REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Sepakbola Terasa Sepi di Scilly


Aditya Hasymi pada 2021-07-24 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Biasanya segala hal terkait si kulit bundar selalu penuh hingar bingar. Entah itu berupa suporter berteriak hingga berisik, pemberitaan media kelewat hiperbola, sampai perputaran nominal di atas normal.

Namun, di Scilly, semua itu tiada arti.

Di kepulauan yang beribukota di St. Mary’s ini sepak bola terasa sepi. Bagaimana tidak, saat bal-balan modern dengan mudahnya menggelar liga, mengumpulkan sebelas inti untuk satu tim susahnya setengah mati di Scilly.

Sebuah kewajaran ketika sepak bola tak begitu riuh di Kepulauan Scilly jika ditengok dari segi geografisnya. Walaupun masih dalam lingkup Inggris yang gemerlap, untuk mencapainya butuh perjalanan 40 kilometer menuju barat daya. Terbagi dalam sekira 140 pulau-pulau kecil membuat sekat imajiner itu hadir.

Pun dari segi jumlah manusianya. Jangan bayangkan wilayah ini padat penduduk bak London. Dari total 145 pulau yang membentuk kawasan ini, hanya ada lima yang berpenghuni. Pusat kehidupan wilayah dengan total populasi hanya 77 persen ini berpusat di St. Mary’s dengan pelabuhan, jalan tol, dan bandara menjadi akses utama.

Akan tetapi, sepak bola masih menemukan jalan menembus sunyinya Isles of Scilly.

 

Si Kulit Bundar yang Menelisik di Tengah Sepinya Scilly

Olahraga yang mempertemukan sebelas lawan sebelas ini selalu punya cara untuk hadir di tengah-tengah kehidupan manusia. Tak peduli terhampar di tengah keramaian pusat kota ataupun berdesir pelan di kampung pinggiran, selalu ada cara untuk menyepak si kulit bulat.

Tak main-main pula ujaran sepak bola adalah “The People Game” menurut kaum Britania yang mendaku diri sebagai pendahulu. Berbagai lapisan masyarakat dengan mudahnya bergembira, hanya melalui bola sebagai perantara, tanpa perlu kelengkapan yang muluk-muluk.

Itulah mengapa sepak bola masih sanggup menelisik di tengah kecil dan sepinya Isles of Scilly. Sifat sederhana dan terbuka di berbagai lapisan membukakan pintu bagi bal-balan hadir di kepulauan yang ada di County Cornwall ini.

Agak di luar batas nalar memang, ketika membayangkan wilayah dengan penduduk yang relatif sedikit dan laut terbentang memisahkan pemukiman seperti di Kepulauan Scilly, masih ada semangat bermain bola. Apalagi membuatnya terjadwal dalam sistem liga.


sumber foto: Chris Gorman/Getty Images

Kompetisi dalam bentuk liga telah bergulir di Kepulauan Scilly sejak 1920 silam. Bertajuk Lyonnesse Inter-Island Cup, duel lapangan hijau tersaji di antara pulau-pulau berpenghuni seperti Tresco, St. Martins, St. Agnes, Bryher, dan tentu saja ibukota St. Mary’s. FIFA sebagai otoritas tertinggi sepak bola bahkan telah mengakui ajang tersebut dengan penyebutan Isles of Scilly Football League.

Sayang, seiring berjalannya waktu yang dibarengi berkurangnya populasi penduduk, satu persatu peserta Liga Kepulauan Scilly berguguran. Bak seleksi alam, tersisalah dua kesebelasan yang hingga kini tetap berkompetisi demi melanggengkan tradisi. Pasca tahun 1950, tersebutlah dua seteru abadi: Woolpack Wanderers dan Garrison Gunners.

Woolpack Wanderers yang dominan berwarna merah dan Garrison Gunners yang bangga dengan identitas kuning bertemu rutin setiap tahun dalam kompetisi. Kedua kesebelasan tersebut berduel di Garrison Field, satu-satunya lahan terbuka dengan kondisi layak di St. Mary’s, secara rutin tiap tahun dalam 18 pertandingan liga.

Bisa dibilang, laga yang mempertemukan Wanderers dan Gunners di Kepulauan Scilly ini adalah derbi tersering di dunia. Ritualnya selalu sama: setiap Minggu pagi pukul 10.00 kedua kesebelasan wajib bertanding. Apapun keadaan yang terjadi.

Ya, apapun yang terjadi pertandingan harus bergulir bukan pepesan kosong belaka. Banyak kisah yang kelewat konyol dalam upaya kedua kesebelasan Liga Kepulauan Scilly ini terus merawat tradisi sepak bolanya.

Medio Desember 2016 akan dikenang dalam derbi Wanderers dan Gunners sebagai sebuah perjalanan yang tak melulu mulus. Para pemain dari kedua kesebelasan datang dengan kondisi mata berair dan kaki yang berat karena malamnya bertepatan perayaan pesta boxing day.


sumber foto: fifamuseum

Walaupun dengan kondisi setengah terpaksa, beberapa mungkin belum sadar dari tenggakan bir saat berpesta, demi keberlangsungan liga partai tetap digelar pada pagi harinya. Tetap berlangsungnya bal-balan di Minggu pagi, bagi publik Scilly sendiri, bukan soal rutinitas belaka namun ada ritual sosial disana.

Tak berhenti sampai disitu, kesulitan yang menghampiri pada liga yang hanya diikuti dua tim ini juga seputar mengumpulkan pemain. Diceritakan dalam laporan mendalam yang ditulis oleh Rory Smith pada The New York Times, ada satu waktu dimana kekhawatiran pertandingan gagal dilaksanakan akibat kurang orang itu nyata adanya. Bahkan, penonton harus ikut serta menghitung jumlah pemain yang datang, baik dari Wanderers maupun Gunners, sembari berharap keduanya full-team dan peluit sepak mula dapat berbunyi.

Upaya masyarakat Kepulauan Scilly untuk mempertahankan ritual sosial mereka dalam bentuk sepak bola di tengah sepi berbuah apresiasi. The FA mencatat Wanderers dan Gunners sebagai anggota resmi. FIFA tak kalah bangganya menobatkan partai derbi di Garrison Field ini sebagai “The World’s Smallest League” seturut dengan Guinness Book of Records yang telah lebih dahulu mencatatnya.

 

Sepi yang Semakin Mendesak Sepakbola di Scilly

Ketika berduel dalam tajuk liga dan lawan yang dihadapi hanya itu-itu saja, sontak sebuah pertanyaan terbesit: apakah tidak bosan?

Kebosanan secara kasat mata menjadi momok keberlangsung liga di Kepulauan Scilly. Hampir 71 tahun paling tidak Woolpack Wanderers harus berhadapan dengan Garrison Gunners. Begitupun sebaliknya. Sepi yang ada di wilayah Cornwall ini membuat bal-balan hanya perkara itu-itu saja.

Ternyata jawaban nya justru tidak ketika pertanyaan sederhana itu ditanyakan kepada sang pelaku. Itulah yang dirasakan oleh Andrew Hicks, sang kapten Garrison Gunners.

“Justru bosan semakin terasa ketika sepak bola tidak ada sama sekali”, ujar penyerang Gunners yang pernah mencetak gol kemenangan serupa dengan tendangan salto milik CR7 ini. “Saya akan terus bermain selama tubuh ini masih mampu dan akan luar biasa jika kelak bisa merumput satu lapangan dengan anak saya” tukas Hicks penuh tekad.


sumber foto: getty images

Akan tetapi, niatan Hicks untuk merumput sepanjang hayat tampak menemui jalan terjal dengan kondisi sepi yang menjangkiti Scilly kini. Berkurangnya populasi secara masif yang ditandai keengganan generasi muda untuk menetap menjadi soal.

Hukum alam memang selalu berbicara tegas: daerah yang dianggap tak menjanjikan akan ditinggalkan menuju tanah dengan sejuta harapan. Itulah yang terjadi saat ini di Kepulauan Scilly. Mata pencaharian yang amat bergantung pada sektor pariwisata, dimana musim panas adalah kunci dan diluar itu rugi, dianggap tak prospektif pada mereka generasi produktif. Kondisi tersebut diperparah dengan problem terbesar milenial: harga properti melonjak tinggi hingga mustahil terbeli.

Nahasnya, masalah di atas berdampak pada sepak bola wilayah dengan 145 pulau kecil ini. Tak ada yang namanya regenerasi bakat. Mereka yang berusia muda, di rentang usia 17-30 tahun memilih pindah ke kota lain untuk berkuliah atau mencari penghidupan yang lebih layak.

Sepak bola terasa berjalan sepi akhir-akhir ini di Scilly. Barangkali, Andrew Hicks dan kawan-kawan yang sekarang berusia matang hanya bisa berharap, sembari menjalani ritual menuruni bukit menuju Garrison Field pukul 10 tiap Minggu pagi: semoga kelak ada mereka yang mengulanginya. Lagi dan lagi.


TAG: Scilly Laga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI