REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Sejarah Formasi: 4-3-3, Formasi Penguasa Eropa


M Bimo pada 2020-06-23 jam 12:00 PM


Gantigol


Sebelum mencapai titik sepak bola moderen, formasi punya sejarah perjalanan yang panjang. Dimulai dari hanya menempatkan satu bek, lalu menumpuk striker di depan. Pada masanya, menyerang adalah gaya bermain yang selalu dipuja oleh klub asal Britania Raya yang kemudian diikuti oleh klub-klub di berbagai benua.

Namun, cikal bakal formasi sepak bola moderen sudah dimulai sejak tahun 1960an. Hal ini ditandai dengan penempatan empat pemain bertahan di barisan pertahanan. Dimulai dari klub Ukraina, Dynamo Kyiv, yang kemudian formasi 4-4-2 menjadi sangat populer dan bertahan hingga hari ini. Formasi ini menjadi akar dari formasi sepak bola moderen.

Seiring berjalannya waktu, pelatih terus mengembangkan tatanan pemain di lapangan. Apalagi formasi 4-4-2 yang pada penerapannya sangat balance antara menyerang dan bertahan, gampang diubah dan dimodifikasi oleh pelatih sesuai kebutuhan timnya.

Setelah Inggris, Hungaria, Ukraina dan Brasil, kini giliran Belanda yang berkontribusi mempopulerkan salah satu formasi yang masih dipakai sampai sekarang, yakni 4-3-3. Formasi ini pernah membawa Ajax Amsterdam berhasil merengkuh tiga trofi juara Liga Champions dan Belanda, pada era Johan Cruyff, mampu menembus dua kali final Piala Dunia.

Formasi ini memang dipercaya banyak orang lahir di Negeri Kincir Angin. Pelatih legendaris asal Belanda, Rinus Michels, dipercaya yang menemukan formasi 4-3-3 ini. Saat itu, Michels membawa Belanda menjadi runner up Piala Dunia 1974 dan Juara Piala Eropa 1988. Michels juga pernah membawa Ajax juara Liga Champions musim 1970-1971 dengan formasi tersebut.

Bisa dibilang, Michels salah satu pelatih peracik formasi yang membuat sepak bola Belanda dikenal dengan sistem Total Football. Johan Cruyff yang merupakan salah satu anak emas Michels saat masih aktif bermain, juga ikut mempopulerkan formasi ini sampai ke Spanyol.

Pada 1988, Cruyff yang sudah gantung sepatu sejak 1984 datang ke Spanyol sebagai pelatih Barcelona. Momen inilah yang membuat mantan pelatih dan pemain Ajax Amsterdam ini memperkenalkan Total Football ke Negeri Matador lewat Barcelona.

Pada dasarnya, formasi 4-3-3 akan efektif diterapkan jika sebuah tim memiliki bek sayap yang ofensif. Oleh karena pada dasarnya,  bek sayap menjadi salah satu inisiator penyerangan dari sisi kiri atau kanan lapangan dengan gerakan cepat dan eksplosif. Sementara itu, peran gelandang juga sangat krusial di formasi ini. Dua di antaranya akan berfokus membagi bola untuk melakukan penyerangan sementara satu lainnya akan fokus untuk bertahan.

Sementara itu, tim yang menganut formasi ini juga biasanya akan mendominasi penguasaan bola. Satu yang terpenting, formasi 4-3-3 sangat bergantung pada pemain yang punya kelincahan dan kecepatan di atas rata-rata.

Kembali ke kisah Johan Cruyff di Barcelona, semasa menjadi pelatih, dia mulai mengenalkan Total Football di klub berjuluk Blaugrana. Namun ada yang berbeda Total Football yang terlihat di Barcelona dan Belanda. Dengan sentuhan khas ala sepak bola Spanyol, Total Football yang dibawa Johan Cruyff dipercaya sebagai masa kelahiran Tiki Taka di Barcelona. Dengan kata lain, Total Football-nya Spanyol ya Tiki Taka.

Formasi 4-3-3 ala Cruyff gak melulu soal penguasaan bola. Itu memang penting, namun Cruyff menyadari menguasai pertandingan saja tidak cukup. Butuh kreatifitas pemain untuk bergerak tanpa bola dengan tujuan membongkar pertahanan lawan. Mobilitas pemain seperti ini yang menurut Cruyff jadi kunci penting berhasil atau tidaknya terapa formasi 4-3-3 di suatu klub.

Barcelona sejak era Cruyff memang sangat melekat dengan formasi 4-3-3. Lihat saja, pada masanya ada pemain yang menjadi kunci sukses di posisi-posisi penting dalam formasi 4-3-3 di Barcelona. Sebut saja ada nama Daniel Alves dan Jordi Alba di bek sayap. Pergerakan ofensif mereka acap kali sering merepotkan pertahanan yang berujung umpan crossing ataupun cutback yang bisa jadi asis.

Pada era Frank Rijkaard, trio penyerang Barcelona jadi kunci kesuksesan raksasa Spanyol ini. Siapa lagi kalau bukan Samuel Eto'o, Ronaldinho dan Lionel Messi. Sementara pada era Pep Guardiola, Xavi yang bermain sebagai gelandang bertahan menjadi pemain kunci Barcelona pada masa tersebut.

Meski demikian, formasi berkembang tak lepas dari perkembangan zaman. Karakter pelatih tentu membuat wajah formasi ini sering dipandang berbeda-beda. 4-3-3 yang Pep Guardiola terapkan belum tentu sama dengan 4-3-3 yang dipakai Juergen Klopp.

Untuk itu, formasi yang sudah ditemukan sejak era 70an ini pastilah mengalami setiap pergantian tahun dan dekade. Di era sepak bola moderen seperti sekarang ini, Pep dan Klopp menjadi salah dua pelatih yang konsisten memakai formasi 4-3-3. Jika dilihat dari catatan sejarah, hasil dua pelatih ini pun cukup baik.

Di kompetisi domestik, Pep pernah membawa Bayern Munchen meraih tiga gelar Bundesliga secara beruntun, dari musim 2013-2014 sampai 2015-2016. Pep juga melengkapi koleksi trofi Bayern dengan dua gelar Piala Jerman, satu gelar Piala Super Eropa dan satu gelar Piala Dunia Klub. Di Manchester City hingga sekarang, Pep pernah mempersembahkan gelar juara Premier League dua musim berturut-turut pada musim 2017-2018 dan 2018-2019.

Sementara untuk Klopp, ia sudah mempersembahkan tiga gelar internasional untuk klub yang bermarkas di Anfield ini. Yakni Liga Champions, Piala Super Eropa dan Piala Dunia Klub 2019. Satu lagi gelar yang akan diraih Klopp dalam waktu dekat, yakni juara Premier League pertama kali untuk Liverpool.

Pada akhirnya, 4-3-3 hanya sebuah formasi tatanan pemain di lapangan. Formasi ini takkan punya sentuhan jika tak diracik dengan sistem permainan khas dari pelatihnya. Jika Pep Guardiola dikenal setia dengan sistem Tiki Taka pada formasi 4-3-3 ala dia, maka Juergen Klopp dikenal punya sistem Gegenpressing. Itulah yang jadi pembeda antar keduanya meski sama-sama mengusung formasi 4-3-3.


TAG: Formasi Taktik Sejarah Formasi






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI