REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Rasisme yang Terus Berulang di Sepak Bola Inggris


Aditya Hasymi pada 2021-03-03 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Apa yang selalu ditunjukkan oleh para pemain yang di Premier League, dengan berlutut sebelum sepak mula sebagai wujud mengikis tindak rasisme, hanya akan menjadi seremonial belaka, jika tidak ada tindak tegas yang berkelanjutan.

Di balik kegemerlapan Liga Inggris yang menawarkan sajian terbaik akan sebuah pertandingan sepak bola, tersimpan bangkai yang semakin hari aromanya semakin busuk. Tindakan membeda-bedakan satu manusia dengan manusia lain hanya karena berbeda warna kulit, budaya, ataupun etnis -yang kerap disebut sebagai rasisme- telah berkembang menjadi benalu yang menggerogoti tampilan elok dari Premier League.

Kasus rasisme seperti tidak pandang bulu, bahkan mereka yang punya darah asli sebagai Englishmen. Perbedaan sikap tampak nyata dan dekat dengan mereka.

Figur yang amat peduli dengan anak-anak Inggris yang kelaparan, Marcus Rashford, dirisak oleh para fans saat tampil buruk di partai away melawan Arsenal. Kedongkolan akibat takluk di kandang sendiri oleh tim juru kunci saat ini, Sheffield United, membuat Axel Tuanzebe jadi korban umpatan. Gagalnya eksekusi penalti di saat yang menentukan menjadi hal yang ingin dilupakan bagi Tammy Abraham karena suporter the Blues berbondong-bondong memakinya saat final Super Cup 2019. Raheem Sterling selalu tak nyaman kala berseragam The Three Lions karena para hooligans siap memakinya ketika kering gol.

Satu yang membuat mengernyitkan dahi adalah, tindak rasisme yang ditunjukkan oleh para fans sepak bola Inggris menggunakan platform yang sama: media sosial. Begitu mudah umpatan hingga makian mereka ketik bagi mereka yang tampil jelek di lapangan hijau yang kebetulan tampak “sedikit berbeda”.

Insiden rasialisme yang menggerogoti bal-balan negeri Britannia ini naik secara signifikan seiring mudahnya masyarakat menggunakan media sosial sebagai saluran untuk berkomunikasi. Ketika data berbicara akan tiga kata kunci ini: rasisme, media sosial, dan sepak bola di Inggris fakta yang tersaji mengerikan.

Pada pertandingan sepak bola sepanjang musim 2019-2020 yang mencakup wilayah Inggris dan Wales, 10 partai di antaranya terjadi tindak rasisme. Jumlah pelaku yang ditangkap oleh pihak kepolisian pun naik dua kali lipat dari musim sebelumnya. Dari 14 pelaku naik menjadi 35 orang walaupun di pertengahan musim 2019-2020 kompetisi sempat vakum karena pandemi dan berlanjut tanpa penonton.

Terdapat 3000 pesan bernada kasar yang ditujukan pada pemain yang berlaga di Premier League menurut data hasil studi dari PFA (organisasi yang menaungi pesepakbola Inggris). Fakta tersebut hanya mengambil kurang lebih dua pekan terakhir jelang liga berakhir. Media sosial, lagi dan lagi, menjadi medium tempat perundungan pemain secara daring dimana 56% nya tergolong perilaku rasisme.

Fakta dan data di atas kemudian menimbulkan pertanyaan besar disaat sepak bola dapat dinikmati secara mudah seperti saat ini: mengapa semakin banyak kasus rasisme di sepak bola Inggris saat media sosial begitu banyak digunakan?

Media Sosial yang Membuka Ruang Untuk Rasisme

Alasan mengapa semakin banyak tindakan rasisme di sepak bola Inggris justru saat teknologi semakin maju dengan media sosialnya, barangkali, perlu ditarik mundur dengan melihat si pengguna itu sendiri. Ya, manusia, sebagai komponen penting pengguna teknologi, punya wewenang untuk menjadi pemakai yang bijak. Namun, kenyataan yang terjadi seringkali tak demikian.

Perlu dipahami juga bahwa laku tak terpuji bahkan cenderung kasar di media sosial oleh para fans sepak bola di Inggris ini, suka tidak suka, masih terpapar akan pengaruh hooliganisme. Para penikmat sepak bola yang saban hari selalu mendukung klub kebanggaanya di tribun, menurut apa yang mereka yakini dengan pandangan hooliganismenya, punya hak untuk menghardik sang pemain kala bermain buruk.

Sehingga, dengan apa yang terjadi secara daring di media sosial, ketika ujaran kebencian yang dekat dengan rasisme muncul, ini semua adalah kepanjangan dari apa yang sebenarnya sudah terjadi di pinggir lapangan.

Media sosial bisa dikatakan membuka lebar-lebar peluang makian bernada rasis. Merujuk dari penelitian yang dilakukan oleh Suler (2004), ketika online, mudah saja bagi siapapun untuk bebas berkata-kata, karena tak perlu identitas atau biasa disebut anonim. Maka tidak ada beban bagi si pelaku karena apa yang mereka lakukan sulit untuk ditelusuri.

Sifatnya yang terbuka dengan siapa saja boleh bergabung turut menjadikan media sosial sebagai alat yang ampuh untuk menyebarkan ujaran kebencian. Hasil studi berjudul “Racism, Football Fans, and Online Message Board: How Social Media has Added a New Dimension to Racist Discourse in English Football” menunjukkan rasisme tumbuh subur secara daring karena telah menemukan media yang tepat. Sifat para suporter bal-balan, yang bergerak secara komunal, amat terbantu akan media sosial.

Namun sayang, merujuk pada penelitian Cleland (2014), pemanfaatanya justru untuk menyebarluaskan pesan berantai yang bernada kebencian, hingga kelewat batas sampai menyinggung ras dan warna kulit.

Temuan lain dari penelitian Cleland tadi juga semakin menegaskan ruang terbuka yang seperti disediakan oleh media sosial. “Seorang suporter bahkan tak perlu harus menang dalam duel terbuka jika ingin mendapat pengakuan di era media sosial seperti saat ini. Bahkan mereka yang sehari-hari tak dianggap oleh masyarakat menemukan momentumnya. Mereka dengan mudahnya membalaskan dendamnya dengan mengejek tanpa ada rasa takut untuk dihakimi” ujarnya dalam wawancara yang dilansir The Guardian.

Apa yang terjadi di media sosial dengan dampak negatifnya bagi pesepakbola yang kian mudah untuk dirisak perlu untuk mendapat perhatian serius. Tindakan nyata dari pada pandemen sepak bola menjadi kuncinya.

Perlunya Tindakan Tegas untuk Menghentikan Aksi Rasisme melalui Media Sosial 

Tindakan dari para stakeholder sepak bola Inggris amat sangat diperlukan untuk mengikis sirkulasi rasisme melalui media sosial. Asosiasi dan klub butuh untuk terjun langsung, melakukan upaya yang nyata, untuk setidaknya mengirimkan pesan bahwa mereka peduli akan hal ini.

Jika hal ini terus dibiarkan, dampak yang terjadi akan merugikan bagi bal-balan Inggris sendiri. Rashford yang dikenal vokal dengan pendapatnya telah menyindir kondisi ini: “Hanya waktu yang akan membuktikan bahwa situasi telah berubah dan berhasil diperbaiki. Namun kondisi ini tak kunjung berubah dalam beberapa tahun terakhir”, ujarnya seperti dilansir The Guardian.

Peran kesebelasan, sebagai yang paling dekat dengan pemain, tentu wajib untuk ambil bagian dalam upaya melindungi dari ujaran rasisme dari media sosial. Langkah paling mudah adalah memberikan pernyataan bahwa mereka memiliki pandangan yang sama bahwa Tindakan rasis harus ditendang jauh dari sepak bola. Untuk langkah yang lebih tegas, klub bisa melacak si pembuat onar dengan untuk kemudian diberikan hukuman.

Kesebelasan harus punya posisi dalam penggunaan media sosial itu sendiri sebagai upaya melawan narasi tindakan rasisme daring yang muncul. Hal inilah yang sudah sering dijumpai ketika pemainya dijadikan sasaran dari tindakan mengejek bernada SARA. Tim Premier League, melalui akun media sosial resminya, mengeluarkan statement yang mengecam keras ujaran rasisme tersebut.

Upaya sebuah klub untuk melacak siapa dibalik makian rasis yang ditujukan ke pemainya, barangkali, masih menjadi barang yang langka di kasta tertinggi sepak bola Inggris. Belum banyak tim yang tergerak untuk menelusuri pelaku agar rasa jera itu muncul.

Chelsea adalah salah satunya yang berani ambil tindakan tegas menghukum suporternya sendiri. The Blues melarang tiga fansnya untuk hadir ke stadion sebagai hukuman atas ulah rasis berupa nyanyian kepada Mohamed Salah. Apa yang dilakukan Blackpool lebih tegas lagi. Mereka berani melaporkan pelaku kepada kepolisian setelah pemainnya, Nathan Byrne, menerima ejekan bernada rasis di Twitter sebagai sebuah aksi ujaran kebencian.

Sebagai pemangku kebijakan, pemerintah dan asosiasi juga punya tanggung jawab moral untuk merespons aksi rasisme di media sosial. Merekalah yang punya otoritas dan wewenang untuk memagari dan memberikan perlindungan agar kasus ini tak semakin besar memberikan dampak negatif.

Langkah awal sudah dilakukan oleh pemerintahan Inggris dengan FA sebagai asosiasi sepak bola yang menaungi. Hal ini tergambar dari cuitan yang dikeluarkan oleh Menteri yang menaungi urusan digital, budaya, media dan olahraga di Britania Raya; Oliver Dowden. Dowden merespons dengan kasus rasis yang menimpa Axel Tuanzebe adalah hal yang sangat keji dan harus segera dihentikan. Tak main-main, sebagai pihak yang berwenang untuk membuat regulasi, Dowden juga berniat untuk membuat peraturan agar para perusahaan media sosial di UK untuk lebih transparan dengan apa yang terjadi di platform mereka.

Tentu tidak ada perhatian yang lebih berharga dibanding dukungan dari sesama pemain. Sebagai rekan sejawat, tentu penting untuk bisa saling berbagi rasa mendukung bagi mereka yang terdampak aksi rasisme. Selain itu, pemain juga harus vokal bersuara, terutama apabila mereka yang jadi korban, agar ujaran kebencian bernada rasis di media sosial dapat dihentikan.

Solidaritas yang kuat dicontohkan oleh Sulley Muntari dan Kevin Prince Boateng. Keduanya pernah sama-sama menjadi korban dari makian bernada rasisme. Melalui Twitter, baik Muntari dan Boateng sama-sama bersepakat untuk terus memberikan pesan bahwa sepak bola ada untuk semua.

Pun apa yang dilakukan oleh Harry Maguire dan Raheem Sterling. Keduanya menunjukkan rasa solidaritas sebagai seorang Englishmen yang perlu direplikasi oleh masyarakat Inggris secara keseluruhan.

Sebagai kapten United, Maguire merasa perlu untuk bersuara untuk melindungi beberapa rekan setimnya yang jadi sasaran tembak bernada rasis kala The Red Devils bermain buruk. “Sepertinya setiap pengguna media sosial harus punya surat izin layaknya mengemudi agar mereka memakainya dengan hati-hati”, ujar bek Man United ini begitu kesal akan apa yang sempat menimpa Pogba dan Tuanzebe.

 
 
 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Raheem Sterling x 😇 (@sterling7)

Sterling juga memilih untuk bersuara ketika ada sosok pemain muda yang disudutkan dengan pemberitaan yang bernada rasis. Kali ini justru media Inggris yang memanfaatkan platformnya untuk menyudutkan talenta muda Man City, yang kebetulan “berbeda” dalam hal warna kulit. “Saya tak habis pikir dengan masyarakat hari ini yang begitu rasis. Berikanlah pemberitaan yang fair kepada siapapun, termasuk para pemain muda yang sedang dalam proses meniti karir”, tulis pemain sayap City ini di akun Instagramnya.

Di sepak bola Inggris, rasisme telah bertumbuh bak sebuah siklus yang terus berulang, apalagi dengan hadirnya media sosial. Butuh pemahaman universal dan kesadaran bersama bahwa rasisme perlu ditendang jauh-jauh keluar dari sepak bola.


TAG: Rasisme Sepakbola Marcus Rashford Premier League Sosial Media






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI