REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Saadi Gaddafi Sang Anak Diktator


M Bimo pada 2020-11-26 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Libya punya sejarah yang kelam ketika dipimpin oleh Muammar Gaddafi yang dicap diktator. Di bawah kepemimpinannya, sering terjadi pertumpahan darah antara masyarakat dan tentara. Sikap monopolinya terhadap politik Libya membuat keluarga Gaddafi menjadi keluarga yang paling dibenci oleh orang-orang di negara Afrika Utara tersebut.

Sebagian besar anggota keluarga Gaddafi terjun ke politik. Tapi Al-Saadi Gaddafi, anak ketiga Muammar, ingin memilih jalan hidup yang berbeda. Dia memiliki minat dan passion yang kuat di olahraga khususnya sepakbola. Dia memulai karier profesionalnya pada 2000 di usia yang sudah menginjak 27 tahun. Waktu yang cukup telat bagi seseorang yang ingin berkarier secara serius di dunia sepakbola.

Al-Ahly Tripoli menjadi tim pertamanya. Di sana, ia didapuk menjadi kapten tim. Saadi juga adalah seorang kapten untuk timnas Libya medio 2000an. Mungkin penunjukkan itu lebih karena status dia sebagai anak dari politisi paling kontroversial di Libya.

Saadi begitu jatuh cinta dengan sepakbola Italia dan merupakan seorang Juventini. Dia bahkan membujuk sang ayah untuk membeli saham minoritas Juventus pada 2002. Dengan alasan kecintaannya tersebut, Saadi tentu saja bercita-cita bermain di Serie A suatu saat nanti.

Kesempatan itu benar-benar datang kepadanya pada 2003. Ketika itu Perugia dipimpin oleh Luciano Gaucci, pengusaha gila yang sering berselisih dengan federasi dan juga keputusannya yang sarat kontoversi. Salah satu yang paling diingat adalah ketika ia mencoret Ahn Jung Hwan dari Perugia. Alasannya sepele, sebab pemain asal Korea Selatan ini merupakan pencetak gol kemenangan Korea atas Italia pada Piala Dunia 2002.

Setahun setelah insiden itu, Gaucci kembali berulah. Ia mengabulkan angan-angan random di benaknya tentang merekrut anak diktator Libya untuk bermain di klubnya. Perekrutan ini pun menimbulkan tanda tanya besar. Saadi bukanlah pemain bintang di Al-Ahly Tripoli. Ia mungkin mencetak beberapa gol, tapi jumlahnya tidak cukup bagus untuk raihan striker tengah dalam jangka waktu tiga musim.

Kecurigaan langsung mengemuka, banyak orang yang tentu saja berpikir kalau Gaucci merekrut Saadi hanya karena nama dia sebagai anak dari Muammar Gaddafi saja, bukan karena bakatnya. Teori konspirasi banyak bertebaran, banyak yang menganggap perekrutan ini ada sangkut pautnya dengan politik Italia dan Libya.

Menurut laporan bleacherreport, anak Gaucci yang bernama Riccardo mengatakan kalau ayahnya memang dekat dengan para politisi Italia, terlebih dengan Silvio Berlusconi yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri. Logis jika perekrutan itu akan membawa keuntungan politik ke depannya.

Namun Riccardo menegaskan kalau membawa Saadi ke Perugia adalah murni ide dari sang ayah. Ia menyebutkan kalau Gaucci adalah orang yang haus akan perhatian. Ia tak segan untuk mengeluarkan keputusan kontroversi demi namanya atau klubnya disorot media. Terbukti setelah mendatangkan Saadi, Gaucci dan Perugia menjadi dua sosok yang selalu dibahas di koran dan televisi Italia. Selama sebulan, para jurnalis selalu memadati area latihan Perugia dan ini memang situasi yang Gaucci inginkan.

Pemain bau bawang dengan fasilitas hidup bak pemain bintang

Saudi tidak seperti pemain lainnya. Meski dia merupakan anak bawang di dunia sepakbola, namun fasilitas yang ia miliki selama di Italia mungkin mengalahkan pemain bintang pada masa itu. Fasilitas mewah yang ia dapatkan tentu saja bukan dari klub, melainkan fasilitas pribadi yang dia dapat dari keluarga.

Pemain muda Perugia, Emanuele Berrettoni membeberkan apa-apa saja yang Saadi punya di Italia. Pemain bernomor punggung 19 ini disebut memiliki helikopter dan jet pribadi di bandara Perugia. Ke mana pun Saadi pergi dengan Lamborghini kuningnya, akan ada banyak petugas yang mengawalnya.

Polisi setempat berpatroli dan menyisir tempat latihan Perugia sebelum sesi dimulai, pengamanan ini baru terjadi hanya ketika Saadi bergabung ke klub. Penyisiran juga dilakukan di setiap stadion tempat Perugia bermain. Jangan tanya di mana Saadi tinggal, dia memesan seluruh lantai atas Brufani Palace Hotel, akomodasi bintang lima dengan pemandangan kota menakjubkan yang paling mewah dan mahal di sana.

Meski dengan harta yang begitu banyak, Saadi dikenal sebagai pribadi yang rendah hati di mata teman-teman setimnya. Ia tak ragu untuk berbagi fasilitas akomodasi yang ia punya. Bahkan Saadi pernah membolehkan Salvatore Fresi, pemain baru Perugia berstatus pinjaman, untuk menempati salah satu kamar di hotel mewah tersebut sebagai tempat tinggalnya.

Pada satu waktu, striker ini pernah menerbangkan seluruh skuat Perugia ke pesta di Monte Carlo untuk merayakan tawaran Libya yang mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010. Sebaik itu Saadi Gaddafi di mata teman-temannya di Perugia.

Bagaimanapun kerja kerasnya, Saadi tidak dilahirkan sebagai pesepakbola

Al-Saadi Gaddafi membayangkan dirinya adalah Alessandro Del Piero. Ia melakukan segala cara demi mencapai kelas pemain Juventus itu seperti meminta wejangan kepada sesama striker sampai menyewa mantan pelari profesional asal Kanada, Ben Johnson untuk melatih fisiknya. Kabarnya Diego Maradona juga turut menjadi pelatih pribadi Saadi. Namun kabar ini belum terverifikasi faktanya.

Tapi tak dapat dipungkiri, Saadi tidak dilahirkan sebagai pesepakbola. Dia bagai seorang 'anak muda' yang kecemplung di dalam kelompok usia dan kelompok level yang lebih tinggi. Dia mungkin memberikan 100 persen percobaan, tapi fisiknya tetap tidak mampu.

Saadi sangat jarang dibawa pelatih Serse Cosmi bahkan hanya untuk menghangatkan kursi cadangan. Kemudian malah masalah yang menimpanya usai dinyatakan positif nandrolone saat pemeriksaan doping rutin. Belum sempat debut, Saadi telah diskorsing selama tiga bulan.

Kesempatan tampil perdana terjadi ketika Perugia menghadapi Juventus. Ini adalah pertandingan impian Saadi. Ia diturunkan sebagai pemain pengganti pada 15 menit terakhir. Apa yang diharapkan dari seorang striker yang turun di 15 menit terakhir pertandingan? Saadi hanya beberapa kali menyentuh bola dan terjatuh sekali ketika ditekel Pavel Nedved.

Belakangan kesempatan yang Saadi Gaddafi dapatkan itu terjadi berkat klausul kontrak yang mengharuskan Perugia setidaknya memainkan Saadi satu kali dalam semusim. Meski tentu saja tuduhan ini ditepis keras oleh Riccardo Gaucci.

Pada akhir musim perdana Saadi di Serie A, Perugia terdegradasi tapi dia masih bertahan di klub itu satu musim lagi. Meskipun klub berjuluk I Grifoni ini bermain di Serie B, belum ada kesempatan bagi Saadi di sana. Tapi kejutan kembali terjadi ketika Udinese merekrut Saadi semusim kemudian.

Klub berjuluk Zebrette ini baru saja menunjuk Cosmi sebagai pelatih baru dan mereka pada musim 2006 juga lolos ke Champions League. Saadi tentu saja sedikit berharap bisa bermain di kompetisi tertinggi Eropa itu. Tapi dia sekali lagi menemukan dirinya hanya duduk di pinggir lapangan sepanjang musim.

"Dia tahu bagaimana menjaga bola saat berada di kakinya, dia juga mungkin bisa melakukan umpan panjang yang bagus. Tapi secara fisik, dia tidak memiliki struktur sebagai pesepakbola. Dia tidak memiliki kekuatan, tidak memiliki daya tahan yang tinggi, dia tidak cepat. Jika kamu memiliki kekurangan-kekurangan seperti itu, kamu tidak punya kualitas untuk menjadi pesepakbola," ujar Valerio Bertotto, kapten Udinese saat itu.

Saadi membuat satu penampilan untuk Udinese, sebagai pemain pengganti dan turun di 10 menit terakhir. Kali ini, ia hampir membuat sesuatu yang bisa dirayakan oleh suporter Udinese ketika tendangan volinya hampir membobol gawang Cagliari. Tapi tendangan itu hanya ditepis Antonio Chimenti dan berbuah sepakan pojok.

Itu adalah akhir dari karier Saadi Gaddafi. Meski pada 2006 dia menandatangani kontrak bersama Sampdoria, Saadi tidak pernah bermain sekalipun di sana. Selain itu, Saadi juga mencatatkan 18 penampilan untuk Libya dengan total dua gol selama kariernya.

Usai pensiun dari lapangan hijau, Saadi menjalani kehidupan yang kelam. Pada Maret 2014, ia duduk di kursi mengenakan pakaian penjara berwarna biru menghadap kamera. Dia meminta maaf kepada masyarakat Libya dan mengakui kejahatan yang telah dituduhkan oleh pemerintah.

Sekarang dia terjebak dalam penjara dengan tuntutan pidana yang terus menghampiri. Saadi secara resmi didakwa atas pembunuhan pesepakbola Bashir Rayani. Kasus ini terjadi pada 2006 dan dakwaan tersebut baru diputuskan pada 2015.

Untuk saat ini, sedikit kabar yang beredar tentang Saadi Gaddafi. Selain kasus kriminalitas yang menjeratnya beberapa tahun belakangan, dia adalah seseorang yang mempertaruhkan dirinya sebagai pion olahraga untuk mengembangkan hubungan internasional. Tujuannya adalah untuk memenuhi impian sepanjang hidupnya menjadi pesepakbola profesional.

Meski telah impiannya telah tercapai, jika hanya dilihat dari poin ‘menjadi pesepakbola profesional’, namun Saadi menolak untuk memperdulikan kariernya yang hampir nol pencapaian. Bagaimanapun, karier singkat Saadi memang unik namun tak banyak orang yang akan mengingatnya.


TAG: Ac Perugia Al-Saadi Gaddafi Luciano Gaucci Serie A






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI