REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Regulasi Baru dan EPA Liga 2 yang Terancam Gagal


M Bimo pada 2020-03-13 jam 12:00 PM


Kumparan/Ferry Tri Adi


Kompetisi Liga 2 2020 baru akan mulai menapaki perjalanannya pada 13 Maret 2020. Siap nggak siap, 24 tim peserta harus mulai berjuang untuk dapat promosi ke Liga 1 musim depan. Kata berjuang di sini benar-benar harus digaris bawahi. Oleh karena mulai musim ini mereka tidak punya banyak kesempatan dari musim sebelumnya untuk bisa meraih tiket promosi.

PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi telah merilis regulasi baru pada beberapa waktu lalu. Regulasi ini terbilang unik karena tidak ada lagi babak 8 besar seperti musim-musim sebelumnya. Padahal selama tiga musim terakhir, babak 8 besar selalu dipertandingkan.

Liga 2 2020 nantinya akan diikuti oleh 24 tim yang akan dibagi ke dalam dua grup, barat dan timur. Masing-masing grup diisi oleh 12 tim. Lalu apa regulasi baru yang membuat Liga 2 2020 ini bakal berbeda dari musim sebelumnya?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, musim ini tidak ada babak delapan besar. Hal ini menjadikan pemuncak dan runner up dari masing-masing grup berhak langsung melaju ke final. Dengan demikian, tim pemuncak dari tiap grup langsung bisa dipastikan promosi ke Liga 1. Jadi, juara grup otomatis promosi.

Satu tiket promosi tersisa akan diperebutkan oleh para runner up. Mereka akan melakoni perebutan tempat ketiga yang juga jadi laga sengit untuk merebut satu tiket promosi tersisa.

Perubahan regulasi ini sebenarnya punya dampak positif terhadap iklim kompetisi, karena mampu sedikit meminimalisir kecurangan atau pengaturan pertandingan yang sering terjadi pada klub yang berebut tempat ke babak delapan besar.ruang gerak pecundang sepak bola akan semakin terbatas karena klub yang bisa ia permainankan tidak sebanyak ketika dengan format delapan besar. 

Dari gambaran ini sebenarnya sudah kebayang bagaimana ke-24 klub Liga 2 harus mati-matian menjaga konsistensi kalau ingin promosi. Kalau biasanya berada di peringkat tiga atau empat grup masih aman karena masih bisa berjuang di delapan besar. Sekarang sudah tidak lagi. Juara grup atau runner up harga mati sebagai penjaga asa naik kasta.

Namun di sisi lain, regulasi baru ini punya dampak yang bisa dibilang positif. Pertama, mempersingkat waktu kompetisi. Yah, buat apa kompetisi lama-lama kalau kebanyakan dramanya. Tapi amit-amit, musim baru tentunya harus didukung dengan semangat baru untuk berbenah.

Dampak positif lainnya, regulasi ini akan membuktikan tingkat kesiapan, kelayakan dan kualitas sebuah tim yang nantinya bakal promosi ke Liga 1. Kalau kelihatannya tidak siap, tidak layak dan tidak cukup berkualitas tapi bisa promosi, fix klubnya bejo alias cuma beruntung.

Sejauh ini hanya itu perubahan yang terjadi di regulasi Liga 2 2020. Termasuk soal urusan klub yang terdegradasi masih sama seperti musim sebelumnya. Klub yang menempati peringkat 10, 11 dan 12 dari masing-masing grup bisa mengucapkan selamat tinggal dan silahkan mundur alon-alon.

Beberapa waktu lalu juga, sempat beredar kabar soal Elite Pro Academy (EPA) yang akan diadakan untuk klub-klub Liga 2 pada musim ini. Wacana ini mulai menyeruak sejak PSSI menggelar rapat khusus dengan PT LIB akhir Januari lalu. Namun pada pertemuan rapat manajer klub Liga 2 yang diadakan belum lama ini, tampaknya beberapa manajer klub keberatan dengan rencana diadakan EPA Liga 2 dengan kelompok usia U-20 atau U-18.

Dengan penolakan dari beberapa klub, bisa saja EPA Liga 2 jadi batal terlaksana. Padahal sejak diselenggarakan EPA Liga 1 pada musim lalu, dampaknya sangat positif sekali, lho. Ini jadi pembinaan yang bagus untuk pemain muda Indonesia. Scout Timnas juga nggak perlu lagi blusukan nyari pemain muda di lapangan bertanah merah. Lirik saja pemain binaan EPA ini dulu, blusukan kemudian kalau belum puas.

Lalu bagaimana baiknya ketika rencana EPA Liga 2 terancam batal, tetapi kabarnya beberapa klub sudah menyiapkan skuat U-18 untuk mengikuti kompetisi kelompok usia tersebut?

Kalau memang rencana awal dan niatnya untuk pembinaan pemain muda, nggak ada masalahnya dong kalau klub yang sudah terlanjur siap untuk diadu dengan EPA Liga 1. Terlebih ketika berkaca pada musim lalu, sebenarnya jumlah match EPA Liga 1 masih terhitung sedikit dan kurang.

Dengan penambahan klub dari Liga 2, LIB sebagai operator dapat memutar kompetisi dengan format Liga yang punya sistem degradasi dan promosi. Nantinya, perjalanan tim EPA tidak akan tergantung pada tim seniornya. Misalnya, PSMS Medan yang terdegradasi nasibnya akan bisa berbeda dengan tim EPA PSMS yang mungkin lebih berprestasi.

Dengan kesiapan yang dimiliki beberapa klub Liga 2 muda, bisa juga menambah jumlah pertandingan yang kurang di EPA Liga 1. Ide yang bagus, bukan? Entah nanti format kompetisinya bakal seperti apa, yang penting pembinaan pemain muda tetap jalan dan EPA Liga 1 dan Liga 2 bisa terintegrasi ke tim seniornya.

Jadi, apa pendapat kamu soal regulasi baru Liga 2 ini?


TAG: Liga 2 2020 Regulasi Epa Pembinaan Laga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI