REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Riwayat Pemain Serie A di Akademi Militer


Hamdani M pada 2020-11-17 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Selama ini pesepakbola dan militer selalu dipandang sebagai dua hal yang saling berseberangan. Ini bukan karena sepakbola bermusuhan dengan militer, atau karena adanya saling ganggu di antara mereka, kecuali mungkin untuk kasus Eropa Timur yang anak-anak kecilnya harus bermain sepakbola di bawah dentuman peluru. Kisah tentang saling bertentangan sepakbola dan militer adalah gambaran tentang betapa berbedanya karakter pemain sepakbola dan prajurit militer. 

Pada beberapa kejadian, khususnya di luar lapangan hijau, pemain sepakbola dikenal sebagai orang yang seenaknya sendiri, kurang disiplin. Sementara prajurit militer sebaliknya, mereka dididik untuk jadi sangat patuh, utamanya pada komandan mereka dan memiliki disiplin tinggi. Pernyataan Nicklas Bendtner tentang pengalamanya bermain di Serie A adalah gambaran sederhananya. Pemain-pemain top semacam Andrea Pirlo dan Gianluigi Buffon kedapatan merokok di toilet. 

Tapi anggapan tentang semua itu kiranya perlu disingkirkan terlebih dulu ketika melihat sejarah para legenda Serie A yang pernah menjalani wajib militer. Ya, sebelum tahun 2005, Italia masih memberlakukan wajib militer bagi warganya. Termasuk yang terikat dengan kewajiban di dalamnya adalah pesepakbola profesional. 

Sejarah tentang wajibnya pendidikan militer di Italia tidak bisa dilepaskan dari Pietro Teulie, Menteri Perang Cisalpina (cikal bakal Italia) saat itu. Pada 18 Mei 1801, ia mengajukan sebuah undang-undang kepada pemerintah Republik Cisalpina yang berisi tentang wajib militer bagi warga negara yang berada di rentang usia antara 18 hingga 36 tahun, dengan pengecualian anak tunggal, janda dengan anak-anak dan cacat. Hanya berselang satu tahun, Agustus 1802, Undang-undang ini dinyatakan resmi berlaku. Sejak saat itu, Undang-undang ini resmi berlaku dengan berbagai revisi di dalamnya hingga benar-benar dicabut pada 2005. 

Meski program pemerintah adalah tentang kewajiban militer, namun para pemain sepakbola profesional yang ada di dalam sana tidak kemudian fokus belajar dan berlatih tentang perang. Di akademi wajib militer, mereka masih tetap menjalaninya dengan sepakbola. Lengkap dengan seorang pelatih di dalamnya. 

Salah satu kejadian yang akan diingat publik tentang sepakbola militer ini adalah saat pemain-pemain profesional seperti Del Piero dan Fabio Cannavaro turut serta aktif dalam turnamen ini. Hal ini merupakan kebanggan tersendiri bagi para militer.

Gennaro Olivieri, pelatih timnas militer Italia saat itu, menyadari salah satu anak asuhnya adalah pemain profesional Serie A. Bahkan saat masuk ke pendidikan wajib militer, Del Piero sudah berstatus sebagai bintang Serie A. Olivieri yang mengagumi sang pemain, menyadari bahwa membiarkan Del Piero terlalu lama berada di lapangan adalah tindakan konyol dan mengandung banyak bahaya, terutama bagi kemungkinan cideranya sang pemain. Hal ini yang membuat ia berpikir untuk  tidak banyak memainkan Del Piero. “Aku akan memberimu waktu sepuluh menit untuk bermain” rencana awal Olivieri untuk Del Piero.Tapi di luar dugaan, Del  Piero justru meminta lebih banyak menit bermain kepada Olivieri. “Lima menit lagi Tuan”, terus saja demikian pinta Del Piero setelah ia merasa telah melewati lima menit kesempatan bermain hingga ia terus berada di lapangan sepanjang pertandingan.

Dengan bermodal pemain-pemain profesional tersebut Italia berhasil mencatatkan diri sebagai tim nasional militer paling sukses dalam gelaran piala dunia militer. Meski kisahnya agak berbeda justru ketika masa Del Piero di sana.

Dengan pemain sekelas Del Piero dan Cannavaro di dalamnya, Italia berhasil membungkam Belanda empat gol tanpa balas, mengalahkan Senegal delapan gol dengan tanpa balasan dan Libya dengan empat gol berbalas dua. Meski kemudian catatan ini menimbulkan banyak tanda tanya karena mereka kalah dari Siprus. Sebenarnya Italia sempat unggul melalui gol dari Del Piero, namun Italia akhirnya harus mengakui kemenangan Siprus dengan skor akhir 2-1. 

Pertandingan dengan hasil akhir yang mengejutkan ini diceritakan banyak dibumbui hal-hal yang agak kurang biasa terjadi pada sepakbola. Salah satunya adalah catatan bahwa Italia harus mengakhiri laga dengan 7 pemain. Salah satu pemain yang harus pergi meninggalkan lapangan hijau lebih cepat tersebut adalah Del Piero. Sebuah catatan agak ganjil mengingat selama menjadi pemain profesional Del Piero merupakan pemain yang kalem dan jarang melakukan pelanggaran berat. Dalam catatan karir profesoionalnya pun Del Piero dikeluarkan hanya sebanyak dua kali. Masak iya, Del Piero dikeluarkan oleh wasit hanya dalam pertandingan yang (mungkin) tidak seemosional pertandingan-pertandingan di kompetisi Serie A.  

Selain Del Piero, nama lain yang juga menjadi sorotan adalah Fabio Cannavaro. Pemain yang dijuluki tembok berlin oleh pendukung Italia ini juga menjadi satu diantara tiga pemain militer Italia yang saat menghadapi Siprus diusir dari lapangan. Dua pemain top dunia ini gagal membawa Italia menjuarai turnamen dua tahunan yang diselenggarakan sejak 1946.

Kisah yang panjang mengenai riwayat pesepakbola Italia di dunia militer ini kemudian menyisakan satu pertanyaan, apakah ini berarti warga Italia dengan latar belakang pemain sepakbola profesional hanya diwajibkan sebatas bermain sepakbola dan tidak ada pelatiahn militer? Tidak juga. Mereka tetap mendapat kesempatan berlatih militer, meski dengan porsi di bawah rata-rata. Bagaiamana Del Piero mengenang masa-masanya selama berada di sana adalah gambaranya. 

“Saya hanya berpura-pura menembak. Dalam hidup saya, saya hanya mencoba menembak sekali, dengan merpati tanah liat: bencana. Aku tidak akan pernah menjadi pemburu hebat seperti Baggio. " Demikian salah satu kenangan Del Piero selama ia menjalani wajib militer. Meski ada kesan kurang serius dalam menjalani latihan wajib militernya, toh mereka tetap memiliki kewajiban untuk itu. 

Ada idola Del Piero yang mencapai titik kemiliteran yang jauh di atasnya, Roberto Baggio. Cara Baggio menghabiskan waktu dengan cara berburu memang telah membuat Del Piero cemburu. Dan hal yang lebih disayangkan Del Piero, ia gagal memanfaatkan kesempatan belajar menembak selama dia berada di akademi militer.   

Ada standard ganda militer Italia. Satu sisi mereka ingin tetap patuh pada kebijakan wajib militer, satu sisi mereka ingin melindungi pemain bintang tim nasional mereka dari cidera. Karena itu, ketika para pemain yang sudah dalam kategori profesional, apalagi bintang tidak terlalu dituntut untuk terlalu serius dalam memainkan sepakbola militer. Meski pada perkembanganya para pemain itu sendiri lah yang menginginkan bermain sepakbola di sana. Minat mereka sama besarnya dengan bermain di Piala Dunia. 

 Saat Piala Dunia 2006 dan Italia pulang sebagai juara dunia, saya membayangkan, orang-orang yang paling bangga adalah skuat militer Siprus. Karena meski mereka bukan pemain profesional, tapi mereka punya catatan luar biasa. Mengalahkan pemain yang pernah juara dunia. 


TAG: Serie A Militer Italia






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI