REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Sejarah Formasi: 4-2-3-1, Gelandang Bertahan dan Pemain Nomor 10


M Bimo pada 2020-06-25 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Memasang empat bek di belakang adalah taktik yang sampai sekarang masih dijadikan pakem pada formasi. Berawal dari ditemukannya formasi 4-2-4 yang menjadi tonggak formasi sepak bola moderen, formasi dengan empat bek ini kemudian banyak mendapat polesan seiring perkembangannya.

Formasi 4-4-2 yang mulai ditemukan pada era 60an seakan menjadi formasi yang paling banyak dikembangkan. Susunan pemainnya yang seimbang membuat pelatih bisa bereksperimen mengatur lini belakang, tengah dan depan sesuai seleran dan kebutuhan. Sampai pada akhirnya, muncul lah formasi 4-2-3-1 pada akhir 90an  yang merupakan hasil pengembangan dari 4-4-2.

Sejak Euro 1992, wajah sepak bola cukup banyak berubah ketika FIFA meresmikan peraturan baru. Yakni peraturan di mana kiper tidak boleh lagi menangkap bola operan yang dilakukan menggunakan kaki oleh rekan yang lain. Atau bahasa yang lebih banyak diketahui adalah, kiper tidak boleh menangkap backpass.

Selain itu, FIFA juga membuat aturan lebih tegas soal pemain yang melakukan tekel dari belakang. Itu dianggap sebagai pelanggaran berat atau professional foul. Mulai dari situ, pertandingan sepak bola terlihat lebih menarik dan kompetitif.

Hasilnya, sejak saat itu banyak momen menarik yang terjadi di pertandingan kompetisi sepak bola internasional. Siapa yang bisa melupakan kedigdayaan Brasil pada Piala Dunia 1994, di mana mereka mengalahkan Italia di final lewat adu penalti.

Atau banyak penyuka sepak bola pasti setuju ketika Euro 2000 menjadi salah satu kompetisi terbaik pada zaman sepak bola moderen. Tapi siapa sangka, ada perkembangan formasi 4-2-3-1 dari permainan di pertandingan-pertandingan seru sepak bola dunia pada masa itu.

Bahkan dengan memakai formasi itu, Prancis mampu menahan Italia dan sukses merebut gelar juara Euro. Pelatih Prancis kala itu, Roger Lemerre, punya nama-nama beken seperti Zinedine Zidane, Thierry Henry, Didier Deschamps dan Marcel Dessailly.

Kalau dirunut dari sejarahnya, dasar formasi 4-2-3-1 ini sudah dieksperimen oleh pelatih asal Belanda, Co Adriaanse saat menangani FC Den Haag pada akhir 80an. Mantan pelatih Inggris, Terry Venables, juga pernah menerapkannya pada gelaran Euro 1996. Namun, formasi 4-2-3-1 pertama kali dinilai berjalan efektif dan berhasil baru pada Piala Dunia 1998.

Demam formasi 4-2-3-1 juga sempat melanda sepak bola Inggris. Pada akhir era dekade 90an, Liga Inggris identik dengan sepak bola kick and rush. Dalam artian, sepak bola Inggris dikenal punya permainan yang cepat. Mereka bisa memindahkan bola dari satu kotak penalti ke kotak penalti lain hanya dalam hitungan detik. Ini tentu saja karena pemainnya yang lebih senang mengumpan jarak jauh menuju langsung ke depan.

Ketika itu, banyak klub Inggris yang berada di zona nyaman dengan formasi 4-4-2. Padahal di belahan benua lain, mulai banyak klub yang menggunakan formasi hasil pengembangan dari 4-4-2 seperti 4-3-1-2 misalnya, atau yang lebih populer disebut 4-4-2 diamond.

Namun ketika formasi 4-2-3-1 sedang naik daun pada akhir 90an, klub-klub Inggris mulai menjajalnya. Formasi ini diklaim mulai dilirik klub Inggris berawal dari momen ketika Manchester United kalah di Old Trafford dari Real Madrid, dengan skor 2-3, di Liga Champions 1999-2000. Saat itu, kubu Real Madrid sudah menggunakan formasi 4-2-3-1. Sementara skuat asuhan Sir Alex Ferguson masih nyaman menggunakan formasi 4-4-2 yang pada musim sebelumnya membawa mereka meraih treble winner.

Kunci formasi ini tentu saja ada di para pemain tengah. Sebab, setidaknya ada lima pemain tengah yang dimainkan langsung dengan posisi dan tugasnya masing-masing. Ada gelandang sayap yang bertugas untuk cut inside di dua sisi lapangan, ada dua gelandang tengah yang perannya sangat vital untuk melakukan transisi dari bertahan ke menyerang atau sebaliknya, dan satu gelandang menyerang yang sering disebut sebagai pemain nomor 10.

Pada awal perkembangannya, klub yang memakai formasi 4-2-3-1 dinilai sebagai klub yang menguasai penguasaan bola. Di Inggris pada awal 2000an, pemain tengah yang dianggap sempurna dalam menjalani tugasnya dalam formasi 4-2-3-1 adalah Claude Makelele. Mantan pemain Chelsea ini satu-satunya pemain yang kuat di lini tengah pada penerapan 4-2-3-1. Bahkan muncul sebutan Makelele Role yang dijadikan rujukan bagaimana seharusnya seorang gelandang bertahan bermain.

Kalau di sepak bola zaman sekarang, N'Golo Kante mungkin bisa menjadi contoh Makelele baru di sepak bola Inggris. Kante juga disebut sebagai kunci sukses Leicester City bisa menjuarai Liga Inggris beberapa waktu lalu. Sebab pelatih saat itu, Claudio Ranieri, juga memakai formasi 4-2-3-1. Terlebih, pemain yang menemukan Makelele di Chelsea pada 2003 adalah Ranieri. Maka tak heran jika Kante santer disebut The Next Makelele.

Selain gelandang bertahan, peran pemain nomor 10 dalam formasi ini juga sangat disorot. Posisi pemain nomor 10 ini ada di belakang striker, tugasnya adalah untuk terus bergerak, menciptakan momen dan ruang. Area mobilitasnya pun tak cuma di zona tengah saja, melainkan juga sampai melebar ke sayap.

Di atas kertas, pemain ini sangat sulit untuk dijaga. Sebab pergerakannya yang mobile membuat pemain bertahan yang mengikutinya, akan meninggalkan posisi bertahan yang bisa menciptakan ruang kosong dan menimbulkan celah bagi pemain lawan untuk bisa masuk.

Zidane memperlihatkan bagaimana pemain nomor 10 dapat merepotkan pertahanan lawan. Ketika Prancis juara Euro 2000, peran Zidane sangat vital. Kalau di masa sekarang, pemain nomor 10 bisa disematkan kepada Mesut Ozil, Riyad Mahrez ataupun Ross Barkley.

Formasi 4-2-3-1 disukai banyak pelatih karena banyak memberikan opsi penyerangan. Lewat formasi ini, penyerangan tak melulu mengandalkan striker. Para pemain tengah yang berada di belakang striker juga berpotensi menciptakan gol. Apalagi gelandang sayap atau juga pemain nomor 10.

Namun, harus ada pemain-pemain kreatif agar formasi ini berjalan efektif. Oleh karena sudah disebut di atas, formasi ini harusnya membuat tim lebih banyak menguasai bola daripada lawan. Jika pemain nomor 10 tidak aktif mencari celah, atau gelandang sayap yang tidak aktif membongkar pertahanan dari sayap dan melakukan cut inside, maka permainan tim hanya akan berkutat di lini tengah dan jarang melakukan tembakan ke arah gawang.

Contoh paling konkret adalah Manchester United pada musim 2018. Permainan mereka dicap sangat membosankan pada waktu itu. Tapi nyatanya, Manchester United rata-rata menguasai jalannya pertandingan dengan angka 55%, tertinggi di Premier League 2018, dan tertinggi kedua di liga dalam urusan akurat dalam mengoper, angkanya mencapai 84%.

Meski formasi ini sempat populer, namun nyatanya 4-2-3-1 sempat membuat Liga Inggris terlihat membosankan. Pada Liga Inggris musim 2016, tercatat ada 15 klub yang menggunakan formasi 4-2-3-1 dari total 20 klub. Saat itu, Premier League mencatat rata-rata sekitar 2,5 gol per pertandingan dari total 649 gol dari 225 pertandingan hingga pekan ke-25 musim 2016.

Jumlah tersebut adalah jumlah yang tidak banyak. Sebab faktanya, itu adalah jumlah gol paling sedikit ketiga Premier League sepanjang sejarah Liga Inggris. Namun kemudian, banyak kalangan yang langsung menyoroti masifnya pemakaian formasi 4-2-3-1 oleh klub Liga Inggris pada musim tersebut sebagai biang keladi sedikitnya gol yang tercipta.

Bagaimanapun, formasi 4-2-3-1 hingga kini masih jadi formasi andalan klub top Eropa. Kemunculannya yang baru menjelang abad 20 berpotensi formasi ini bisa dikulik lebih dalam dan dikembangkan lagi. 


TAG: Formasi Taktik Strategi






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Formasi WM dan Perkembangannya

3

Sejarah Formasi: 4-2-3-1, Gelandang Bertahan dan Pemain Nomor 10

4

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

5

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

LEGENDA HARI INI


Card image cap
23 October

Pada tanggal 23 Oktober 1973, pemain Derby County menuntut kepada manajemen agar Brian Clough diperkerjakan kembali sebagai pelatih. Sebuah surat yang ditandatangani oleh setiap anggota tim utama diserahkan kepada ketua klub setelah Clough dan asistennya mengundurkan diri.


IKUTI KAMI