REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Redupnya Karier Adriano


Hamdani M pada 2022-01-15 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Ivan Cordoba, rekan satu kamar Adriano di Inter Milan pernah menyebutnya sebagai perpaduan antara Ronaldo Nazario dan Zlatan Ibrahimovic. Lari cepat, fisik yang kuat, dan tendangan geledek, itulah Adriano Leite Ribeiro. Tidak ada pemain belakang yang berani sesumbar jika yang dihadapi adalah Adriano. Semua tahu betul bagaimana kualitas sepakbola bocah Favela ini. 

Adriano mewarisi bakat alami sepakbola khas orang-orang Brasil. Bukan hanya bakat dalam arti fisik, tapi juga mental mereka. Mental positif, juga negatif. Semangat bertarung, tidak kenal rasa takut, dan menikmati setiap detik sentuhan dengan bola adalah sebagian mental positif yang diwarisi Adriano. Hal lain yang ia warisi dari karakter pesepakbola Amerika Latin, minum-minum sampai mabuk berat, nongkrong di bar hingga larut hingga tak terkontrol. Mental negatif dalam definisi sepakbola modern. 

Adriano kecil rela menempuh perjalanan jauh dengan kendaraan bus umum hanya untuk datang ke tempat latihan. Ia rela makan seadanya demi bisa masuk ke dalam sekolah sepakbola. Keluarganya lahir dan tumbuh dari kawasan miskin di Brasil. Mereka rela patungan uang demi Adriano. Demi bakat sepakbola yang ada pada kakinya, demi membeli sepatu Adriano, sepatu yang akan ia gunakan untuk berlatih sepakbola.  

Sempat berposisi sebagai bek kiri saat berada di level akademi, pelatihnya kemudian mengubah Adriano menjadi seorang striker. Posisi inilah yang kelak menjadi jalan hidupnya. Di posisi barunya itu, Adriano terus tumbuh. Dia di kemudian hari dikenal luas oleh dunia sebagai striker yang khas dengan tendangan roketnya. Adriano segera menjelma menjadi salah satu predator paling berbahaya di dalam kotak penalti lawan.


sumber foto: football-first

Salah satu momen paling berharga dalam karier sepakbola Adriano adalah saat ia berada di partai final Copa Amerika. Berada di partai final sebagai anak muda yang berasal dari keluarga miskin, ditepuk tangani oleh ribuan orang, dan yang paling penting, menghadapi musuh bebuyutan Brasil dalam sepakbola, Argentina, adalah tekanan sekaligus kebahagiaan yang tiada tara bagi Adriano.

Dalam pertandingan yang dihelat pada 25 Juli 2004 silam, Adriano membuktikan dirinya adalah kaisar, seperti yang diteriakkan oleh pendukung Inter kepadanya. Adriano Lah yang menjadi penentu nasib Brasil di final kala itu. Menit ke 87, dalam posisi sama kuat 1-1, Argentina membuat kejutan. Mereka berhasil menambah gol. Skor berubah 2-1 untuk keunggulan Argentina. Hanya ada tiga menit dan sedikit tambahan waktu yang tersisa.

Pertandingan seperti berakhir saat melihat para pemain Argentina merayakan gol mereka. Final sudah seperti menjadi milik Argentina. 

Saat publik Brasil mulai putus asa, Adriano tampil. Ia bertarung, menolak menyerah. Hingga akhirnya bola umpan direct memantul ke arah kaki kirinya. Dalam sepersekian detik, insting predator Adriano menuntunnya, tembak. Seluruh dunia tahu apa yang terjadi jika Adriano melakukan tembakan dengan kaki kiri. Kiper terbaik dunia pun berpikir dua kali untuk menghalaunya. 

When God put his hand in our lives, we cannot explain it.

Begitulah Adriano meyakini setiap hal-hal besar yang terjadi dalam hidupnya. Termasuk soal golnya di masa tambahan waktu saat menghadapi Argentina di partai final 2004. Adriano menyelamatkan Brasil. Adriano berhasil menghadiahkan kebahagiaan kepada seluruh warga Brasil. Dialah, seperti yang didengungkan pendukung Inter, The Emperor.

 

Setelah Kematian Ayahnya

Hanya berselang 9 hari setelah keberhasilan Adriano mengantarkan Brasil menjuarai Copa Amerika, sebuah kabar buruk menghujam jantungnya. Saat itu Adriano sudah berada di Italia. Ia sudah bergabung bersama kawan-kawannya di Nerazzurri. Sebuah panggilan telepon masuk ke dalam ponselnya, dari tanah kelahirannya seseorang mengabarkan, ayah Adriano, Almir, meninggal dunia.

Adriano yang kuat, Adriano yang berjiwa petarung, seketika berubah. Ia berteriak keras. Ia menangis sejadi-jadinya. “Aku tidak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Sampai sekarang aku masih merinding jika mengingatnya.” Kenang Zanetti tentang hari ketika Adriano menerima kabar kematian ayahnya. 

“Saya bermain sepakbola, itu untuk keluarga saya. Saya mencetak gol, itu untuk keluarga saya,” pengakuan Adriano suatu ketika. Dan di saat ayahnya sudah tidak ada lagi, Adriano juga kehilangan tempat untuk mempersembahkan semua capaiannya dalam sepakbola. Ia kehilangan gairah bermain sepakbola.

Baginya, sejak kematian ayahnya, sepakbola tak pernah lagi sama. Sejak hari kematian ayahnya, Adriano bukan hanya kehilangan hasratnya bermain sepakbola, ia juga tidak mampu mengontrol diri, terutama di luar lapangan.

Adriano menjadi liar. Ia kerap pergi ke klub malam. Ia mabuk-mabukan sampai melewati batas. Ia bermain perempuan. Berita tentang Adriano setelah kematian ayahnya yang banyak menghiasi surat kabar bukan lagi soal bagaimana ia mencetak gol atau berapa banyak gol yang ia hasilkan dalam pertandingan semalam, namun berita tentang kegiatan Adriano mabuk-mabukan, dan nongkrong di bar hingga larut.  

Tidak banyak orang yang tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadanya. Ia menghilang tiba-tiba. Satu-satunya yang dengan yakin diketahui publik adalah Adriano tidak lagi mencetak gol. 

Dia juga pergi ke lapangan dengan setengah hati. Pada awalnya ia masih bisa memenuhi setiap tuntutan di atas lapangan. Namun semakin hari ia semakin jauh dari gaya hidup pemain sepakbola profesional. Pada masa kelam ini, pikirannya hanya dipenuhi dengan satu kata, pulang. 


sumber foto: inter

Pada awalnya Adriano coba mengatasi kerinduannya akan rumah dengan cara bolak-balik Italia-Brasil. Perjalanan antar benua itu sering ia lakukan hingga akhirnya gelagatnya tercium oleh presiden klub, Massimo Moratti. Moratti yang tahu betul tekanan yang dialami oleh Adriano hanya memastikan apa yang dia rasakan. Tidak baik-baik saja, jawaban Adriano saat itu. Karena itulah kemudian Adriano dipersilahkan pergi meninggalkan Giuseppe Meazza. 

Ini bukan hukuman. Massimo Moratti tidak sedang marah dan menghukum Adriano. Moratti mengerti betul bagaimana rasanya tidak bahagia, dan tidak ada yang perlu diperjuangkan terlalu keras jika tidak ada kebahagian di dalamnya.

Semenjak Ayahnya meninggal, Adriano memang tak pernah mencintai sepakbola sebagaimana awal ia mengenalnya. Semua cinta, penghormatan dan tepuk tangan yang ia terima saat berada di Italia tidak lagi bisa ia nikmati. Adriano mengatakan, percuma menjadi raja tanpa ada perasaan sebagai Adriano di dalamnya.

Ketika keadaan di Italia semakin sulit diatasi oleh Adriano, ia memutuskan untuk kembali ke Brasil. Tempat di mana ia dilahirkan, tumbuh dan mendapatkan banyak cinta. Di tempat asalnya, Adriano kembali menemukan cinta pada sepakbola, meski tidak sama persis sebagaimana sebelumnya.

Tidak ada perasaan asing dan sendirian yang ia alami saat berada di Brasil. Tidak ada tekanan hebat dari industri yang harus ia penuhi. Dia Berlari, menendang bola, mencetak gol, lalu berpesta minuman keras hingga larut malam. Tidak ada media yang mencemooh dirinya sekejam yang ia terima saat berada di Eropa. Di Brasil ia tidak lagi kaya dengan uang, tapi kaya akan kebahagiaan. Dan Itulah arti sepakbola bagi orang Brasil, tak terkecuali Adriano.


TAG: Adriano Tokoh






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI