Kemanusiaan


Aditya Hasymi pada 2020-10-23 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Seorang pesepakbola kini dikenal tak hanya memiliki pengaruh di dalam lapangan hijau. Sebagai persona yang kuat, pengaruh dari pemain bola memiliki potensi untuk membuat perubahan melalui upaya kemanusiaan.

Marcus Rashford secara usia pesepakbola memang masih muda belia. Karirnya masih seumur jagung untuk pemuda 22 tahun. Ia baru saja menapaki jenjang tim senior setelah lulus dari akademi Manchester United. Namanya masuk dalam langganan sebelas awal tim Manchester merah pun masih hijau dengan empat musim yang dijalani.

Namun, pola pikir dari pemain yang memang besar dari kota industri Inggris ini tak seperti pemuda kebanyakan seusianya. Rashford tampak menyadari bahwa posisinya sebagai wonderkid masa depan tim nasional the three lions punya pengaruh lebih dari sekadar pencetak gol ulung.

Pemain bernomor punggung sepuluh di Man United ini menyadari satu hal: bahwa atensi publik yang menyorotnya sebagai pemain bola dapat memberi manfaat lebih dengan turut melakukan kerja-kerja kemanusiaan.

Kondisi dari pandemi virus korona memang kelewat kejam menghantam sendi-sendi kehidupan. Kondisi ekonomi di banyak wilayah turut menukik seiring dengan pembatasan sosial yang harus dilakukan. Tak terhitung puluhan warga terpaksa kehilangan mata pencaharian. Jumlah mereka yang tak bisa makan karena krisis yang ditimbulkan oleh covid-19 terus bermunculan.

Anak-anak yang kelaparan menjadi dampak nyata dari krisis akibat pandemi covid-19 yang telak menghantam Britania Raya. Hal ini terjadi sebagai sebuah efek domino dari pemutusan kerja yang begitu masif seturut dengan pengetatan subsidi dari pemerintah atas dalih pengetatan ekonomi.

Musim panas dimana saatnya anak-anak di seantero UK harusnya bergembira, kini justru murung yang melanda. Banyak dari mereka yang tak punya bayangan apakah di hari esok masih bisa mendapat asupan makanan. Kondisi miris itu membuat hati seorang Marcus Rashford terketuk.

Seorang Rashford kecil memang akrab dengan kondisi yang jauh dari kata ideal. Dirinya dibesarkan seorang diri oleh ibunya dalam keadaan tidak berkecukupan. Pemain timnas Inggris ini tumbuh di Wythenshawe, daerah pinggiran selatan Manchester, dalam kondisi tidak mengenakkan kala melihat ibunya begitu bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup.

Pengalaman tak enak yang dialami Rashford kala masih kanak-kanak lah yang membuatnya tergerak untuk melakukan kerja kemanusiaan. Upayanya dimulai dari 2019 silam, kala turun tangan membantu tuna wisma di UK dengan memberi hadiah natal bekerjasama dengan department store lokal.

Upayanya untuk membantu sesama kembali dilakukan Rashford ketika swakarantina diberlakukan seluruh wilayah Britania Raya untuk memutus rantai pandemi. Tanpa basa-basi, pemain yang telah mengoleksi 39 caps bersama tim tiga singa ini turut membantu anak-anak yang kelaparan.

Sosok kelahiran 31 Oktober ini memastikan kesediaan pangan bagi anak-anak yang tidak mendapatkan bantuan pangan imbas dari pandemi. Untuk memastikan bantuan pangan tepat sasaran, dirinya mendirikan sebuah tim khusus dengan nama Child Food Poverty Task Force bersama supplier makanan di seluruh UK.

Rashford kemudian dengan tepat memanfaatkan pengaruhnya sebagai talenta bal-balan Inggris dengan menggalang suara agar pemerintah ikut turun membantu. Penyerang the red devils ini menggunakan media sosial untuk menyuarakan kepada pemerintah agar turut menanggulangi kelaparan bagi anak-anak di Britania Raya dengan bantuan kupon makan gratis.

Keberanian dari Rashford untuk bersuara mengkritik kelambanan dari pemerintahan UK dalam hal menanggulangi masalah kelaparan akibat pandemi juga patut diacungi jempol. Sebagai andalan di lini depan United, dirinya tahu betul apabila bersuara untuk kemanusiaan, ada banyak suporter yang mendukung di belakangnya.

Petisi yang diprakarsainya baru-baru ini seperti menohok Boris Johnson dan kawan-kawan di parlemen, agar peduli pada kondisi anak-anak yang terancam kelaparan hingga perayaan natal nanti di bulan Desember. Ketegangan pun memuncak dengan adu argumen antara pemerintahan Britania Raya yang duduk di Downing Street no.10 dengan seorang Marcus Rashford.

Melalui akun twitternya, Rashford bersuara bahwa jumlah anak-anak di UK yang mati kelaparan karena covid-19 bukanlah sekadar statistik. Himbauan untuk membantu dengan melepas segala macam atribut politik disuarakan oleh pemain yang telah mengoleksi satu gelar Europa League ini.

“Apa yang dilakukan hari ini bukanlah sebuah hal yang politis, melainkan sebuah perbuatan demi kemanusiaan”, tegas Rashford dalam tweet-nya untuk kembali menggalang persatuan warga Britania Raya untuk membantu anak-anak masa depan bangsa.

Kerja kemanusiaan yang hari ini dilakukan oleh Rashford sebagai seorang pesepakbola sebenarnya bukan sebuah barang baru. Sebelumnya, sudah banyak pemain Inggris yang melakukan hal serupa. Kapten Liverpool, Jordan Henderson, pernah mendonasikan beberapa persen dari gajinya untuk membantu badan pelayanan Kesehatan UK – National Health Service. Pemain sayap Dortmund, Jadon Sancho, secara terang-terangan mengekspresikan kepedulian pada gerakan Black Lives Matter dalam setiap aksinya di Bundesliga.

Marcus Rashford telah menjelma bukan hanya sebagai pahlawan disaat krisis, namun juga memanfaatkan fungsi sosialnya sebagai seorang manusia, dengan bertindak melalui aksi nyata ketika melihat ketimpangan begitu jelas terpampang.

Ia menuruti kata hati nurani sebagai manusia: bahwa ada hal yang jauh lebih penting daripada mencetak gol bagi Manchester United.


TAG: Rashford Manchester United Man Utd






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI