REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Sepakbola Tiga Sudut: Mencoba Mendekonstruksi Ulang Permainan Sepakbola


Fiqih Jati Fajar pada 2021-04-22 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Sifat alami manusia pada dasarnya selalu memiliki hasrat pada persaingan, konflik, dan drama. Dengan alasan itu banyak manusia gemar melakukan atau menyaksikan bermacam hal yang punya unsur dari ketiga hal tersebut. Manusia tidak bisa lepas dari drama, alasannya adalah agar hidup tidak berjalan secara statis dan membosankan. Hal tersebut juga berkaitan dengan sepakbola. Inilah yang menjadi salah satu alasan kuat mengapa banyak orang mencintai dan gemar menyaksikan pertandingan sepakbola. Permainan sepakbola mampu menghadirkan tontonan mengagumkan. Pemain yang beraksi di lapangan, menjalankan perannya seperti aktor yang beradu akting di layar lebar.

Namun apakah sepakbola seperti sekarang sudah cukup untuk memuaskan hasrat manusia ? Atau suatu hari nanti sepakbola akan menjadi sangat membosankan? 

Faktanya beberapa orang menganggap bahwa bentuk dari permainan sepakbola saat ini, merupakan faktor utama yang akan membuat sepakbola menjadi sangat membosankan. Kebanyakan orang yang memiliki pemikiran tersebut sudah tidak lagi membutuhkan drama sebagai stimulasi agar mereka senang melihat atau bermain sepakbola. 

Dengan dasar pemikiran tersebut seorang seniman asal Denmark bernama Asger Jorn, melahirkan satu gagasan menarik tentang sepakbola gaya baru. Sepakbola yang dimainkan dengan wujud yang berbeda dari biasanya.

Asger Jorn lahir di Denmark pada 3 Maret 1914 dan merupakan anggota dari COBRA, gerakan seni Avant-Garde yang terkenal dengan beberapa seniman sayap kiri di dalamnya. Pada tahun 1957, Asger Jorn bersama Guy Debord dan beberapa seniman eksentrik lainnya mendirikan sebuah organisasi aktivis sosial yang mengombinasikan ekspresi politik radikal dengan tradisi berkesenian eksperimental bernama Situationist International.

Dengan latar belakang seni eksperimental dan pemahaman politik yang kuat, akhirnya membuat Jorn berpikir untuk menggagas sebuah ide menarik dengan mengubah konsep permainan sepakbola pada tahun 1962. Ide menarik Jorn mengenai sepakbola baru tersebut adalah tiga gawang dengan tiga tim sepakbola di dalam satu lapangan atau lebih dikenal dengan sebutan three sided football atau 3SF.

Permainan three sided football sangatlah unik, di mana permainan ini tidak hanya melibatkan dua tim saja, melainkan tiga tim dalam sebuah pertandingan dan dimainkan di atas lapangan berbentuk hexagonal atau biasanya disebut persegi enam. Tidak ada wasit atau asisten wasit dalam pertandingan, tidak ada hakim pertandingan dan semacamnya, Yang ada hanyalah konsensus atau kesepakatan bersama dari ketiga tim. Hal tersebut berlaku juga untuk urusan teknis dan yang lebih mengasyikkan adalah aturan di dalam permainan three sided football sangat dinamis dan begitu luwes. Inti dari permainan three sided football adalah kerja sama tim.

Asger Jorn menganggap bahwa sepakbola memiliki prinsip “us vs them” di mana “us” diartikan sebagai masyarakat kelas bawah yang semangat dan “them” adalah masyarakat kelas atas arogan. Atas dasar itu, Jorn menawarkan ide three sided football sebagai representasi perjuangan alternatif untuk menciptakan kesadaran kolektif dan gotong royong dalam kehidupan sosial masyarakat.

Melalui ide ini pula Asger Jorn ingin menjelaskan pengertiannya tentang trioletics, penyempurnaan konsep dialektika marxisme, dan untuk memberikan gaya baru tentang sepakbola. Three sided football secara filosofis sangat memungkinkan sebuah pertandingan sepakbola yang tidak membosankan, di mana tidak ada tim yang akan mendominasi atau didominasi oleh tim lainnya dan permainan ini merupakan bentuk subversi terhadap hegemoni korporasi dan dominasi kapital yang merusak arti sepakbola tradisional.

Pertandingan pertama three sided football yang diketahuai pada tanggal 28 Mei 1993 di Glasgow Anarchist Summer School, diselenggarakan oleh London Psychogeographical Association. Permainan three sided football mulai populer di Eropa pada era 90-an setelah pseudonim Luther Blissett mempromosikan ide Asger Jorn tersebut di Skotlandia, Serbia, Polandia, Italia, Inggris, dan Austria. Ketika Inggris mengadakan pemilu pada tahun 2010 lalu, Whitechapel Gallery bekerja sama dengan Philosophy Football FC mengadakan sebuah pertandingan yang bertempat di Haggerston Park dan tiga tim yang bertanding saat itu menggunakan nama-nama partai yang sedang berebut kekuasaan dalam Pemilu Inggris 2010, nama-nama partai tersebut adalah Partai Konservatif, Partai Buruh dan Partai Demokrat Liberal. Setelah pertandingan tersebut akhirnya mulai banyak orang orang yang tertarik mengadakan pertandingan three sided football.

Pada 14 September 2013 menjadi hari bersejarah, selain bertepatan dengan pemeran Istanbul Bennial ke-13 dan diselenggarakan sebuah pertandingan three sided football yang mempertemukan Philosophy Football (Inggris), Dynamo Windrad (Jerman), dan Ayazma FC (Turki). Pelatih Philosophy Football, Geoff Andrews, mengumumkan berdirinya International Three Sided Football Federation sebelum pertandingan ini.

Berikut ini adalah tata cara permainan three sided football yang tulis oleh situs philosophy football fc :

1. Throw-in, goal-kick, dan corner

Dalam lapangan segi enam yang digunakan untuk bermain, setiap tim memiliki dua sisi lapangan: backside yang merupakan sisi di mana letak gawang berada dan frontside yang merupakan sisi berlawanan dengan gawang. Jika bola yang ditendang oleh tim lawan keluar di antara sisi lapangan milik timmu, kamu berhak melakukan lemparan ke dalam atau goal-kick. Sementara jika yang menendang bola ke luar lapangan adalah timmu, tim lawan yang mendapatkan lemparan ke dalam atau sepak pojok (corner kick) adalah tim yang letak gawangnya paling dekat dengan sisi di mana bola itu keluar.

2. Sistem skor dan penentuan pemenang

Gol yang dicetak oleh sebuah tim sepakbola dalam pertandingan three sided football tidak dihitung. Pemenang dalam permainan ini bukanlah tim yang paling banyak mencetak gol, melainkan tim yang paling sedikit kebobolan gol. 

3. wasit

Pertandingan three sided football memiliki prinsip tanpa wasit dengan alasan seperti yang dilansir dalam situsweb Philosophy Football FC, bahwa "permainan ini diciptakan dan dimainkan untuk mendekonstruksi mitos struktur sepakbola konvensional”. Namun jika memang tiga tim sepakbola yang bertanding memutuskan untuk menggunakan jasa wasit, mereka dibolehkan memilih dua wasit secara konsensus agar mampu membuat keputusan-keputusan yang tepat, cerdas, dan adil secara filosofis sepanjang pertandingan.

4. Durasi pertandingan

Tidak ada batasan waktu yang pasti. Semua tim bebas bermain hingga mereka merasa lelah atau bosan. Tetapi jika menyimak pertandingan yang sudah dimainkan, three sided football sudah cukup ideal dimainkan dalam waktu 30 menit. Pergantian pemain pada permainan ini dilakukan secara bergilir dan aturan lainnya, tidak ada offside pada permainan ini.

Sebagian orang bisa saja menganggap bahwa three sided football bukanlah permainan sepakbola, sebab pada umumnya sepakbola merupakan permainan yang dilakukan oleh dua tim dalam satu pertandingan dan gol menjadi simbol hitungan yang memengaruhi hasil pertandingan untuk menentukan siapa yang menjadi pemenangnya. Three sided football adalah alternatif baru untuk sepakbola, yang bertujuan untuk mendekonstruksi dan meredefinisikan ulang sepakbola dengan gaya baru. Berani mencoba?


TAG: Three Sided Football Asger Jorn






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI