REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Stadio Delle Alpi Bukan Stadion Impian


M Bimo pada 2021-04-23 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Klub sepakbola selalu memiliki ikon yang berketerkaitan dari berbagai aspek. Mulai dari pemain, pelatih, lambang, suporter, sampai stadion yang mereka tempati sebagai markas, semuanya memiliki sejarah dan kontribusinya masing-masing.

Membahas tentang stadion, beberapa yang ditempati oleh klub tersohor Eropa punya popularitas yang tinggi. Seperti misalnya Camp Nou untuk Barcelona, San Siro untuk AC Milan, Old Trafford untuk Manchester United dan masih banyak lagi.

Stadion-stadion ini menjadi saksi kejayaan hingga keterpurukan sebuah tim. Mereka bahkan punya daya magis di mana bisa mempengaruhi lawan yang bertandang seperti dari atmosfer pertandingan misalnya.

Sebelum memiliki Juventus Stadium, Juventus menempati rumah bernama Stadio Delle Alpi selama bertahun-tahun. Mereka berbagi kandang dengan tim sekota Turin, Torino, dan stadion ini juga menjadi saksi sejarah kejayaan tim berjuluk Nyonya Tua menguasai Italia.

Tapi sayangnya reputasi Delle Alpi di mata suporter Juventus maupun Torino tidak terlalu bagus. Stadion ini dirancang bagaikan bukan untuk rumah bagi sepakbola. Stadion yang digusur pada 2009 ini bahkan tidak memiliki aura magis dari atmosfer pertandingan meski puluhan ribu suporter memadati tribun.

Stadion ini dibangun oleh dewan kota pada 1990 untuk menyongsong Italia sebagai tuan rumah Piala Dunia 1990. Secara teori, Stadio Delle Alpi dirancang sebagai stadion yang futuristik. Empat layar besar yang terpasang di atas stadion menambah kemewahan stadion satu ini.

Tentu sebuah kebanggaan bagi Juventus dan Torino bisa pindah ke rumah baru usai menghabiskan waktu 57 tahun bermarkas di Stadio Comunale. Kedua klub asal Turin ini bak pindah dari rumah sederhana ke rumah yang lebih mewah dengan ukuran stadion yang lebih besar dan kapasitas penonton yang jauh lebih banyak.

Tapi, ekspektasi tak selalu sesuai dengan realitanya. Dikarenakan satu dan lain hal, para suporter justru ogah membeli tiket dan menonton langsung pertandingan di Delle Alpi.

Mengorbankan Tampilan di Atas Kenyamanan

Dibangunnya stadion yang terletak di kota Turin ini tak terlepas dari pendanaan Komite Olimpiade Italia. Alhasil, Delle Alpi tidak hanya memiliki lapangan sepakbola saja di dalamnya, melainkan juga ada lintasan atletik yang mengitari lapangan tersebut.

Tapi anehnya, lintasan atletik ini nyaris tak tersentuh. Acara-acara olahraga atletik besar pun tak mau menggunakan karena Delle Alpi tidak memiliki trek pemanasan yang dianggap tidak memenuhi syarat dan standar.

Keberadaan lintasan atletik ini pun jadi blunder terbesar dalam pembangunan stadion itu. Para suporter yang sering datang baik untuk menonton Nyonya Tua maupun Il Toro, banyak mengeluhkan jarak yang cukup jauh antara tribun dan lapangan. Hal ini membuat visibilitas penonton dari tribun sangat buruk, bahkan lebih nyaman nonton di televisi. Tak hanya itu, struktur stadion yang terlalu terbuka dianggap tak bisa melindungi penonton dari udara dingin maupun hujan.

Oleh karena faktor ini, para suporter sulit untuk membuat atmosfer yang kuat di Stadio Delle Alpi. Lokasi stadion yang berada di pinggiran kota tak memiliki akses yang nyaman untuk dikunjungi. Apalagi ditambah dengan sewa stadion yang selangit, cukup membuat dompet kedua klub kembang kempis. Dengan cepat, suporter Juventus dan Torino tidak menyukai stadion baru mereka itu.

Padahal di era ketika Juventus baru pindah ke stadion baru, yakni sekitar era 1990an, Nyonya Tua sedang menikmati salah satu periode paling sukses dalam perjalanan klub. Termasuk lolos ke final Champions League tiga kali berturut-turut dan menjuarainya pada 1996. Mereka juga merengkuh trofi Europa League dan tiga gelar Serie A selama dekade tersebut.

Nama-nama pemain hebat nan legendaris pun muncul, sebut saja seperti Alessandro Del Piero, Gianluca Vialli, Didier Deschamps, dan Ciro Ferrara menjadikan tim asuhan Marcello Lippi sebagai salah satu yang paling dikagumi di dunia sepakbola.

Namun, ini berbanding terbalik dengan keadaan di tribun. Selama musim 1996-1997, ketika Juventus mencapai final Champions League dan menjuarai Liga Italia, penonton yang hadir dari maksimal kapasitas stadion 67.000 lebih, rata-rata tiket mereka terjual hanya sebanyak 40.000 lembar saja.

Bahkan karena reputasi stadion yang buruk, laga kandang Juventus untuk semifinal dan final Europa League 1995 (saat itu masih diberlakukan dua leg) harus dipindah ke San Siro demi menggaet penonton yang datang ke stadion lebih banyak.

10 tahun pertama Stadio Delle Alpi memang berjalan tak begitu mulus. Ketika masuk ke era 2000an, bahkan lebih parah lagi. Juventus pernah meraih penonton terendah yakni hanya sebanyak 237 pasang mata saja. Itu diraihnya pada gelaran Coppa Italia melawan Sampdoria.

Juventus juga kabarnya pernah memberikan 26.000 tiket gratis untuk pertandingan 16 besar Champions League saat Pavel Nedved dan kawan-kawan menjamu Werder Bremen pada 2006 lalu.

Akhirnya pada 2009, Stadio Delle Alpi yang kurang populer itu dihancurkan. Tanahnya kemudian dibangun stadion baru yang diberi nama Juventus Stadium pada 2011. Juventus telah membeli Delle Alpi pada 2001 silam, sehingga pembangunan stadion baru yang lebih ideal dapat terwujud satu dekade kemudian.

Penggusuran stadion biasanya sarat akan emosi oleh para suporter dan tim yang terlibat. Hanya sedikit air mata yang menetes saat stadion ini dirobohkan. Delle Alpi adalah contoh stadion yang mengorbankan aspek kenyamanan hanya demi mengedepankan tampilan futuristik.

Selama kurang lebih 16 tahun berdiri, Delle Alpi gagal mendapatkan tempat di hati para penonton meskipun sempat menjadi saksi kejayaan Juventus.


TAG: Delle Alpi Juventus Fc Torino Serie A Liga Italia






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI