REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Saltley Stallions dan Sepak Bola untuk Semua


Aditya Hasymi pada 2021-05-30 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Sepak bola sejatinya memberikan kebahagian bagi semua. Si kulit bundar tak pandang bulu berada di kaki siapakah dirinya akan dimainkan.

Inggris sebagai sebuah negara maju dikenal punya pengalaman pahit soal merasa paling utama. Negara yang dikenal sebagai Britania Raya ini tampak arogan dengan eksklusivitasnya. Nilai-nilai paling benar itu kemudian meresap kepada para penduduk asli mereka.

Puncaknya pada medio 2011, negara beribukota di London ini menuai buah mendaku diri paling baik di antara identitas yang lain dengan kekejian yang mereka alami. Wilayah seputaran Inggris, dimulai dari pusat kota London di bilangan Tottenham, mengalami aksi kekerasan yang membuat warganya takut bukan kepalang.

Penyebabnya identik dengan kebebalan negara Inggris akan hidup bermasyarakat: merasa paling unggul dibanding manusia lain yang berbeda latar belakang. Kerusuhan pecah hingga mengakibatkan banyak kerugian ini didalangi oleh penembakan polisi terhadap warga sipil yang berkulit hitam. Sontak Gerakan memberontak meruak hingga Nottingham, Bristol, Liverpool hingga kota dengan imigran terbanyak: Birmingham.

Setali tiga uang, kepongahan Inggris melalui masyarakatnya yang menganggap diri paling baik juga terjadi di sepak bola. Hal keji justru dipertontonkan para suporter yang kebanyakan menghina soal ras. Rasisme menjadi masalah laten di sepak bola Britania karena begitu ada yang bermain buruk, jika personalnya bukan darah asli, maka umpatan keras menjadi hal yang jamak.

Baru-baru ini kembali Birmingham menjadi tempat dimana rasisme itu terjadi di Inggris. Ejekan bernada ras muncul ketika partai terakhir musim ini di level Championship yang mempertemukan Birmingham City dengan Blackburn Rovers. Terdapat beberapa banner yang terpasang bernada makian untuk sang pemilik Blues, Xuandong Ren, yang berasal dari Hong Kong. Disinyalir ejekan tersebut hadir akibat imbas buruknya permainan klub di atas lapangan hijau.

Ejekan dari suporter Birmingham City tersebut amat ganjil mengingat setahun sebelumnya, para fans Blues, menyuarakan semangat anti rasisme. Sekira 200 orang suporter Blues menyemut di Victoria Square, melakukan long march, demi menyuarakan pesan agar rasisme ditendang jauh-jauh dari sepak bola. Pada aksi yang terjadi di tanggal 4 Juli 2020 itu, Birmingham seperti memperlihatkan wujud aslinya sebagai kota multikultural dengan saling menaruh respek.

Itulah lucunya Inggris. Eksklusifitas yang mereka tonjolkan seringkali dicederai oleh hal-hal yang sifatnya konyol belaka. Termasuk di sepak bola yang mereka klaim sebagai penemunya, dimana olahraga ini adalah milik semua, justru diapungkan oleh mereka yang jadi imigran di tanah Britania.

Sebuah klub bernama Saltley Stallions, yang ironisnya dibangun oleh para imigran, mengajarkan Inggris bagaimana arti nyata dari sepak bola untuk semua.

 
Saltley Stallions Menyuarakan Keberagaman Lewat Sepak Bola

Isu keberagaman merupakan sebuah isu yang perlu terus disuarakan dalam kondisi dunia yang penuh perbedaan. Setiap manusia punya kesempatan yang sama hanya saja latar belakang yang berbeda menjadi penghalang.

Sepak bola yang menyandarkan dirinya pada kerjasama sebelas orang di lapangan dapat menjadi contoh terbaik dari menyuarakan keberagaman. Siapapun terlepas dari warna kulit ataupun asal negara dapat dengan bebas menyepak si kulit bulat. Kegembiraan yang menyatukan.

Tersebutlah di satu kota yang menjadi tempat berkumpulnya para imigran di Inggris Raya, yakni Birmingham, medio 2011, lahirlah bentuk nyata semangat keberagaman melalui sepak bola. Sebuah klub bola lokal bernama Saltley Stallions hadir untuk memfasilitasi mereka yang terpinggirkan lewat indahnya mengolah si kulit bundar.

Saltley Stallions hadir lebih dari sekadar tim sepak bola. Tak hanya membentuk kesebelasan yang tangguh dengan sebelas orang di dalamnya tapi juga memberikan penguatan sumber daya manusia khas komunitas.


sumber foto: instagram.com/saltleystallionsfc

Klub berlogo kuda jingkrak ini sedari awal berdiri sudah dikelola secara sukarela. Kepemimpinan dan kerjasama yang nampak di sepak bola juga dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Adalah seorang imigran bernama Obayed Hussein yang menjadikan Saltley Stallions sebagai klub bola sebagai wadah pemersatu etnis. Pria keturunan Pakistan yang bermukim di Birmingham ini mulanya berangkat dari melihat nilai luhur sepak bola adalah untuk semua. Ia percaya hadirnya tim sepak bola akan membantu mereka yang terpinggirkan, dalam hal ini imigran asal Asia Selatan di Inggris, untuk tak lagi dicap sebagai persona yang dekat dengan kejahatan dan ekstrimisme.

“Saya mengalami sendiri bagaimana diperlakukan berbeda sebagai imigran di Inggris. Saat itu saya mengenakan baju muslim saat menaiki bus sepulang sekolah. Seluruh penumpang menatap saya secara aneh. Saya merasa takut luar biasa”, ujar Obayed menceritakan pengalamanya. “Usut punya usut, kala itu sedang ramainya kasus teror 9/11 dan Birmingham sedang dalam proses menyembuhkan diri dari kerusuhan rasialis tahun 2000”, tambahnya menceritakan alasan diskriminasi yang ia alami.

Nama klub dengan warna dominan kuning ini diambil dari salah satu distrik di Birmie yang mayoritas dihuni para imigran Asia. Sejak kemunculannya di tahun 2011, Saltley FC telah menggaet atensi 400 orang lebih untuk merayakan sepak bola untuk semua di lapangan hijau.

Saltley Stallions terus berkegiatan untuk menyuarakan sepak bola untuk semua. Tercetuslah perayaan reguler bertajuk Ramadhan Midnight League yang menyediakan ruang bagi siapapun mengolah si kulit bulat.

 

Nilai Keterbukaan dalam Perayaan Midnight Ramadhan League

Satu bulan yang penuh kebahagiaan bagi pemeluk agama Islam, bulan Ramadhan, tak dapat disangkal efeknya telah meluas. Hadirnya satu bulan yang mewajibkan puasa ini bukan lagi ritual yang dinikmati oleh umat muslim semata, namun juga kehidupan manusia secara universal.

Semangat silaturahmi, atau secara luas dimaknai sebagai sosialisasi, menjadi inti yang selalu diagungkan pada Ramadhan tiba selain berpuasa tentunya. Berkumpul bersama orang terkasih atau sanak saudara menjadi pelengkap untuk beribadah secara khusyuk.

Nilai keterbukaan dan kebersamaan yang melimpah saat bulan Ramadhan hadir inilah yang ditangkap oleh Obayed Hussein. Sebagai penggerak komunitas imigran di Birmingham, dirinya merasa inilah saat yang tepat untuk mengirim pesan damai kepada penduduk mayoritas dengan cara santun.

Sepak bola lah yang diyakini oleh Obayed bersama Saltley Stallions sebagai cara yang paling ampuh untuk menyebarkan nilai keberagaman saat momentum Ramadhan tiba.

Perayaan Midnight Ramadhan League hadir sebagai bentuk mengkhidmati keberagaman lewat bal-balan. Pada awalnya memang hanya memfasilitasi pemuda muslim untuk menjaga kebugaran setelah seharian berpuasa. Kini, bentuk perayaan telah meluas sebagai ajang sosialisasi bagi muslim dan non-muslim, juga untuk mereka yang perempuan.


sumber foto: instagram.com/saltleystallionsfc

“Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk memaknai kesejahteraan dan kebugaran. Hadirnya Midnight Ramadhan League ini adalah bentuk saluran kami untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitar sembari menjaga kondisi tubuh dalam kewajiban berpuasa”, terang Obayed dalam wawancara yang dikutip dari laman Birmingham Mail.

Niat tulus akan berbuah manis. Gelaran Midnight Ramadhan League secara rutin telah digelar secara 2018 dan gaungnya bertambah dari tahun ke tahun. Isu keberagaman dengan konsisten disuarakan mampu bergema di Britania Raya yang belakangan ini diliputi stigma negatif rasisme di sepak bola.

Hamza Choudhury, gelandang bertahan dari Leicester City, turut menjadi pemain pro yang mendukung gerakan sepak bola untuk keberagaman bersama Midnight Ramadhan League. Pria kelahiran Loughborough keturunan Pakistan ini menjadi ikon yang juga diabadikan oleh gim konsol FIFA melalui jersey kuning dalam FIFA Ultimate Team.

Saltley Stallions menunjukan wajah sepak bola yang lebih dari sekadar olahraga sebelas lawan sebelas. Si kulit bundar dapat menyatukan segala macam pihak, bukan malah sebaliknya, mengkotak-kotakan manusia berdasar pada latar belakangnya.

 


TAG: Saltley Stallions Midnight Ramadhan League Birmingham






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI