REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Semua Boleh Juara, Asal Bukan Juventus


Hamdani M pada 2020-12-23 jam 12:00 PM


gantigol/Ilham Dito


Ada yang menarik saat menyimak Liga Italia musim ini. Puncak klasemen diisi AC Milan. Persaingan menuju gelar juara disebut lebih kompetitif dibanding tahun-tahun sebelumnya. Setelah satu dekade berada dalam  kesombongan Juventus, kini ada harapan yang membumbung di hati para penggemar sepakbola Italia. Harapan untuk meruntuhkan dominasi Juventus. Ada kebencian umum kepada Juventus. Klub bertabur bintang yang menolak untuk digeser siapa pun. Kebencian inilah yang membuat lahirnya semacam cita-cita tak tertulis penggemar sepakbola Italia. Siapa pun boleh juara, asal bukan Juventus.

Di Italia, Juventus memang menjadi klub dengan tingkat kesuksesan paling tinggi. La Vecchia Signora telah berhasil mendapatkan sebanyak 36 gelar Liga Italia. Raihan gelar ini merupakan yang terbanyak di Italia. Unggul jauh dari pesaing terdekatnya, AC Milan yang mengoleksi 18 gelar.

Dalam satu dekade terakhir, tidak ada satupun klub Italia yang mampu mengusik dominasi Juventus. Terakhir kali Juventus gagal duduk sebagai raja sepakbola Italia adalah pada musim 2010/2011. Saat itu AC Milan, dengan diperkuat nama-nama seperti Zlatan Ibrahimovic, Gennaro Gattuso, Filippo Inzaghi, Thiago Silva, Alessandro Nesta dan Ronaldinho berhasil menjadi yang terbaik sebelum akhirnya Liga Italia kembali membosankan dengan dominasi Juventus.

Kehebatan Juventus bukan hanya direpresentasikan dari jumlah gelar yang mereka raih. Dalam hal perekrutan pemain pun Juventus memiliki daya beli yang jauh lebih kuat dibanding dengan klub-klub Italia lainnya. Ketika klub-klub Italia kesulitan mendatangkan pemain bintang, Juventus dengan congkaknya mendatangkan bintang besar. Cristiano Ronaldo dan Matthijs De Ligt adalah sebagian contohnya.

Yang lebih menyebalkan adalah kepindahan para pemain hebat di Italia menuju Juventus. Kekuatan finansial yang kokoh membuat Juventus mampu dengan mudahnya merampas pemain-pemain berbakat dari para pesaingnya. Dengan iming-iming uang yang besar, pelayanan serta akomodasi klub yang lebih terjamin, Juventus biasa membajak pemain-pemain andalan klub pesaing mereka. Mengempeskan ban lawan. Sebuah cara kuno yang dipakai oleh Juventus untuk menghentikan laju pesaingnya.

Terbaru, Juventus membajak Federico Chiesa dari Fiorentina. Pemain muda yang digadang-gadang pendukung La Viola sebagai aset masa depan klub ini dipaksa menyebrang ke Juventus Arena. Sontak, para pendukung Fiorentina marah besar. Bagaimana mungkin mutiara yang sebentar lagi memasuki masa matang itu justru berganti seragam. Sebelumnya, Juventus juga membajak mesin utama AS Roma. Miralem Pjanic, yang menjadi pemantik serangan AS Roma diiming-imingi prestasi yang lebih baik dengan gaya khas klub elite.

Di luar lapangan nama Juventus tak kalah mentereng. Sejak diambil alih oleh Edoardo Agnelli pada 1923, Juventus menjelma menjadi klub dengan keuangan yang tak tertandingi di Italia. Maklum saja, keluarga Agnelli merupakan bos perusahaan otomotif terkemuka di Italia, Fiat. Fiat sendiri merupakan representasi dari kalangan menengah ke atas di Italia. Pemakainya adalah para pesohor berkantong tebal. Dengan Fiat dibalik nama besar mereka, Juventus semakin menemukan validasi kecongkakan mereka. 

Juventus menjadi tak terkendali dalam laju. Hal ini bisa dilihat dari laju mereka dalam penjualan merchandise klub. Sebagai gambaran, ketika mereka mendatangkan Ronaldo dari Real Madrid, penjualan jersey Juventus dengan nomor punggung tujuh langsung diserbu banyak penggemar. Kurang dari 24 jam sejak dirilis, Pendapatan dari penjualan jersey ini bahkan menyentuh 60 juta dolar. Penghasilan yang menggambarkan penghinaan atas klub-klub lain di Italia.

 

Cara Kotor di Balik Prestasi Juventus

Sebuah lelucon tua Italia menyebutkan, tugas perdana menteri ialah menggosok gagang rumah Agnelli. Lelucon tersebut menggambarkan betapa besarnya pengaruh yang dimainkan oleh keluarga Agnelli. Sebagai pemilik Juventus, ia juga dianggap memainkan peran penting terhadap kesuksesan Juventus di atas lapangan hijau.

Prestasi hebat Juventus dalam jangka waktu yang panjang ini bukan tanpa noda. Banyak pihak yang masih menyimpan rasa tak percaya pada kemampuan lapangan yang sesungguhnya dimiliki pemain Juventus. Kekuatan mereka juga banyak dipengaruhi oleh faktor di luar lapangan. Setidaknya demikian anggapan para pembenci Juventus.

Lihat saja bagaimana perjalanan mereka meraih gelar juara. Meski dari awal hingga menjelang akhir Juventus tidak berada di puncak, entah bagaimana caranya mereka selalu menemukan cara untuk mencapai puncak di detik-detik yang menentukan. Berbagai kisah ganjil dalam pertandingan-pertandingan terakhir di Liga Italia kerap jadi perbincangan. Dan banyak para penggemar sepakbola yang sepakat, keganjilan itu disebabkan oleh pengaruh Agnelli di balik pintu stadion.

Domenico Gramazio, anggota parlemen Italia pernah menyindir sepakbola Italia yang banyak melahirkan rekayasa “Para wasit di italia mengendarai Fiat.” Sebuah pukulan untuk para pengadil lapangan yang ia tuduh banyak menerima suap dari keluarga Agnelli.

La Stampa, koran milik Agnelli bahkan pernah mengecam cara kotor yang dipakai tuannya untuk mendapatkan gelar juara. Dia menyarankan agar orang-orang tidak menerima begitu saja “keuntungan” yang telah didapatkan Juventus. “Orang-orang tidak bisa terus berdiam ketika dihadapkan dengan kebetulan-kebetulan tertentu yang sedemikian unik, dan katakanlah bergizi.” Cerita-cerita kotor di balik prestasi juventus inilah yang kemudian melahirkan satu komunitas pembenci Juventus. Mereka biasa berkumpul pada website “antijuve.com”. 

Apa yang dituduhkan oleh para pembenci Juventus bukan perkara yang mengada-ada. “Awal 90’an sendiri, Agnelli pernah mengeluarkan pernyataan bahwa Fiat telah mengeluarkan suap sebesar 35 juta dolar sepanjang sepuluh tahun sebelumnya. Pengakuan yang membunuh sportivitas Liga Italia.” Tulis Franklin Foer saat menulis tentang skandal Juventus. 

Sikap main belakang Juventus ini kemudian terungkap ke publik ketika federasi sepakbola Italia (FIGC) menyelidiki suap Juventus. Mereka dinyatakan bersalah untuk musim kompetisi 2004/2005 dan 2005/2006. Gelar mereka dicabut. Mereka terdegradasi ke kasta kedua Liga. Kebusukan Juventus kini diketahui seluruh dunia. 

Tapi dasar Juventus, mereka tetap saja punya cara untuk kembali ke kasta tertinggi. Dan kembali (disebut-sebut) banyak bermain belakang.  

 
Momentum Merebut Kejayaan Juventus

Sampai pekan ke 12 Liga Italia 2020/2021, AC milan masih nyaman duduk di puncak klasmen. Mereka]a unggul satu poin dari peringkat kedua, Inter Milan. sementara Juventus yang berada di peringkat tiga terpaut empat poin dari puncak klasmen. 

AC Milan tahun ini bisa dibilang sebagai harapan. Mental juara yang mulai tertanam di dalam diri anak asuh Stefano Pioli ini bisa jadi andalan untuk menghentikan langkah Juventus merebut gelar kesepuluh mereka secara berturut-turut. Keberadaan Ibrahimovic yang berpengalaman bisa jadi pembimbing bagi para pemain muda untuk tetap menjaga ambisi menjegal Juventus dari kemapanan.

Selain AC Milan, nama-nama seperti Inter Milan, Napoli, Atalanta, dan Lazio juga perlu tetap diharapkan. Mereka masih memiliki daya saing yang kuat untuk meruntuhkan altar Juventus. Anak asuhan Conte, Inter Milan, terlihat mulai matang dalam permainan. Dengan Conte, mereka juga semakin stabil. 

Sementara Atalanta, meski tidak diisi oleh nama-nama besar, namun gaya kolektivitas permainan mereka merupakan tantangan bagi siapa pun yang menginginkan gelar juara. Permainan mereka yang tanpa beban, bisa jadi pendorong mereka untuk terus melaju hingga ke puncak. Napoli, meski sudah tidak sekuat tiga sampai lima tahun sebelumnya, tetap menjadi batu sandungan yang tidak boleh dianggap remeh. Lazio, dia bisa jadi kuda hitam yang pergerakannya mengagetkan, mengingat tahun lalu Lazio pernah mempermalukan Juventus pada partai final Piala Super Italia.

Pada klub-klub itulah, harapan untuk menyingkirkan Juventus dari daftar juara itu disandarkan. Tapi sebelum semuanya terbukti, patut untuk selalu mengingat, kompetisi masih panjang. Keinginan untuk menggulingkan Juventus masih jauh dari kata finish. Hari ini AC Milan boleh jumawa. Para pembenci Juventus boleh saja menaruh harapan tinggi. Namun yang harus tetap diingat, masih ada Agnelli dan Fiatnya dibalik berjalannya kompetisi Liga Italia.

Semua bisa dilakukan oleh Agnelli demi membuat Juventus tetap juara. Toh, sejarah mencatat cara-cara kotor dia halalkan demi membuat Juventus juara Liga Italia.


TAG: Serie A Agnelli Juventus






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI