REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Rencana Kotor Chile untuk Lolos Kualifikasi Piala Dunia 1990


Hamdani M pada 2021-09-17 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Semua terjebak dalam ketegangan. Ini adalah pertandingan hidup-mati. Menang berarti lolos, kalah, atau imbang berarti harus kehilangan impian dan kebanggaan. Hanya saja menang bukanlah hal yang mudah. Hal itu disadari oleh semua punggawa Timnas Chile. Para staf pun menyadari lawan mereka, Brasil adalah negara dengan tradisi sepakbola yang kuat. Mereka telah meraih juara tiga kali dalam  pesta sepakbola antarnegara di dunia itu. Sementara Chile, tak sekalipun meraihnya. Brasil di hadapan mereka bagai langit di hadapan bumi. Jauh berbeda.

Peluang Chile untuk mengalahkan Brasil memang masih ada. Menang berapapun akan membawa Chile melaju ke Italia. Dengan kemenangan itu tak kan ada gunanya kemenangan telak Brasil atas Venezuela sebelumnya. Pada dua partai menghadapi Venezuela, Brasil berhasil melesakkan enam gol tanpa balas pada pertemuan pertama, dan empat gol tanpa balas pada pertemuan kedua. Sementara Chile, berhasil mengumpulkan delapan gol dengan satu kali kebobolan dalam dua kali perjumpaan dengan Venezuela. 

Sebelum dikenal dengan format yang sekarang, format kualifikasi Piala Dunia di Amerika Selatan terbagi ke dalam dua grup. Brasil, Venezuela dan Chile tergabung dalam satu grup. Venezuela tergolong lemah dalam sepakbola. Maka persaingan hanya tentang Brasil atau Chile. Yang menjadi menarik atas persaingan ini, hanya dipilih satu negara dari setiap grup untuk datang ke Italia. Karena itulah, menjadi juara grup adalah hal yang wajib.

Sama-sama mengantongi dua kemenangan, dan imbang pada pertemuan pertama di kandang Chile, menempatkan kedua kesebelasan pada posisi berpeluang untuk terbang ke Italia, tempat penyelenggaraan Piala Dunia 1990. Poin mereka sama besarnya. Yang membedakan hanyalah produktifitas gol, yang membuat Brasil duduk di atas posisi Chile. Termasuk yang membuat semua terasa berat bagi Chile, pertandingan terakhir ini bakal diselenggarakan di Stadion Maracanã, Rio de Janeiro, Brasil.  

Stadion ini penuh sejarah. Ada tragedi Maracana 1950. Saat seantero Brasil dibuat menangis oleh nasib sial yang mereka alami. Kalah 2-1 pada partai final Piala Dunia. Tapi mengharapkan Brasil bernasib sial seperti saat mereka menghadapi Uruguay pada final Piala Dunia 1950 sama beratnya dengan mengharap kemenangan atas mereka pada pertandingan terakhir ini.

Baca Juga: Tidak Ada Maaf bagi Moacir Barbosa

Karena itulah berbagai cara dilakukan oleh Timnas Chile, termasuk hal-hal yang tak terbayangkan sebelumnya dalam dunia sepakbola. Aktor utamanya, Roberto Rojas, penjaga gawang Chile.

Atas nama cinta, semua sah dilakukan. Rahwana yang cinta buta akan kecantikan Shinta menunjukkan cintanya atas istri Rama itu dengan jalan menculiknya. Romeo dan Juliet berani melanggar batas-batas tradisi kerajaan saat keduanya sedang dilanda jatuh cinta. Cinta juga menuntun banyak orang melakukan hal konyol. Romeo-Juliet rela mati agar dianggap saling setia. Majnun rela menciumi sandal Layla karena cinta. Perbuatan yang tak rasional bagi umumnya manusia, tapi mungkin bagi cinta.

Cinta pada sepakbola juga lah yang membimbing Rojas untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran yang konyol. Ini bukan perbuatan menyuap wasit, seperti yang biasa dilakukan oleh para kesebelasan kelas pecundang. Mereka menyiapkan taktik khusus di luar lapangan demi mewujudkan kecintaan mereka pada sepakbola.

Apa yang dilakukan Rojas justru terdengar aneh, tak pernah terpikirkan sebelumnya. Bahkan menjadi hal yang paling konyol yang pernah dilakukan sampai hari ini. Semua itu dilakukan demi menembus Piala Dunia 1990 Italia, demi  cintanya pada sepakbola.

 

Jalannya Pertandingan

Saat awal pertandingan berlangsung, tidak ada yang aneh dengan kedua kesebelasan. Brasil yang unggul selisih gol atas Chile, hanya butuh hasil imbang untuk mengamankan tiket mereka ke Italia. Meski begitu, mereka terus bermain menyerang. Rojas tak mau kalah. Berposisi sebagai penjaga gawang, ia berhasil membuat berbagai penyelamatan penting. Sampai babak pertama berakhir, skor masih imbang tanpa gol. Hasil yang cukup bagi Brasil. Chile masih memiliki kesempatan.

Babak kedua baru berjalan empat menit, keadaan berubah. Memanfaatkan kesalahan Rojas, Careca berhasil merebut bola dan mencetak gol. Brasil unggul 1-0. Brasil yang secara skill pemain memang lebih unggul daripada Chile kembali menambah keunggulan melalui gol. Skor menjadi 2-0, yang semakin memberatkan langkah Chile.

Dalam keadaan yang semakin tertekan, pertunjukan Chile dimulai. Pada menit ke-67 sebuah flare api tiba-tiba melayang dari bangku penonton dan jatuh di sekitaran posisi Rojas. Dia langsung tersungkur di lapangan. Terdapat darah mengalir dari kepalanya. 

Para pemain Chile mendatanginya. Tim medis datang, ia ditandu keluar lapangan. Para pemain Chile memprotes. Tidak mungkin pertandingan dilanjutkan jika keselamatan nyawa mereka terancam. Dengan alasan demi keamanan mereka pergi keluar lapangan. menolak melanjutkan pertandingan.

Setelah dirasa gagal merayu para pemain Chile untuk melanjutkan, wasit yang memimpin pertandingan tersebut akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan pertandingan. Chile berada di pihak yang diuntungkan.

Para pemain Brasil terhentak. Ini seperti hujan yang turun tiba-tiba. Tanpa mendung tanpa petir, dan mereka tidak punya kuasa untuk menolaknya. Mereka tau, pertandingan yang tidak selesai ini berpotensi menjadi alasan untuk mencoret mereka dari daftar peserta Piala Dunia. Ricardo Gomes, kapten Brasil saat itu mengaku terkejut dengan kejadian tersebut. Harapannya untuk ikut berpartisipasi pada gelaran Piala Dunia menjadi hilang. Selayaknya orang yang terhentak, mereka tidak bisa melakukan apa-apa.

Tuduhan pelanggaran kepada pihak Brasil dalam menyelenggarakan pertandingan menjadi delik yang akan menghalangi mereka datang ke Italia. Ini hampir pasti terjadi. Kecuali jika pihak Brasil mampu membuktikan bahwa apa yang terjadi pada Rojas bukanlah kesalahan mereka.

 

Melukai Diri Sendiri dengan Silet

Ketakberdayaan publik sepakbola Brasil segera menemui malaikat penolongnya. Sebelum mereka benar-benar terhalang dari partisipasi pada Piala Dunia Italia, diskusi di antara fotografer di pinggir lapangan segera memberi asa. Mereka yang paling dekat dengan posisi Rojas menyebutkan bahwa mustahil kembang api mengenai Rojas. Ia berada sekitar satu meter dari lokasi jatuhnya kembang api. 

Tapi tanpa bukti, asumsi fotografer di pinggir lapangan hanyalah sebuah isu. Dari semua fotografer yang bertugas di pinggir lapangan, Ricardo Alfieri, fotografer asal Argentina ini berhasil mendapatkan gambar yang mengabadikan Rojas. Gambar yang membuktikan, bahwa kembang api tidak jatuh mengenai Rojas.

Federasi sepakbola Brasil yang membutuhkan bukti, meminta hasil foto Alfieri. Dengan ancaman tidak bisa meninggalkan Brasil dan harga sebesar 5000 dolar akhirnya foto itu berhasil Brasil dapatkan. Selembar gambar yang akan mengantarkan mereka pada pesta sepakbola di Italia. 


sumber foto: ABC

Hukuman berbalik pandangan. Kali ini menatap tajam Rojas dan Timnas Chile. Rojas pun mengakui kesalahannya. Ia menyimpan silet di sarung tangannya. Dengan silet itulah ia melukai dirinya hingga berdarah.

Pertandingan itu sendiri dianggap sebagai kemenangan Brasil dengan skor 2-0. Chile, karena kecurangan mereka dilarang untuk berpartisipasi pada kualifikasi Piala Dunia 1994 Amerika.

Diduga rangkaian aksi kotor ini sudah direncankan terlebih dahulu. Rojas yang dianggap bersalah mendapat hukuman larangan bermain sepakbola seumur hidup. Hal yang sama juga berlaku untuk pelatih mereka, Orlando Aravena dan dokter tim, Daniel Rodriguez. 

Tapi kemudian pada 2001 larangan itu dicabut. Rojas dikontrak oleh Sao Paulo untuk duduk sebagai pelatih kiper. Klub yang diperkuat Rojas semasa ia menjadi pemain. Salah satu penjaga gawang yang lahir dari didikannya adalah Rogerio Ceni, penjaga gawang dengan gol terbanyak di dunia. Lalu pelempar kembang api, perempuan muda 24 tahun, di kemudian hari dengan memanfaatkan ketenarannya atas kejadian ini untuk menjadi model majalah Playboy. 


TAG: El Maracanzo Roberto Rojas Piala Dunia Laga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI