REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Sengkarut Kasus Pelecehan Seksual dalam Sepakbola Perempuan


Hamdani M pada 2021-10-18 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Sepakbola seperti mata air yang tidak diciptakan untuk orang-orang khusus, ataupun gender tertentu. Sepakbola bukan hanya milik laki-laki, perempuan memiliki hak yang sama besarnya dengan para pria untuk menikmati sepakbola. Begitu aturan dasar yang semestinya. Tapi kesempatan perempuan untuk menikmati sepakbola sering kali menemui halangan. Mereka kerap kali mendapat perlakuan yang diskriminatif. Lebih dari itu, dalam sepakbola, perempuan juga masih kerap mendapat pelecehan seksual.  

Salah satu kasus pelecehan seksual yang baru terungkap, dilakukan oleh pelatih yang memiliki nama besar di persepakbolaan Amerika, Paul Riley. Riley dilaporkan oleh Sinead Farrelly dan Maleana Mana Shim, mantan pemainnya sendiri. Riley dituduh telah berusaha melakukan pelecehan seksual pada dua pemain tersebut.

Ia memaksa melakukan hubungan seks dengan kedua pemainnya tersebut. Selain itu, ia juga melontarkan pelecehan secara verbal. Paksaan ini disebut dilakukan Riley dengan memanfaatkan posisinya sebagai orang yang memiliki wewenang atas pemainnya. Dia pelatih. Dia menjadi titik sentral karir pemain. Dalam posisi yang menguntungkan ini, Riley melancarkan aksinya.

Riley tidak sendirian. Ada banyak kasus lain yang serupa dengannya. Kasus Riley hanyalah salah satunya. Beberapa pengamat juga menyebut ini hanyalah gunungan es. Yang nampak hanya sebagian, tapi kasus sebenarnya jauh lebih besar, lebih banyak. Bila tidak segera dibenahi, maka akan merugikan banyak pemain perempuan. Lebih luas lagi, merugikan sepakbola.

Yang kemudian mengusik benak kita adalah, mengapa kasus pelecehan seksual dalam sepakbola perempuan bisa terjadi berlarut-larut? Mengapa kasus seserius ini tidak segera diselesaikan dan diobati sejak dulu? 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, setidaknya ada tiga alasan mengapa hal ini terus tumbuh subur.

 

Tidak Ada Penanganan yang Serius

Ini hampir selalu menjadi masalah di mana pun kasus kekerasan seksual ada. Penanganan kasusnya selalu berbelit, janji penanganannya pun sering hanya berhenti sebatas janji. Laporan tentang pelecehan seksual sering kali diperlakukan tak lebih dari sekadar kabar burung.

7Terutama bila kasus tersebut menyangkut orang yang memiliki posisi strategis. Untuk mengangkat sebuah kasus pelecehan seksual yang dialami pemain, pelapor sering harus membuat laporan yang tidak cukup hanya sekali. Harus rajin-rajin menagih, meski hasilnya tidak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan. 

Dalam kasus pelecehan seksual yang dialami oleh Mana Shim, ia menyebutkan telah melaporkan Riley kepada pihak klub sejak tahun 2015 lalu. Tapi sayang, sejak saat itu tidak ada tindakan pasti yang diambil oleh klub. Pihak manajemen klub terkesan berusaha menjaga nama baik pelatih dan klub. 

Bukan hanya penanganannya yang berbelit, dalam kasus pelecehan seksual lain yang dilakukan oleh Richie Burke, pelatih Washington Spirit, malah lebih menyebalkan lagi. Ia mendapat perlindungan dan pembelaan dari klub ia bernaung. Setelah adanya laporan pelecehan seksual secara verbal yang dilakukan oleh Burke, klub masih terus mempekerjakannya.

Hingga kasus ini diangkat oleh berbagai surat kabar dan klub tidak bisa berkelit, barulah klub memberikan reaksinya. Namun Burke terus diperlakukan istimewa. Baldwin Best, selaku presiden klub memberitahu publik bahwa Burke segera mundur dari kursi kepelatihannya. Ironi, alasan yang disebutkan oleh klub adalah faktor kesehatan sang pelatih, bukan mundur akibat ulah pelecehan seksual yang ia lakukan.


sumber foto: nbcchicago

 

Menuju Normalisasi

Selain karena tidak adanya penanganan yang serius, kasus pelecehan seksual yang terjadi juga menuju ke arah yang lebih berbahaya. Pelecehan seksual pada pesepakbola perempuan sedang menuju ke arah dianggap normal. Ini kecurigaan yang muncul.

Ada sebagian pikiran tak bertanggungjawab yang beranggapan bahwa kasus pelecehan seksual adalah hal yang biasa, konsekuensi dan (semacam) harga yang harus dibayar bagi pesepakbola perempuan. Pola pikir ini dipengaruhi oleh keberadaan pelatih (yang kerap berposisi sebagai penjahat seksual) yang menjadi penentu karir pemain sepakbola. 

Cara pikir seperti ini turut membungkam berbagai pihak. Pengurus klub, pengurus liga, hingga pesepakbola perempuan yang hendak bersuara saat mereka mengalami pelecehan seksual. Ini yang kemudian membuat masalah pelecehan seksual mengendap lama di persepakbolaan perempuan. Karena setiap pesepakbola perempuan yang berusaha mengungkapkannya kepada khalayak umum, harus menanggung resiko karir hancur.

Akhirnya, muncul pemikiran “ya sudah, ini resiko pemain sepakbola perempuan.”

 

Tidak Ada Sistem yang Melindungi Pemain

Kasus pelecehan seksual dalam sepakbola perempuan bukan hanya soal perbuatan satu-dua orang. Sengkarutnya kasus pelecehan sesksual terhadap pesepakbola perempuan juga soal sistem dan lingkungan yang gagal melindungi keberadaan pesepakbola perempuan. Para korban sering dibuat kebingungan kemana harus melapor pelecehan yang mereka alami.

Dalam perkembangannya, sepakbola perempuan belum memiliki organisasi yang memberi wadah bagi mereka untuk berkeluh kesah, yang menjamin kebebasan mereka bersuara. Selama ini mereka hanya bisa melapor kepada pihak klub. Yang membuat para korban meradang, klub lebih memilih untuk tidak mengambil tindakan tegas atas kasus seperti ini. Ada banyak alasan, salah satunya demi melindungi nama baik klub.  

Becik ketitik olo ketoro. Falsafah Jawa ini kembali menemukan kebenarannya. Dengan keteguhan hati dan konsistensi dari para korban, kasus pelecehan seksual yang lama mengendap di persepakbolaan perempuan akhirnya tercium publik. Suara para korban yang dibungkam oleh lingkungan mereka sendiri, akhirnya menemukan alat untuk menjangkau publik dan menekan para pelaku, lewat surat kabar. 

Hingga akhirnya saat berbagai surat kabar mengabarkan berita ini satu per satu, pelecehan seksual yang mereka alami mulai mendapat perhatian. Tekanan besar yang diberikan menuntut adanya perbaikan. Para pelaku mulai mendapat hukuman, dipecat dari klub tempat mereka bernaung.

Liga sepakbola Amerika, dengan munculnya dua kasus pelecehan ini ke muka publik coba untuk membuat layanan pengaduan. Layanan ini ditujukan untuk menampung pengaduan dari pemain yang menerima pelecehan seksual dalam aktivitas mereka di dunia sepakbola. Hal yang sama mungkin bisa ditiru oleh federasi lain. Harus ada tempat mengadu bagi para pemain perempuan yang mengalami pelecehan. Hal ini setidaknya bisa jadi obat saat pemain mengalami perlakuan tidak senonoh. 

Apakah ini berarti pelecehan seksual yang dialami pesepakbola perempuan sudah bisa dianggap beres? Tidak. Jalan masih panjang. Masih ada hal yang lebih penting untuk dilakukan, menciptakan jaring pengaman bagi pesepakbola perempuan. Dunia sedang menuju ke sana.


TAG: Pelecehan Seksual Sepakbola Wanita Laga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI