REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Ritual Bola Suku Maya


M Bimo pada 2022-01-26 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Sepakbola memiliki perjalanan sejarah panjang, sebelum akhirnya menjadi olahraga paling populer di dunia. Ada berbagai penelitian yang menyebutkan bahwa sepakbola sudah dimainkan sejak ratusan tahun lalu. Inggris dan China menjadi dua negara yang disebut mempopulerkan olahraga ini.

Saat ini, banyak aspek yang mencakup dunia sepakbola. Selain olahraga, sepakbola juga memiliki kepentingan dalam aspek hiburan, bisnis, dan bahkan politik. Jika membuka lembar sejarah jauh ke belakang, jauh sebelum adanya sepakbola modern, sepakbola merupakan sebuah ritual yang serius daripada sekadar hiburan semata.

Paling tidak itu yang dilakukan oleh suku Aztec, suku yang berasal dari Mesoamerica yang kini dikenal sebagai Meksiko dan Amerika Utara. Mereka telah memainkan sepakbola sejak 3.000 tahun yang lalu.

Mereka membangun peradaban dimulai dengan mengeringkan tanah berawa di sekitar Danau Texcoco. Banyak masyarakatnya yang bertahan hidup dengan cara berburu, memancing, bertani, dan berkebun. Nah, salah satu aktivitas berkebun mereka ini menjadi cikal bakal terbuatnya bola yang bisa memantul. Sebelumnya, bola kebanyakan dibuat dari bahan yang keras dan berat.

Banyak masyarakat suku Aztec yang menghasilkan getah pohon karet dari kebunnya. Setelah dicampur dengan berbagai komponen, orang Aztec berhasil membuat bola yang elastis.

Rupanya bola ini dianggap lebih penting daripada sekadar benda bulat yang bisa memantul saja oleh mereka. Dalam praktiknya, bola ini digunakan pada permainan untuk berbagai acara adat seperti upacara keagamaan, festival publik, dan pertunjukan teater.

 

Ritual saat Membuat Pemukiman Baru

Sama seperti sepakbola pada umumnya, suku Aztec juga memiliki lapangan tersendiri untuk memainkan bola. Arkeolog menemukan lapangan sepakbola yang digunakan suku Aztec di Chiapas, daerah pantai pasifik Meksiko Tenggara dan dataran tinggi Oxaca. Lapangan ini disebut salah satu yang tertua dan dibangun pada sekitar 1650 SM-1400 SM.

Sementara itu, permainan bola pertama kali ditemukan dimainkan oleh peradaban Olmec yang banyak tinggal di pantai teluk Meksiko di sekitar kawasan Vera Cruz, antara 1500 SM-1200 SM. Di sekitar peradaban Olmec ini, arkeolog lebih banyak menemukan bekas lapangan bola yang dibangun di sekitar bangunan-bangunan bersejarah.

Berbeda dengan lapangan sepakbola pada umumnya, lapangan bola khusus itu dikenal dengan nama Tlachtli atau Tlachco. Lapangan bola ini kebanyakan berbentuk huruf "I", meskipun lapangan lain ditemukan ada bentuk dengan variasi lain.


sumber foto: David Mallin

Di kanan dan kiri lapangan dibangun tembok setinggi 2,5 meter-3,3 meter. Lapangan biasanya dibuat dengan panjang 30 meter-60 meter. Lapangan itu juga memiliki dua gawang, bentuknya seperti cincin yang terbuat dari batu dan penuh ukiran gambar hewan sebagai hiasannya.

Biasanya suku Aztec membangun lapangan bola ketika mereka memulai membuat pemukiman baru. Sebelumnya, mereka akan membangun kuil untuk dewa yang mereka agungkan, Huitzilopochtli. Kemudian di sebelah kuil itu, baru lah mereka bangun lapangan bola. Permainan bola yang dilakukan oleh para Aztec ini dikenal dengan nama ulama, dan itu menjadi permainan atau ritual yang diprioritaskan.

Seperti yang disebutkan, bola pada permainan ini dibuat dari karet. Meski bolanya bisa memantul, tapi tetap saja punya massa yang berat dan keras. Berat bola yang dihasilkan beratnya bisa mencapai 4 kilogram.

Oleh karena itu, cara memainkan bolanya tidak ditendang atau disundul karena terlalu berbahaya. Mereka hanya diperbolehkan menyentuh bola dengan pinggang, bokong, tangan, paha, atau pundak untuk mengarahkannya ke pemain lain atau ke gawang. Para pemain juga diwajibkan memakai alat pengaman seperti helm, sarung tangan, dan pengaman di bagian kaki.

 

Pengorbanan Nyawa sebagai Hukuman Kekalahan

Ulama yang ditemukan oleh suku Aztec ini lebih dari sekadar permainan biasa. Permainan ini selalu digunakan pada ritual-ritual sakral di kehidupan sosial, politik, hingga agama para masyarakatnya. Raja-raja Aztec bahkan disebut pernah menggunakan permainan bola sebagai pengganti perang sampai mendapatkan hak berkuasa.

Judi sudah menjadi hal biasa yang selalu ada di kala permainan bola berlangsung. Penonton yang menonton langsung di lapangan, rela mengorbankan apa saja demi bisa berjudi. Mulai dari harta, hewan ternak, hingga diri mereka sendiri yang dipertaruhkan. Ya, mereka rela jual diri untuk berjudi dan melunasi utang.

Ada sejarah menarik yang menceritakan bahwa ada pengorbanan nyawa pada permainan bola suku Aztec. Meski ada beberapa peneliti yang percaya dan tidak percaya, namun di lapangan El Tijin, ditemukan relief yang menggambarkan seorang pemain ulama, masih lengkap memakai alat-alat pengaman, sedang dieksekusi dengan cara dadanya dibelah dan jantungnya diambil.

Beberapa yang mempercayai menyebutkan, pengorbanan nyawa ini adalah hukuman bagi para pemain yang kalah dalam permainan. Namun hingga kini, fakta tersebut sebenarnya belum benar-benar terungkap dan masih menjadi pro dan kontra.

Ulama sendiri cukup terkenal di dalam mitologi suku Maya. Sebab, pahlawan kembar mereka yang bernama Hun Hunahpu dan Vuqub Hunahpu memiliki cerita kelam pada akhir hayat mereka.

Hun Hunahpu dan kembarannya, Vuqub, diundang ke dunia bawah Maya (Xibalba) untuk memainkan ulama oleh penguasa Xibalba. Namun, ternyata itu hanyalah siasat dari sang penguasa untuk menangkap Hun dan Vuqub. Pada malam sebelum pertandingan, mereka diberi tantangan untuk menyalakan cerutu dan obor sepanjang malam tanpa boleh padam.

Nahasnya mereka gagal dalam tantangan ini, penguasa Xibalba memutuskan untuk memberi hukuman kepada Hun dan Vuqub berupa eksekusi mati. Kepala Hun dipenggal dan dijadikan di sebuah pohon yang memiliki cerita mitos cukup terkenal.

Datangnya kolonis Spanyol ke benua Amerika cukup mempengaruhi eksistensi permainan ulama. Permasalahan yang terjadi antara pihak Spanyol dan suku Aztec, membuat mereka yang disebut para penakluk ini melakukan aksi balas dendam terhadap aksi kanibalisme penduduk Aztec.

Penduduk Aztec diceritakan menangkap dan membunuh ratusan manusia, 15 orang di antaranya berkebangsaan Spanyol, untuk dijadikan tumbal pada ritual pengorbanan manusia. Di bawah komando Hernan Cortes, Spanyol menghancurkan ibu kota Kekaisaran Aztec sebagai bentuk pembalasan dendam.

Kuil dan lapangan bola juga turut dihancurkan dan dibakar. Kekalahan Meksiko atas peperangan ini pun membuat eksistensi ulama terkubur selama lebih dari 3.000 tahun.


TAG: Aztec Ulama Laga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI