REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Satu Hari Menjadi Scousers yang Bertandang ke London


Aditya Hasymi pada 2020-09-28 jam 12:00 PM


Ilham Dito


Kesempatan menuju London, bagi Scousers, adalah cara yang paling asyik untuk menertawakan kemapanan orang-orang ibukota yang tampak dibuat-buat.

Sudah menjadi rahasia umum jika masyarakat dari daerah bersikap antipati ketika memandang gemerlapnya warga ibukota. Pun begitu ketika mereka yang berasal dari Liverpool memandang hiruk pikuk dari kota London.

Sebagai interaksi antar kota, hubungan antara Liverpool dan London amat berjarak. Liverpool lebih dikenal sebagai kawasan yang amat bersahaja akibat dulunya dibangun dari warga yang kebanyakan memiliki mata pencaharian sebagai buruh. Hal tersebut berbanding terbalik dengan identitas kota London, yang sebagaimana layaknya ibu kota, berderap cepat karena perputaran uang cukup masif.

Dari kacamata politis pun, benturan ide kerap kali terjadi di antara dua kota yang berjarak 221 mil ini. Basis massa yang ada di kota Liverpool adalah representasi dari Labour Party, yang mengetengahkan keadilan sosial dan pemenuhan hak-hak pekerja. Sementara itu, bertempat di London, adalah wilayah Conservative Party berkuasa, dengan kebijakan yang condong pada upaya privatisasi negara.

Pun begitu keadaan yang terjadi di lapangan hijau. Liverpool, walaupun seringkali berseteru hebat dengan tetangga di Manchester, selalu punya semangat tersendiri untuk menyaingi klub-klub asal London. Ada bumbu-bumbu kebencian yang dipantik oleh sebuah kebijakan tangan besi oleh mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, sehingga para Scousers amat murka dengan Londoners. Tragedi Hillsborough menjadi sebuah bukti tangan besi Thatcher, ketika tanpa ampun menghukum Kopites, sebagai pelaku dari korban jiwa yang bergelimpangan di kandang Sheffield Wednesday itu. Padahal, setelah diinvestigasi lebih lanjut, tragedi tersebut bukan salah suporter namun pengamanan yang buruk dari aparat.

Akar sejarah yang cukup panjang ternyata mampu mengemulsi semangat dari Travelling Kopites -sebutan pendukung Liverpool FC yang ikut dalam partai away- tiap kali mengunjungi London di hari pertandingan. Jika diibaratkan, ada upaya “merebut kota” jika para fans Merseyside merah bertandang ke wilayah ibukota, layaknya semangat Bonek di Surabaya, sebagai wujud perlawanan.

Namun, tak selamanya romantisme “merebut ibu kota” yang terpancar dari pendukung away LFC berakhir manis. Hasil ironis justru yang kerap kali terjadi bagi The Reds, utamanya di stadion Wembley. Kekalahan demi kekalahan yang menyesakkan kerap kali terjadi di stadion yang dijadikan sebagai markas dari tim nasional Inggris ini.

Penulis berkesempatan membuktikan langsung bagaimana Wembley di pusat ibu kota Inggris ini banyak menghasilkan hasil minor dari tim kebanggaan Liverpudlian ini. Kala itu medio 2016, dimana Liverpool jauh-jauh menuju stadion Wembley, hanya untuk bertekuk lutut secara dramatis di hadapan Manchester City, dalam gelaran Piala Liga.

Menemani Liverpool di Wembley dengan Perasaan Campur Aduk

Sejatinya, perjalanan menuju London adalah perjalanan yang menyenangkan. Bagaimana tidak, menuju ibu kota selalu mengasyikan untuk melihat bagaimana jantung dari sebuah negara itu berderap. namun, kesempatan penulis kala itu menyambangi ibukota dari Britania Raya sungguh diliputi perasaan campur aduk antara bahagia dan sedih.

Keberuntungan sebenarnya menjumpai penulis di awal sebelum memutuskan untuk berangkat dengan syal merah mendukung LFC. Patut diketahui bahwa untuk mendapatkan sebiji tiket guna menonton The Reds itu tak mudah, apalagi di untuk sebuah partai final. Ya, tiket yang penulis dapat untuk menemani skuad arahan Jurgen Klopp berlaga di Wembley merupakan hasil sebuah lotere, dari para member yang terdaftar resmi dalam pemegang tiket musiman. 

Pengundian tersebut dilakukan karena ada kuota yang berikan dari panitia pertandingan. Setelah mengisi data diri dalam sebuah form, jawaban itu datang sekira seminggu sebelum hari H pertandingan, 28 Februari 2016, bahwa satu tiket sukses diamankan. menariknya, dan ini sangat British sekali, ketika beberapa hari setelahnya bentuk cetak dari tiket dikirim langsung ke alamat melalui pos layaknya sebuah surat.

Ketika tiket sudah di tangan, maka jadwal keberangkatan perlu untuk disusun. Hal ini penting mengingat harga tiket, utama dengan armada kereta antar kota, dari Liverpool menuju London amat mahal jika dipesan mendekati hari H. Waktu itu penulis mendapatkan tiket kereta melalui platform kereta seantero Inggris, National Rail, seharga 35 paun dengan waktu tempuh dua jam perjalanan. Pemilihan armada kereta dibanding bus adalah sebagai upaya untuk meresapi awayday, ketika fenomena keberangkatan suporter menggunakan Kereta merupakan sebuah tradisi dari sepak bola Britania itu sendiri.

Perjalanan menuju London ditempuh pada sehari jelang pertandingan digelar. Penulis berangkat sekira petang pukul 5 sore dari Stasiun Lime Street kemudian tiba malam hari pada pukul 8 dengan turun di Stasiun London Euston. Karena kebetulan kedua tim yang berlaga di final Piala Liga tidak ada yang mewakili tim ibukota, maka suasana kedatangan amat ramai oleh suporter yang bersiap untuk keesokan harinya. Puja puji berupa chant telah ramai dikumandangkan baik dari Kopites maupun sang lawan, Citizens.

Satu hal yang menarik dari upaya suporter yang menemani kesebelasan saat partai tandang adalah upaya “merebut kota” yang jamak dilakukan. Dalam hal ini, penulis merasakan ketika pada saat tiba matchday, Travelling Kop berkerumun di beberapa tempat yang ikonik di London. Kumpulan para pendukung The Reds tampak menyemut di sekitaran jam besar yang akrab dikenal sebagai ‘Big Ben’, hingga berteriak dengan lantang di kawasan lapang yang ada di Trafalgar Square. Ramainya gerombolan pendukung dengan logo Liverbird di dada seolah menandakan London hari itu sejenak dikuasai oleh para Scousers.

Tibalah saatnya untuk merapat ke Wembley Stadium. Sebagai sebuah stadion, Wembley dengan desain barunya per 2007 silam, benar-benar menampilkan wajahnya laksana altar pemujaan. Dimulai ketika turun dari kereta bawah tanah khas London dengan sebutan tube, perasaan kita sebagai seorang fans permainan sebelas lawan sebelas ini akan dibuat takjub. Ketika pintu tube otomatis terbuka tepat setelah berhenti di stasiun Wembley Park, lengkungan di atap stadion yang dulunya dibangun pada tahun 1923 ini telah nampak di pandangan. Sebuah adagium yang menyatakan bahwa perasaan bahagia itu jelas menyergap ketika kesebelasan kesayangan melaju ke final, namun kebahagiaan itu akan lebih lagi jika pertandinganya digelar pada stadion dengan kapasitas 90.000 penonton ini, jelas benar adanya.

Adrenalin semakin memuncak ketika melihat barisan penonton menyemut memasuki pintu masuk Wembley. Padatnya kawasan stadion menjadikan tiap suporter harus melakukan tradisi Tifosi Italia, yakni corteo, untuk berjalan menuju tribun. Inilah romantisme yang selalu dirindukan oleh para fans sepak bola. 

Keadaan kemudian berubah menjadi futuristik saat masuk ke tribun yang memang sudah dibagi sesuai dengan tim yang bertanding di Capital One Cup Final empat tahun yang lalu, yakni Pool dan City, dengan adanya sebuah eskalator. Ya, benar sekali, sebuah tangga berjalan yang dialiri listrik tersebut menjadi salah satu fasilitas modern yang ada di Wembley. Sontak saya yang berpaspor Garuda ini teringat pada negara sendiri, butuh berapa tahun kiranya agar fasilitas serupa paling tidak ada di klub-klub yang berkompetisi di Liga 1.

Sampailah penulis pada tribun dimana sorakan dan nyanyian dikumandangkan bersama oleh Travelling Kop. Benar pula kata orang-orang, jika ingin melihat pendukung yang memang terdiri masyarakat asli yang membangun sebuah klub, maka bergabunglah dalam barisan yang mendukung saat partai away. Dan benar saja, di sekeliling saya yang terlintas hanya wajah para Liverpudlian yang berangkat jauh-jauh dari tempat asal. Tiap sorakan dan nyanyian yang terlontar benar-benar sepenuh jiwa.

Pertandingan sendiri berjalan dramatis. Sempat tertinggal oleh gol dari Fernandinho, asa itu sempat muncul ketika Coutinho menyamakan kedudukan dan memaksakan hingga ke babak adu penalti. Namun sayang, asa yang muncul itu harus pupus tatkala Adam Lallana gagal menjalankan eksekusi penaltinya akibat gemilangnya Caballero dan Yaya Toure muncul sebagai penentu, sehingga City kali ini yang bertahta di Piala Liga. Perasaan sedih sontak menghampiri seluruh pendukung The Reds yang telah jauh-jauh menuju Wembley.

Malam itu, di tengah keramaian kota London, jiwa-jiwa Scousers benar-benar merasakan kerasnya ibukota, khususnya Wembley, yang tak begitu ramah kepada mereka yang datang dari daerah.


TAG: Liverpool Fc Premier League Ynwa Stadium Wembley Capital One Cup






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Formasi WM dan Perkembangannya

3

Sejarah Formasi: 4-2-3-1, Gelandang Bertahan dan Pemain Nomor 10

4

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

5

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

LEGENDA HARI INI


Card image cap
23 October

Pada tanggal 23 Oktober 1973, pemain Derby County menuntut kepada manajemen agar Brian Clough diperkerjakan kembali sebagai pelatih. Sebuah surat yang ditandatangani oleh setiap anggota tim utama diserahkan kepada ketua klub setelah Clough dan asistennya mengundurkan diri.


IKUTI KAMI