REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Riwayat Keluarga Gudjohnsen dalam Sepakbola Islandia


Hamdani M pada 2021-09-10 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Seorang anak muda, belum genap berusia 20 tahun di bench Timnas Islandia bersiap memasuki lapangan. Ia membetulkan kaus kakinya, mengajuk jauh ke lapangan, mencoba membaca permainan. Ini pertama kali baginya masuk gelanggang sebagai pemain timnas senior. Ada ketakutan di wajahnya. Ketegangan pada sentuhan pertama, hal yang maklum bagi seorang pesepakbola.

Di sebelah pemuda itu, asisten pelatih Islandia, Eidur Gudjohnsen datang memeluk, mencium kepalanya. Ada gemetar di raut muka Eidur. Ia menggigil. Ketegangan yang ada padanya lebih nampak dari yang ada pada pemain tadi. Persis seperti kepala suku bangsa Viking yang hendak melepaskan anaknya berburu. Takut gagal, takut terluka, takut tidak sesuai dengan ekspektasi. Maklum, yang dicium Eidur adalah anaknya sendiri. Andri Lucas Gudjohnsen. 

Eidur paham betul bahwa menjadi pemain sepakbola bukan hal yang mudah untuk ditanggung. Benturan keras, tekel kasar, serta makian penonton di pinggir lapangan ibarat binatang buas rimba dan dentuman ombak di lautan. Tanpa kekuatan yang kokoh, pergi ke tengah-tengahnya hanyalah sebuah bunuh diri.

Seperti bangsa Viking yang mendapat jatah makan besar saat berhasil mendapatkan binatang buruannya, kehormatan dalam sepakbola hanya didapat saat berhasil memenangkan pertandingan. Akan ada banyak tepuk tangan yang didapat, akan ada banyak lagu yang dinyanyikan. Hanya saja telah menjadi kesadaran kolektif bangsa viking, bahwa tidak ada perburuan besar yang terasa mudah, begitulah yang disadari Eidur. Dia paham, tidak ada kemenangan dalam sepakbola yang mudah didapatkan. 

Ada banyak cemoohan dan cacian, yang mungkin lebih banyak dirasa daripada hormat dan puja-puji. Karena itulah Eidur gemetar saat melepas Andri masuk lapangan. anak yang kemarin sore baru ia timang kini harus bertarung di lapangan.

 

Riwayat Sepakbola Islandia

Bagi masyarakat Islandia, sepakbola menjadi olahraga yang paling diminati. Permainan kolektif yang menjadi ciri khas olahraga ini, memiliki kemiripan dengan psikologi masyarakat Islandia yang memang berjiwa sosialis, dan hampir tidak ada kesenjangan, khas Skandinavia. Meski menjadi olahraga yang paling diminati, tapi sepakbola Islandia tidak memiliki prestasi yang membanggakan. 

Maklum, sepakbola Islandia harus bertarung dengan cuaca. Liga mereka, hanya berlangsung dari bulan Mei sampai September. Oktober sampai April, cuaca Islandia dikenal ekstrim. Demi menghindari siksaan cuaca, sepakbola Islandia diliburkan pada bulan-bulan tersebut. Para pemain sepakbola Liga Islandia biasanya memiliki pekerjaan lain selain sepakbola pada saat libur kompetisi. Jika ada pemain yang ingin membangun karier profesional mereka dalam sepakbola, merantau adalah solusinya. Dalam tanah perantauan itulah, Islandia membangun kekuatan sepakbolanya.  

Sepakbola Islandia termasuk yang terbelakang di kawasan Eropa. Mereka tidak pernah beranjak dari tingkat bawah Eropa. Bahkan pada 2012, mereka pernah berada di peringkat 131 FIFA. Ini menjadi prestasi terburuk mereka dalam sejarah. 

Sepakbola Islandia mulai menampakkan geliat kebangkitan saat gelaran EURO 2016. Itu adalah EURO pertama yang mereka ikuti. Catatan Islandia di EURO 2016 pun dinilai membanggakan. Mereka berhasil menembus babak delapan besar, mengalahkan tim yang sarat akan sejarah sepakbola, Inggris. Dua tahun kemudian, mereka berhasil menembus Piala Dunia. Meski hanya sampai pada babak penyisihan grup, capaian ini masih jadi yang terbaik dalam sejarah sepakbola mereka.

 

Riwayat Trah Gudjohnsen

Andri bukanlah yang pertama tampil sebagai pesepakbola dalam tradisi keluarga Gudjohnsen. Sebelum ia, ada ayahnya, Eidur Gudjohnsen, juga kakeknya, Arnor Gudjohnsen.

Arnor adalah bintang Anderlecht. Ia menjadi ujung tombak yang membawa Anderlecht berjaya di tahun 1985-1990. Selain Anderlecht, ia juga sempat mencicipi ganasnya Liga Prancis dengan membela Bordeaux. Sementara itu catatannya bersama Timnas Islandia mencapai 73 laga dan berhasil menyumbangkan 14 gol. 

Di penghujung karier Arnor Gudjohnsen, ia berkesempatan tampil satu lapangan bersama sang anak, Eidur Gudjohnsen. Yang terasa emosional, debut sang anak di Timnas Islandia ditandai dengan masuk menggantikan dirinya. Ayah keluar, anak masuk. Takdir seperti tidak mengizinkan trah Gudjohnsen kosong dari daftar sebelas skuat utama timnas Islandia.

Saat Eidur muda mengawali debutnya untuk timnas, ia menerima perlakuan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan pada Andri, menciumi pipi, dan ketakutan. Eidur mengenang hal itu di kemudian hari. Ia menyebut debut timnas selalu mendebarkan. Tapi ayahnya, terlihat lebih gugup dari pada dia. Dengan rasa gemetar yang sama besarnya dengan apa yang ia alami saat melepas Andri ke lapangan.


sumber foto: transfermarkt

Prestasi Eidur lebih baik dari ayahnya. Baik pada level klub maupun timnas. Setelah berhasil menunjukkan sinar bersama PSV Eindhoven, Eidur juga berhasil membawa Chelsea juara Liga Inggris dua musim berturut-turut. Saat ia hengkang ke Barcelona, ia adalah bagian dari skuat Pep Guardiola yang menjuarai Liga Champion 2009. Eidur juga mampu memberi penampilan yang lebih baik di level timnas ketimbang sang ayah. 26 gol dari 88 laga bersama Islandia sampai saat ini masih menjadi rekor terbaik yang belum tersentuh oleh pemain Islandia manapun. 

Keberadaan darah Gudjohnsen sempat vakum beberapa tahun dari daftar pemain timnas Islandia. Eidur yang beranjak tua belum memiliki penerus yang mampu menembus timnas. Putra pertamanya, Sveinn Aron hanya bermain sepakbola di klub-klub tingkat rendah dan sering menghabiskan waktu dengan status pinjaman.

Tapi ketiadaan trah Gudjohnsen di daftar pemain Islandia tidak bertahan lama. Awal September 2021, pada kualifikasi Piala Dunia Qatar 2022 melawan Rumania, Andri melanjutkan tradisi keluarga Gudjohnsen.

Andri lahir di London, ketika ayahnya (Eidur) masih terdaftar sebagai pemain Chelsea. Andri mengikuti saat sang ayah memutuskan menuju Camp Nou. Ia menimba ilmu di akademi Barcelona. Cukup lama berada di sana dan digadang bakal jadi bintang, Andri kemudian mengambil keputusan yang membuat banyak fans Blaugrana gigit jari. Ia memilih Real Madrid sebagai tempat berkarier. 

Andri sempat masuk dalam daftar 60 pemain sepakbola muda berbakat yang dirilis The Guardian, bersama nama-nama yang kini mulai bersinar, Eduardo Camavinga, Fabio Silva, Ansu Fati, Pedri dan Giovanni Reyna. Berposisi sebagai penyerang tengah, Andri memiliki atribut yang dibutuhkan sebagai seorang monster di depan gawang lawan. Tubuhnya besar, kuda-kudanya kuat, khas Islandia.

Tahun ini namanya masuk dalam daftar pemain yang diikutsertakan oleh Carlo Ancelotti untuk mengarungi Liga Champion. Ia memang bukan pilihan utama di skuat Real Madrid. Pada posisi itu Madrid biasa mengandalkan penyerang kawakan, Karim Benzema. Ada juga Luca Jovic yang kembali dari masa pinjaman. Tapi hal itu bukan berarti tertutup kesempatan bagi Andri. Setidaknya pengalaman merasakan atmosfer kompetisi sepakbola antar klub tertinggi di Eropa tersebut. pengalaman yang berharga bagi mental bertandingnya.

Pengalaman bertanding penting bagi Andri karena hari ini harga diri keluarga Gudjohnsen dipertaruhkan pada kakinya. Sekilas, ia memiliki masa depan yang cemerlang. Tapi terlalu dini untuk menilai kemampuannya hari ini. Perjalanannya masih baru dimulai. Ia masih harus banyak belajar, sesekali mungkin juga perlu terluka.


TAG: Gudjohnsen Islandia Tokoh






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI