REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Sarung Tangan Terakhir Gianluigi Buffon


Hamdani M pada 2021-03-08 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Dengan usia yang telah menyentuh kepala empat, kembali terdengar rencana Gianluigi Buffon untuk gantung sarung tangan. Rencana ini tidak terdengar mengejutkan. Bahkan jika itu terjadi di akhir musim ini. Karena pembicaraan tentang pensiunnya Buffon sebenarnya sudah terjadi sejak dua musim lalu. Tapi kemudian kejutan terjadi. Buffon menyeberang ke Prancis, bermain untuk PSG. Hanya satu musim bersama PSG, Buffon memutuskan untuk kembali ke Turin. Menunda keputusan untuk gantung sarung tangan. 

Kembalinya Buffon ke Turin diduga masih dengan motivasi yang sama dengan alasan kepindahannya ke PSG di musim 2018/2019, trofi Liga Champion Eropa. Sudah menjadi rahasia umum, Buffon sangat menginginkan trofi si Kuping Lebar. Seandainya ia mau bersikap lebih jujur, mungkin inilah alasan utamanya tetap bertahan di bawah mistar hingga usia mencapai lebih dari 40 tahun. Tidak bisa jauh dari sepak bola, sulit membayangkan hidup tanpa bersentuhan dengan sepak bola hanyalah alibinya. Cara untuk menyampaikan egonya dengan bahasa yang lebih halus. 

Sepanjang kariernya di lapangan hijau, ia belum pernah sekalipun merasakan trofi itu. Pencapaiannya paling tinggi di Liga Champion hanyalah sampai ke final. Tiga kali. Kemudian selalu kalah saat berada di partai puncak. Entah seberapa besar rasa penasaran itu. Yang jelas, sampai hari ini Buffon masih menunggu gelar yang akan menyempurnakan karier sepak bolanya itu.

Rasa penasaran Buffon akan trofi Liga Champion dimulai pada tahun 2003. Saat itu Juventus harus menyerah dari sesama klub Italia, AC Milan dalam drama adu penalti. Pada musim 2014/2015 dan 2016/2017 Buffon kembali memiliki kesempatan untuk mendapat jawaban atas semua rasa penasarannya. Saat itu Juventus berhasil melaju ke final. Satu langkah menuju jawaban atas penantian Buffon. Di dua partai puncak, Juventus harus berhadapan dengan dua tim asal Spanyol, Barcelona di tahun 2015 dan Real Madrid di tahun 2017. Dua kali final yang harus dilewati Buffon dengan kepala tertunduk.

Final Liga Champion 2015, Buffon dihancurkan oleh Trisula Barcelona, Neymar-Messi-Suarez. Pertandingan berakhir dengan kekalahan 3-1. Sementara di tahun 2017, Juventus yang memiliki susunan pertahanan yang kokoh di babak pertama tiba-tiba hancur di babak kedua. Lini serang Real Madrid yang dimotori Cristiano Ronaldo mampu empat kali melewati penjagaan para pemain belakang Juventus. Buffon dkk. terpaksa pulang dengan tangan hampa. Dua kali gagal di partai final dalam tiga tahun tentu bukan hal yang baik bagi karier sepak bola Buffon. Meski sebenarnya juga bukan hal yang buruk.

Terlepas dari keinginannya untuk meraih gelar Liga Champion yang belum terwujud, Buffon sebenarnya telah menjalani karier sepak bola yang luar biasa. Tidak ada yang menyangkal, dia adalah legenda.

Tumbuh di akademi AC Parma, Buffon muda yang bersinar kala itu kemudian menyeberang ke Juventus. Bersama raksasa Turin tersebut Buffon menjalani karier yang menanjak. Ia segera dikenal sebagai penjaga gawang terbaik dunia. Di bawah pengawalannya, gawang Juventus seperti telah mendapat jaminan keamanan. Trofi demi trofi pun diraih. Seiring dengan kariernya yang semakin bersinar, berbagai rekor pun ia catatkan.

Dengan capaian 681 pertandingan bagi Nyonya Tua di semua kompetisi, Buffon tercatat sebagai pemain dengan penampilan terbanyak kedua. Ia berada satu tingkat tepat di bawah legenda Juventus yang lain, Alessandro Del Piero. Tapi catatan penampilan Buffon bisa saja bertambah bahkan melampaui Del Piero andai ia bermain untuk Juventus dalam masa yang lebih lama lagi. 

Untuk urusan usia, Buffon sampai saat ini tercatat sebagai penjaga gawang tertua kedua yang tampil pada gelaran Liga Champion. Di atasnya ada nama Marco Ballotta yang pernah turun lapangan dalam usia 43 tahun 252 hari. Catatan sebagai penjaga gawang tertua kedua di Liga Champion tentu tak terlalu mengganggu Buffon. Ia tentu tak seharusnya repot-repot memecahkan rekor sebagai penjaga gawang tertua di Liga Champion.

Jumlah penampilan Buffon di semua kompetisi telah mencapai lebih dari 1000 pertandingan. Ini adalah catatan  yang tidak mudah untuk disamai oleh pemain manapun. Untuk Timnas Italia, 176 pertandingan yang dibuat oleh Buffon masih menjadi yang terbanyak dalam sejarah sepak bola Italia.  

Prestasi Buffon bersama tim tak main-main. Sepuluh kali Scudetto, lima kali Copa Italia, tujuh kali Supercopa Italia. Saat berseragam Timnas Italia, ia berhasil mempersembahkan prestasi tertinggi bagi Italia, Juara Piala Dunia 2006. Dalam babak final, ia adalah salah satu aktor kunci keberhasilan Italia mengalahkan Prancis lewat adu penalti kala itu. Dalam gelaran Euro, ia hampir saja mempersembahkan gelar bagi Italia. Sayang, di partai final Italia harus menyerah pada generasi emas Spanyol dengan skor 4-0.

Secara individu gelar yang diraih Buffon juga mengagumkan. Tercatat, ia berhasil mendapatkan 12 kali gelar penjaga gawang terbaik di Serie A. Prestasi yang sulit disamai oleh setiap penjaga gawang.

Catatan lain yang mengagumkan dari Buffon adalah pencapaiannya pada penghargaan Ballon d’Or 2006. Ia hanya berada satu tingkat di bawah rekan satu timnya di Timnas Italia, Fabio Cannavaro, peraih Ballon d’Or tahun itu. Berposisi sebagai penjaga gawang tak menyurutkan berbagai pengamat bola untuk menyebut Buffon sebagai yang terbaik di lapangan hijau. Peran pentinya dalam mengantarkan Italia meraih gelar Piala Dunia adalah alasannya. 

Sebelas tahun setelah meraih gelar Piala Dunia (musim 2016/2017), Buffon akhirnya meraih gelar pemain terbaik. Meski kali ini skalanya lebih sempit, Italia. Gelar individu yang semestinya dianggap cukup untuk melengkapi berbagai gelar yang telah ia dapatkan baik bersama klub maupun Timnas Italia. 

Tapi bagi Buffon semua pencapaian itu seperti kurang lengkap tanpa gelar Liga Champion. Dia masih menyimpan rasa penasaran itu hingga batas akhir karier sepakbolanya hari ini.

Seandainya Juventus bisa mencapai gelar Liga Champion musim ini, mungkin Buffon akan segera pensiun. Seperti yang ia sampaikan beberapa kali, akhir musim ini. Tapi memenuhi syarat juara Liga Champion bukanlah hal yang mudah. Juventus memang masuk dalam daftar klub unggulan di kompetisi Eropa. Mereka juga memiliki Cristiano Ronaldo. Pemain yang dianggap memiliki DNA juara Liga Champion. Tapi betapapun besarnya modal yang dimiliki Juventus, betapapun kuatnya tekad yang dimiliki Buffon, gelar juara Liga Champion bukanlah hal yang mudah. Dan rencana Buffon untuk pensiun masih penuh dengan tanda tanya.

Akhirnya, seperti yang biasa disampaikan Buffon dalam berbagai kesempatan, tidak ada yang pasti dalam hidup. Begitu pula dengan kariernya. Tidak ada yang pasti kapan ia akan gantung sarung tangan. Satu-satunya yang pasti tentang Buffon adalah ia layak mendapatkan tepuk tangan penghormatan untuk karier sepakbolanya yang mengagumkan.


TAG: Gianluigi Buffon Serie A Juventus Fc






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI