REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Robbie Fowler Bersama Buruh Pelabuhan Liverpool


Hamdani M pada 2021-12-03 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Dalam sejarahnya, sepakbola bersentuhan erat dengan kaum buruh. Arsenal, yang kini jadi klub besar di dunia dengan segudang prestasinya bermula dari sekumpulan buruh Royal Arsenal yang bermain sepakbola. Tetangganya dalam satu kota, West Ham United, juga didirikan oleh kaum buruh Thames Ironworks. Dari sepakbola perempuan, ada Dick Kerr Ladies yang didirikan oleh kaum buruh dari perusahaan yang sama. Di Indonesia juga ada, Pardedetex, Krama Yudha Tiga Berlian, Petrokimia Putra, dll. Karena itulah, tidak heran jika para buruh adalah jantung dari sepakbola. 

Dari para buruh, keuangan yang dibutuhkan untuk mendanai klub sepakbola mengalir. Bahkan para pesepakbola sendiri, mereka adalah buruh. Mereka adalah buruh yang bekerja untuk pemilik klub, untuk para investor yang mendanai klub.

Selama mereka terdaftar sebagai pemain profesional yang bermain untuk klub tertentu, mereka akan terikat dengan kontrak dan mendapatkan gaji, mereka juga dituntut untuk memberikan tenaga dan pikiran terbaik mereka. Jika tidak, siap-siap dipecat. Sebuah jalan hidup yang lekat dengan kaum buruh.

Identitas buruh ini berlaku untuk semua pesepakbola, tanpa terkecuali. Tak peduli betapapun terangnya sinar mereka di lapangan. Ini pula yang berlaku dan dirasakan oleh Robbie Fowler, mantan pemain andalan Liverpool.

Di lapangan dia adalah bintang, dipuja-puja banyak fan. Setiap ia mencetak gol, nyanyian penuh semangat meneriakkan namanya menggema memenuhi Anfield. Tapi Fowler sadar, ia adalah buruh, dan akan selalu menjadi bagian dari mereka. 

Jiwa buruh yang ada dalam nadinya berontak saat para buruh di kota Liverpool mengalami pemutusan hubungan kerja yang tidak adil. Fowler ikut bersuara melalui jalan yang bisa ia lakukan.

 

"Lahirnya" Robbie Fowler

Dunia mengenalnya sebagai legenda sepakbola. Dia bukan hanya legenda milik Liverpool, ia adalah salah satu striker yang paling dibanggakan di seluas tanah Britania Raya. Sepanjang kariernya Fowler gagal mempersembahkan gelar Liga Primer Inggris untuk Liverpool, akan tetapi pencapaiannya secara individu adalah capaian yang sulit digapai oleh rata-rata pemain setelahnya. 

Dekade 1990-an menjadi masa kejayaan Fowler. Pada dekade ini ia debut, dan menaklukan banyak bek dan penjaga gawang dengan nama besar.

Salah satu momen yang dikenang dari Fowler adalah saat Liverpool menghadapi Arsenal pada 28 Agustus 1994 dalam lanjutan Liga Primer Inggris. Fowler yang saat itu masih berusia 19 tahun berhasil mencetak gol ke gawang Arsenal. Bukan hanya satu, tapi tiga.

Yang terasa lebih indah, tiga gol Fowler tersebut ia lakukan dalam tempo 4 menit 33 detik. Capaian yang kemudian menjadi rekor Liga Inggris selama 21 tahun sebelum akhirnya dipecahkan oleh Sadio Mane pada 2015.

Kedekatan Fowler dengan kaum buruh dapat kita lacak dari tempat ia berasal. Pemain yang lahir pada 9 April 1975 ini berasal dari Toxteth, Liverpool. Daerah asal Fowler ini terkenal miskin dan banyak buruh kelas bawah. Mereka bekerja sebagai buruh kasar di pelabuhan yang ada di kota Liverpool.

Latar belakang keluarga dan lingkungan sekitar inilah yang mendekatkan Fowler dengan para buruh. Terlepas dari semua pencapaiannya di atas lapangan, Fowler tetaplah manusia biasa dengan jiwa buruh yang menggelora dalam dadanya.

 

Pembelaan Fowler atas Nasib Kaum Buruh

Pada bulan September 1995, para buruh memprotes kebijakan kerja yang dibuat oleh perusahaan bongkar muat barang di pelabuhan yang berbasis di Bootle, Torside.

Atas kejadian ini, 80 orang dipecat dari perusahaan. Sebagai bentuk simpati sesama buruh, terjadi mogok kerja besar-besaran dari para buruh Mersey Dock and Harbour Company. Perusahaan tak terima, 329 buruh diberhentikan dengan paksa. Dari sinilah masalah buruh di pelabuhan Liverpool semakin membesar.  

Sempat terjadi negosiasi beberapa kali, namun tidak pernah ditemui kata sepakat. 329 buruh yang dipecat sempat mendapat tawaran uang pesangon sebesar 10.000 Euro dari perusahaan. Namun tawaran tersebut ditolak oleh para buruh.

Sepanjang tahun 1996 demo menuntut keadilan atas pemecatan sepihak itu terus dilakukan. Di penghujung tahun 1996, sempat muncul angka 28.000 Euro sebagai uang pesangon, tapi kesepakatan masih belum juga ditemukan. Dalam keadaan yang semakin tegang antara buruh dengan perusahaan, Fowler pun ikut merasa geram. Ia menunjukkan aksi dukungannya. 

20 Maret 1997 Pada pertemuan melawan SK Brann dalam lanjutan Liga Champion, Steve Mcmanaman dan Robbie Fowler membuat kesepakatan atas tindakan yang akan mereka lakukan sebagai bentuk dukungan terhadap para buruh yang menjadi korban PHK di kota Liverpool.

Mereka bersepakat untuk menyatakan protes atas tindakan sewenang-wenang terhadap buruh tersebut dalam sebuah kaos. Kaos tersebut dikenakan sebagai pelapis bagian dalam jersey Liverpool yang mereka kenakan saat berlaga. Jadi, tidak terlihat saat sedang berlangsung pertandingan. 

Ada nasehat yang disampaikan oleh Mc Manaman kepada rekan satu timnya agar tidak menunjukkan kaos tersebut hingga peluit panjang ditiupkan. Saran Mc Manaman bukan tanpa alasan, kaos yang menunjukkan dukungan untuk para buruh dermaga di kota Liverpool adalah salah satu tindakan politis yang dilarang dalam aturan sepakbola.

Maka, untuk mengakali aturan itu, Mc Manaman menyarankan agar kaos pelapis itu diperlihatkan kepada publik hanya setelah laga usai, saat mereka bertukar baju dengan pemain lawan. Agar mereka terhindar dari hukuman. Kalaupun ada hukuman, itu tidak terlalu berat.

Tapi keadaan di lapangan seringkali tak sejalan dengan apa yang ada dalam pikiran. Demikian pula yang terjadi dengan rencana Mc Manaman.

Pertandingan terasa sangat emosional. Robbie Fowler, bermain gemilang. Ia berhasil mencetak gol keduanya malam itu dan memberi keunggulan tiga gol kepada Liverpool. Dalam selebrasinya, tangannya tak terkontrol. Ia lupa akan kesepakatan dengan Mc Manaman sebelum pertandingan. Jersey Liverpool yang ia kenakan diangkatnya ke atas. Jadi terlihat jelas ada pesan yang tertulis di kaos dalam Fowler.


sumber foto: football365

“Support the 500 Sacked doCKers.” “Dukung 500 buruh pelabuhan yang dipecat,” demikian pesan dalam kaos itu dituliskan. 

Terlepas dari cibiran orang yang menganggap Fowler telah melakukan iklan gratis terhadap CK(Calvin Klein) apa yang dilakukan oleh Fowler juga banyak mendapat sanjungan. Fowler berhasil mengajarkan pada dunia, bahwa pesepakbola tidak semestinya bersikap abai terhadap apa yang terjadi dengan lingkungan sosial di mana mereka berada. Pilihan sikap yang semakin jarang kita lihat akhir-akhir ini ada pada pemain sepakbola modern.


TAG: Robbie Fowler Buruh Liverpool Laga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI