REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Review FIFA 21, Career Mode Makin Penuh Fitur dan AI yang Tambah Canggih


M Bimo pada 2020-10-15 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Tahun ini menjadi tahun yang berat bagi siapapun. Termasuk ranah sepakbola yang turut terkena dampak Covid-19. Tak cuma di dalam lapangan, game soal sepakbola juga ikut merasakan dampaknya. Konami memutuskan untuk menunda rilis Pro Evolution Soccer (PES) generasi berikutnya akibat pandemik global ini. Seperti diketahui, PES 2021 yang rilis pada September lalu hanya season update saja.

Tapi sepertinya Electronic Arts (EA) selaku pengembang game FIFA tak mau mengikuti keputusan rivalnya. Pada 6 Oktober kemarin, EA resmi merilis FIFA 21. Pada generasi baru FIFA ini, banyak pemainnya yang mengharapkan perubahan dari FIFA 20 yang terasa monoton. Tapi tentu saja, berbagai penambahan dan pengurangan fitur masih membuat para penggemar merasa ada yang kurang dari FIFA 21. Ada tanggapan positif dan negatif.

FIFA 21 hadir dengan beberapa fitur baru. EA masih mempertahankan mode Volta yang mana, beberapa segmen pemainnya, mengaku cukup dibuat nostalgia dengan game FIFA Street yang cukup populer pada platform PlayStation 2. Para single player juga harusnya senang karena di FIFA 21 ini, EA lebih memoles fitur-fitur baru di Career Mode yang nanti akan dijelaskan secara detail di bawah.

EA juga menghadirkan beberapa perubahan pada core mechanics gameplay FIFA 21. Pergerakan pemain terlihat lebih mulus dan lebih nyaman ketika dimainkan. Salah satu perubahan yang mencolok ialah soal off-player movement. Di FIFA 20, pergerakan pemain tanpa bola terlihat sangat monoton dan malah cenderung statik. Pemain yang tidak memegang bola atau calon penerima bola cenderung diam saja atau tidak otomatis bergerak mencari ruang untuk mendapatkan umpan. Bahkan jika dilihat di radar, para pemain hanya bergerak menuruti garis pergerakan default saja.

Sebagai informasi, pergerakan pemain statik seperti ini sebenarnya baru terlihat di FIFA 20. Sejak FIFA 18 dan 19 rasanya tidak pernah semonoton itu. Tapi tampaknya kali ini EA kembali memperbaiki core mechanics gameplay mereka. Di mana, para AI semakin pintar membaca permainan.

Kamu bisa coba sendiri ketika melihat semua pemain yang dijaga oleh pemain bertahan, mereka tidak akan hanya diam saja. Melainkan akan bergerak mencari ruang sambil menunggu mendapatkan operan. Kemampuan mencari ruang ini pun beberapa disesuaikan dengan kemampuan asli sang pemain. Kamu bakal merasakan pergerakan berbeda, khususnya dari pemain tengah, ketika mereka mencari ruang bebas.

Namun, core mechanics gameplay FIFA 21 juga tak luput dari komentar negatif, khususnya soal bertahan. Di FIFA kali ini, pemain bertahan tampak mudah sekali ditembus dengan umpan-umpan terobosan. Apalagi jika umpan tersebut dilakukan oleh pemain dengan nilai passing tinggi seperti Kevin de Bruyne atau Bruno Fernandes.

Nah, ini dia yang bikin pemegang kontroler yang sedang pasang mode bertahan bakal dibuat frustasi. Kamu pasti akan menemukan kesulitan jika sudah berhadapan dengan serangan balik. Oleh karena jika menerima umpan terobosan sekali, hampir pasti pertahanan kamu akan jebol.

Gak cuma bek, penjaga gawang di FIFA 21 ini juga terasa cukup bloon. Bagi kamu yang sudah memainkannya, pasti akan merasakan bagaimana kiper gampang sekali dijebol. Pergerakan reflek mereka hampir selalu telat dalam mengantisipasi tendangan. Apalagi ketika dalam keadaan 1 on 1, sulit rasanya untuk kiper dapat memenangkan duel tersebut.

Selebihnya, core mechanics gameplay baru yang EA terapkan di FIFA 21 ini cukup nyaman untuk dimainkan. Termasuk pergerakan dribbling pemain yang dibuat lebih realistis. Pemain dengan nilai dribbling rendah akan terasa berat pergerakannya dibanding yang nilainya tinggi. Kamu harus mengandalkan skill atau gerakan faint untuk bisa melewati pemain jika pakai pemain yang nilai dribbling-nya rendah.


Satu yang nggak boleh tidak dibahas, di FIFA 21 ini kamu bisa lebih banyak mencetak gol melalui sundulan kepala. Sepertinya ada perubahan sendiri pada heading di FIFA kali ini. Mengingat di FIFA 20, untuk menciptakan gol lewat heading dirasa sangat susah. Ya, gak sih?

Career Mode semakin kompleks

Cukup dengan masalah gameplay, bahasan selanjutnya yang cukup menarik ialah fitur terbaru yang dimasukkan EA pada mode-mode di dalam game. Tidak ada yang perlu dibahas mengenai Football Ultimate Team (FUT), sebab mode ini dari tahun ke tahun memang tak ada perubahan yang spesifik. Tapi ada mode baru di FUT FIFA 21 yakni mode co-op alias kamu bisa bertandem dengan teman mengendalikan satu tim. Bagi para single player, mode ini boleh dicoba sebagai selingan agar tidak terasa menjadi single fighter melulu.

Tampaknya kini EA mulai menaruh perhatian pada career mode. Sebab kali ini, ada beberapa tambahan fitur yang cukup signifikan pada mode tersebut. Kini, pemain akan banyak naik nilai-nilai atributnya berdasarkan apa yang dicapai di pertandingan kompetitif. Ini dirasa lebih masuk akal karena sebelumnya, nilai atribut pemain jika dibandingkan justru bisa lebih banyak naik dari merampungkan porsi latihan-latihan yang ada.

Perubahan ini dirasa cukup masuk akal sebab memang pemain akan lebih berkembang, selain dari latihan, tetapi juga berdasarkan jam terbang di pertandingan. Setuju?

Nah, untuk career mode sebagai manajer, FIFA 21 tampak mengusung fitur seperti Football Manager. Kamu benar-benar bisa mengatur tim secara detail kali ini. Tak cuma lima pemain yang kamu bisa training, melainkan seluruh tim bisa di-setting porsi latihannya. Pelatih juga bisa melatih pemainnya di posisi baru dan kamu sebagai pelatih, bisa mengatur porsi latihan secara mendetail setiap harinya dalam satu pekan.

Selain itu, EA juga menerapkan gameplay baru pada match simulator di career mode sebagai manajer. Fitur baru ini memungkinkan kamu menonton pertandingan secara simulasi seperti yang kamu dapatkan di game Football Manager. Peningkatan ini dirasa cukup signifikan dan disukai para pemainnya. Mungkin bakal menjadi fitur baru terfavorit pada career mode FIFA 21.

Volta kembali hadir di FIFA 21 ini. Mode streetball ini mempunyai cerita baru yang cukup seru. Meski begitu, Volta levelnya belum bisa dibandingkan dengan Journey yang membawa pengalaman tersendiri bagi para pemain setianya. Namun, Volta tetap mempertontonkan keindahan sisi lain sepak bola mulai dari skill, kepribadian pemain hingga barang-barang fashion yang bisa ditemukan di dalamnya.

Rating diprotes langsung oleh pemain aslinya

Seperti pada edisi-edisi terdahulunya, FIFA selalu menampilkan rating pemain sesuai dengan rangkuman atribut yang dimiliki dari para pemain tersebut. Rating ini sebagai pembeda kualitas dari satu pemain ke pemain lain. Nilai rating juga didasarkan dari kemampuan pemain profesional tersebut di dunia nyata.

Penilaian ini juga yang ditunggu-tunggu oleh para pemain profesional. Tentu mereka pengin tahu penilaian kualitas mereka di mata pengembang game yang telah mempopulerkan game ini selama bertahun-tahun.

Superstar Barcelona, Lionel Messi menjadi pemegang nilai rating paling tinggi di FIFA 21 yakni 93. Kemudian diikuti oleh Cristiano Ronaldo dengan Rating 92, sementara Robert Lewandowski, Neymar, Kevin De Bruyne and Jan Oblak masing-masing diberi rating 91 oleh EA.

Tapi ternyata, gak semua pemain puas dengan penilaian EA pada FIFA tahun ini. Pada September lalu, Romelu Lukaku mengunggah cuitan sindiran keras kepada EA karena hanya diberi rating 85. Dalam cuitan tersebut, ia merasa penampilannya sejak musim lalu bisa melebihi penilaian rating itu. Lukaku merasa EA kurang transparan soal rating pemain yang ditampilkannya.

Romelu Lukaku tak sendiri, pemain bertahan Manchester City, Aymeric Laporte juga menyindir keras karena rating yang ia dapatkan di FIFA 21. Laporte kurang puas ketika EA menuliskan atribut pace yang dimilikinya hanya sebesar 63 saja. Ia menyindir dengan mengunggah dua foto, pertama ekspresi bahagianya ketika menunggu EA meluncurkan rating pemain di FIFA 21. Lalu foto kedua, ia menampilkan ekspresi sedih ketika tahu atribut pace-nya cuma dinilai sebesar 63 saja.

Pemain sepak bola lain yang mengomentari soal rating ini ialah Pierre-Emerick Aubameyang. Tahun ini, ia mendapat rating 87, di mana ada penurunan satu poin dari edisi lalu. Striker Arsenal ini hanya berkomentar dengan emoji tertawa guling-guling banyak sekali. Sepertinya sih ini tertawa sarkastik kepada FIFA dan EA, ya.

Tapi tentu tak semua pemain protes akibat rating yang mereka dapatkan. Virgil van Dijk misalnya, ia lebih memilih berkomentar netral dengan menanyakan kepada pengikutnya di Twitter tentang rating 90 yang ia dapatkan termasuk buruk atau bagus.

Rekan setim van Dijk, Trent Alexander-Arnold bahkan puas dengan rating 87 yang EA berikan untuknya di FIFA 21. Kepada BBC, ia mengaku senang dan berpendapat kalau rating itu terbilang cukup tinggi. Dia hanya tidak puas dengan poin atribut shooting yang cuma dinilai 66 saja.

Untuk tahun ini, EA sepertinya masih harus terus merombak perangkat lunaknya agar FIFA menjadi game yang terus disukai para penggemarnya. Terlepas dari itu, FIFA 21 tetap menjadi game yang sangat menyenangkan. Ada beberapa faktor yang membuat game ini lebih baik dari FIFA 20 dan ada juga yang tidak.

FIFA 21 tersedia di berbagai platform seperti PC, PlayStation 4, Xbox One, PlayStation 5 dan Xbob Series X/S. Bagi pengguna PC, kamu bisa membeli game ini di Steam atau Origin dengan harga Rp850.000 untuk Standart Edition. Bahkan kalau kamu sudah dan mau berlangganan EA Play Pro, bisa mengunduh FIFA 21 secara cuma-cuma alias gratis.


TAG: Fifa21 Game Sepakbola Laga Electronic Arts






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Formasi WM dan Perkembangannya

3

Sejarah Formasi: 4-2-3-1, Gelandang Bertahan dan Pemain Nomor 10

4

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

5

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

LEGENDA HARI INI


Card image cap
23 October

Pada tanggal 23 Oktober 1973, pemain Derby County menuntut kepada manajemen agar Brian Clough diperkerjakan kembali sebagai pelatih. Sebuah surat yang ditandatangani oleh setiap anggota tim utama diserahkan kepada ketua klub setelah Clough dan asistennya mengundurkan diri.


IKUTI KAMI