REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Simone Verdi, Sang Wonderkid yang Telat Bersinar


M Bimo pada 2020-09-24 jam 12:00 PM


Ilham Dito


Italia memiliki segudang pemain muda berbakat. Meski nggak seterkenal La Masia, namun beberapa akademi klub Serie A rajin mengorbitkan bibit-bibit muda yang siap bersinar untuk timnas Italia. AC Milan dan Inter Milan cukup sering mempromosikan pemain binaan mereka ke tim senior.

Nama-nama seperti Mario Balotelli dan Gianluigi Donnarumma pernah dan sedang menjadi pemain andalan timnas Italia dulu dan kini. Akademi Atalanta juga disebut sebagai salah satu akademi pemain muda terbaik di Italia karena punya sistem latihan khusus, ketat dan efektif.

Namun, beberapa pemain muda namanya tak betah lama-lama bersinar. Hanya beberapa saat, nama mereka mulai meredup seiring berjalannya waktu. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah besarnya ekspektasi publik terhadap pemain muda tersebut. Faktor ini membuat tekanan yang dipikul sang wonderkid juga terlalu berat.

Lihat saja karier Balotelli yang musim lalu berseragam klub yang terdegradasi dari Serie A, Brescia. Dia terancam bermain di Serie B untuk musim depan kalau tak dipinang klub lain. Donnarumma yang waktu awal kemunculannya dijuluki penerus Gianluigi Buffon, padahal usianya baru 17 tahun, pun belum menemukan batu loncatan yang pas dalam kariernya. Meski saat ini usianya masih 21 tahun, sih.

Satu lagi mantan pemain muda yang bisa dibilang harusnya dulu bisa bersinar ialah Simone Verdi. Gelandang serang yang kini berusia 28 tahun itu merupakan jebolan akademi AC Milan. Ia menghabiskan delapan tahun di tim junior sebelum akhirnya pada 2010 dipromosikan ke tim senior meski tak memainkan satu laga sekalipun.

Musim lalu, ia memegang peranan penting bagi Torino dalam mempertahankan status klub Serie A. Pada 26 Juli 2020, Torino bertandang ke SPAL dan hanya membutuhkan satu poin agar tak terjerembab di jurang degradasi. Pertandingan berakhir dengan skor 1-1. Verdi setidaknya menciptakan tiga peluang emas di pertandingan itu. Dua mengarah ke gawang, satu tendangan off target dan mencetak satu gol indah.

Simone Verdi merupakan pemain muda potensial pada zamannya. Delapan tahun di akademi Milan, tentunya membuat pemain yang sempat mencicipi berseragam Gli Azzurri ini sudah banyak makan asam garam selama di sana.

Namun setelah menempuh jalan panjang, Verdi malah mengalami kemunduran. Performanya yang tidak konsisten membuat kesempatan dia untuk bermain di level tertinggi semakin hilang. Tapi, pemain ini beberapa kali dibutuhkan karena secara tak terduga kerap menghasilkan momen-momen cemerlang pembalik keadaan.

Asam garam perjalanan karier Simone Verdi

Selepas tak berhasil di Milan, Verdi mulai melanglang buana pindah dari satu klub dan klub lain. Dari Milan, ia berlabuh ke Torino namun banyak menghabiskan kontraknya sebagai pemain pinjaman di Juve Stabia dan Empoli sebelum akhirnya balik lagi ke Milan. Ia pernah mencicipi sepakbola Spanyol saat dipinjamkan ke Eibar, namun tetap tak berhasil juga.

Musim 2016 hingga 2018 di Bologna bermain sebanyak 66 kali, Verdi kemudian pindah ke Napoli. Kini ia kembali berseragam Torino sebagai pemain pinjaman. Musim lalu gelandang serang ini dimainkan sebanyak 33 kali dan mencetak dua gol. Salah satunya gol penyelamat asa Torino untuk tetap bertahan di Serie A.

Bisa dibilang, musim 2019-2020 adalah musim terbaiknya bersama Torino sepanjang karier. Penyebabnya adalah Torino tak menuntut apa-apa dari pemainnya ini, termasuk konsistensi. Faktor ini yang justru membuat pemain kelahiran Broni itu tak memikirkan untuk menjadi pemain yang menonjol.

Sebab bagi dia, keinginan untuk menonjol itu adalah titik jatuh untuknya. Terlalu bersemangat untuk mempertunjukkan apa yang bisa ia lakukan malah terasa membebani. Hal ini membuat performa pemain terlihat membosankan dan tidak efektif karena terus berusaha namun tak membuahkan hasil.

Sebenarnya Simone Verdi tak sendiri. Beberapa pemain muda prospek masa depan Italia banyak yang bernasib seperti dirinya. Alberto Grassi yang kini berseragam Parma, pernah jadi bahan perbincangan ketika bergabung ke Napoli. Namun karier pemain tengah ini berakhir dipinjamkan ke Atalanta, SPAL dan Parma sebelum akhirnya dipermanenkan. Ya, Grassi tak berhasil naik ke level yang lebih tinggi dan sekarang mencoba menemukan celah seberapa jauh ia bisa berlari bersama Parma.

Ada juga Andrea Palazzi yang promosi dari tim muda Inter Milan ke tim senior. Tapi pada akhirnya memutuskan hubungannya dengan Inter dan memilih pindah ke Monza dan berakhir sebagai pemain pinjaman di Palermo. Dulunya, banyak ekspektasi yang diberikan kepada pemain muda ini. Apalagi ia dikenal sebagai pemain tengah serba bisa yang bisa ditempatkan di mana saja di lini tengah.

Tapi itulah potret ironi yang terjadi bagi banyak pemain muda Italia. Harapan yang terlalu besar di usia yang masih dini, terkadang malah membuat mereka jatuh dan sulit bangkit.

Kembali ke Simone Verdi, tendangannya yang meringkuk di bawah mistar Demba Thiam bisa jadi pertanda kebangkitan sang wonderkid yang sudah tidak muda lagi. Berkat Verdi, Torino aman dari jurang degradasi dan Verdi sendiri disebut sebagai pahlawan pada pertandingan itu.

Satu kesempatan lagi bagi Simone Verdi untuk mencoba menggapai level tertinggi di dalam perjalanan kariernya. Tapi satu yang perlu diingat, Verdi kini usianya sudah 28 tahun. Dia bukan lagi seorang pemain yang bisa berkembang. Ia sudah terbentuk seperti yang terlihat sekarang.

Pada tahap karier ini, yang harus ia lakukan adalah mempertahankan kekuatan yang dapat diandalkan tim, mampu mempertahankan tingkat konsistensi dan memastikan penampilannya dapat bermanfaat bagi timnya.

Memang mudah dikatakan, namun jika Simone Verdi bisa mencetak gol seperti ke gawang SPAL secara teratur, bukan tak mungkin Torino rela menggelontorkan 20 juta Euro untuk mempermanenkannya sebagai pemain Il Toro dari Napoli.


TAG: Serie A Simone Verdi Ac Milan Torino Napoli






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI