REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Sejarah Formasi: 4-4-2, Formasi Paling Populer


M Bimo pada 2020-06-19 jam 12:00 PM


Gantigol


Sejak ditemukannya formasi 4-2-4 pada era 50an, banyak klub yang mulai menyadari pentingnya memakai empat pemain bertahan di garis pertahanan. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pertama kali formasi ditemukan, klub hanya memasang satu sampai dua pemain belakang saja. Sementara mereka menumpuk penyerang hingga tujuh pemain.

Formasi 4-2-4 terbukti ampuh membawa kejayaan untuk beberapa tim. Hungaria yang notabene sebagai negara penemu formasi ini, mampu menembus final Piala Dunia dua kali. Meskipun harus puas hanya jadi runner up saja. Sementara Brasil yang belajar langsung dari Hungaria bahkan bisa sukses membawa pulang tiga trofi Piala Dunia dengan formasi 4-2-4.

Satu dekade berlalu, formasi kembali mengalami pengembangan. Kali ini, ditemukannya formasi yang bisa dibilang paling populer di sepak bola yakni 4-4-2 pada 1960an. Formasi ini datang dari kepala pelatih asal Ukraina, Viktor Maslov. Meski begitu, ada peran penting yang dijalankan oleh Valeyriy Lobanovskyi dalam perkembangan formasi ini.

Pada 1961, Lobanovskyi adalah seorang pemain sayap muda yang bermain untuk Dynamo Kyiv. Saat itu posisi kursi nahkoda Dynamo dipegang oleh Viktor Maslov. Lobanovskyi sejatinya adalah pemain sayap yang lincah, punya visi bermain bagus dan punya teknik individu yang dominan. Namun gaya bermainnya ini sedikit dibatasi karena taktik yang diterapkan oleh Maslov saat itu.

Mungkin kamu berpikir kalau formasi 4-4-2 kan sangat mengandalkan peran pemain sayap. Tidak, ini bukan formasi dengan gaya bermain yang populer di Inggris. Saat awal diterapkan oleh Maslov di Dynamo, formasi 4-4-2 tidak mengenal peran pemain sayap. Hal inilah yang membuat peran Lobanovskyi kurang menonjol saat itu.

Akhirnya ia meninggalkan Dynamo pada 1964 untuk bergabung dengan Chornomorets Odessa dan Shakhtar Donetsk. Namun ia merasa benar-benar kecewa, karena sepeninggal dari Dynamo, kariernya malah meredup. Terlebih pada 1968 mantan klubnya meraih tiga gelar berturut-turut tapi Shakhtar Donetsk malah terpuruk di posisi ke-14.

Percaya atau tidak, hal itu membuat dirinya frustasi dan memutuskan untuk pensiun dini pada usia 29 tahun. Meski begitu, dia belum menyerah pada sepak bola. Lobanovskyi mulai memasuki karier sebagai pelatih pada 1969 untuk menangani Dnipro Dnipropetrovsk. Di sana lah dia memulai eksperimen formasi yang terpikirkan di kepalanya, termasuk mengembangkan formasi 4-4-2 milik Viktor Maslov.

Tapi barulah pada 1973, momen di mana Lobanovskyi kembali ke Dynamo Kyiv, namun kali ini sebagai pelatih. Di sana ia menemukan jawaban dari unek-uneknya selama ini: sepak bola butuh keseimbangan antar lini. Ia juga menyebutkan kalau keseimbangan antara kebutuhan pemain di dalam dan luar lapangan juga sama pentingnya.

Berangkat dari hasil pemikirannya tersebut, Lobanovskyi mulai menerapkan formasi 4-4-2 ala dia sendiri. Tentu saja sambil membawa misi balas dendam kepada Viktor Maslov yang mematikan peran pemain sayap pada formasi 4-4-2 yang diracik oleh mantan pelatihnya tersebut. Lobanovskyi membuat formasi ini lebih seimbang baik di belakang, tengah maupun depan.

Pada akhirnya, keseimbangan yang diadaptasi Lobanovskyi di Dynamo Kyiv lewat formasi maupun kebutuhan pemain membuat klub ini mampu bersaing di kancah Eropa. Buktinya dengan formasi 4-4-2 ala Lobanovskyi, Dynamo Kyiv mampu melibas Ferencvaros 3-0 di final Cup Winners' 1975, sekarang Europa League. Dynamo juga mampu mengandaskan Atletico Madrid di final ajang yang sama pada 1986. Sementara itu, mereka juga mampu menahan Bayern Munich 3-3 di leg pertama semifinal Champions League 1999.

Formasi 4-4-2 diakui sebagai formasi yang mudah dipahami oleh para pemain. Formasi ini juga menjadi populer di tanah Inggris pada 1970an. Kebanyakan klub inggris mengadaptasi formasi ala Lobanovskyi yang mengandalkan kedua sisi sayapnya. Fullback dan pemain sayap perannya sangat dominan di sini.

Formasi ini juga jadi semakin populer seiring berkembangnya filosofi kick and rush yang terjadi pada era tersebut. Oleh karena kedua sisi diisi oleh pemain yang perannya seimbang, hal ini sangat mendukung sepak bola Inggris yang berfilosofi pada kick and rush. Filosofi ini identik tidak mau berlama-lama di lini tengah dan sering mengandalkan pemain-pemain sayap untuk memantulkan bola ke pemain ujung tombak.

Meski begitu, 4-4-2 yang juga populer di Italia punya konsep yang sangat berbeda dari Inggris. Hal ini terjadi karena pembagian area lapangan sepak bola Italia dibuat lebih kompleks. Tak cuma centre back dan fullback, di Italia juga dikenal ada posisi sweeper. Di bagian depan juga dikenal posisi support striker yang posisinya persis di belakang striker namun di depan attacking midfielder

Alih-alih mengandalkan pemain sayap, 4-4-2 ala Italia lebih memaksimalkan pemain tengah atau gelandang. Mirip seperti 4-4-2 saat pertama kali dikenalkan oleh Viktor Maslov.

Arrigo Sacchi dan Fabio Capello bisa disebut sebagai orang yang mempopulerkan 4-4-2 di Italia. Pada 1990an, Sacchi bersama AC Milan mampu menyabet gelar juara Eropa sampai tiga kali dengan memakai formasi 4-4-2. Meski formasi ini sangat membuat AC Milan sukses pada waktu itu, namun tak banyak tim Italia yang mampu menduplikasi formasi ini sesukses apa yang dilakukan Sacchi.

Saat itu Sacchi menerapkan 4-4-2 dengan formasi pemain yang tidak dibuat sekompleks khas Liga Italia. Dia melupakan pemain di posisi sweeper atau juga support striker.

Meski masih sering dijadikan formasi andalan hingga kini, namun 4-4-2 sudah mulai tersaingi dengan formasi sepak bola moderen lainnya. Hal ini berkaitan dengan peran pemain yang semakin hari semakin berkembang sedemikian rupa. Contohnya, kini sudah banyak para striker pekerja keras yang tak cuma menunggu bola di depan saja.

Jika perlu contoh, Atletico Madrid dan Leicester City adalah klub yang membuktikan bisa bermain kuat di pertahanan dan penyerangan dengan menggunakan formasi ini. Lini belakang dan tengah mereka membentuk barisan rapat ketika bertahan. Masing-masing dari pemain juga selalu rajin menutup ruang kosong bagi pemain lawan. Sementara tak jarang pemain ujung tombak mereka berlari mengejar bola dari kaki pemain lawan.

Klub-klub elit lainnya juga sampai hari ini masih menerapkan formasi 4-4-2, meski tidak dijadikan formasi utama. Formasi ini bakal tetap dibutuhkan pada kondisi pertandingan tertentu. Tentunya bertujuan untuk membuat semua lini seimbang. 


TAG: Formasi Taktik






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI