REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Tak Perlu Lagi Berlutut Sebelum Pertandingan


M Bimo pada 2021-09-27 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Sejak musim lalu, beberapa liga dan tim yang berkompetisi di Eropa memutuskan untuk berlutut sebelum pertandingan. Liga Inggris dan Liga Jerman secara resmi memberlakukan aksi ini setelah project restart atau saat kompetisi berlangsung kembali setelah vakum karena pandemik. Pada gelaran Euro 2020 juga melakukan aksi berlutut ini.

Berlutut sebelum pertandingan adalah aksi solidaritas sebagai bentuk dukungan gerakan Black Lives Matter. Gerakan ini muncul untuk menghormati meninggalnya George Floyd, seorang pria kulit hitam yang tewas tercekik oleh seorang polisi Amerika Serikat.

Sebelum disahkan Liga Inggris, Chelsea sudah melakukannya lebih dahulu. Lewat postingan Twitter pada tanggal 2 Juni 2020, Chelsea mengunggah para pemain dan staff yang berlutut saat akan melakukan latihan. Sementara itu, Liga Jerman memberlakukan aksi ini pada 16 Mei 2020.

Sebelumnya, slogan Black Lives Matter juga tertempel di jersey-jersey kontestan Liga Inggris sejak musim 2019-2020 dimulai kembali. Meskipun kemudian slogan itu diganti dengan No Room For Racism yang merupakan gerakan anti rasisme yang dibuat oleh Liga Inggris itu sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, banyak pertentangan dari para pemain terhadap aksi solidaritas melawan rasisme ini. Beberapa pemain mulai menolak berlutut dan memilih tetap berdiri meski pemain dan staf lain berlutut.

Mereka menganggap bahwa aksi tersebut hanya kosmetik di dalam sepakbola. Dalam artian lain, berlutut sebelum pertandingan hanya hiasan yang memiliki dampak yang besar dalam memberantas rasisme di dalam maupun luar lapangan hijau.

 

Apa Kata Suporter?

Firma riset pasar dan analisis data berbasis internet, YouGov, penasaran dengan pendapat suporter soal aksi berlutut sebelum pertandingan ini. Dilansir SkySports, YouGov melakukan survei terhadap suporter berbagai liga di Eropa seperti Inggris, Italia, Prancis, Portugal, Belanda, dan beberapa negara Eropa lain.

Mereka ditanya, setuju atau tidak kalau pemain dan staf klub yang kamu dukung melakukan aksi berlutut sebelum pertandingan untuk melawan aksi rasisme?

Mayoritas suporter yang berasal dari negara Portugal, Inggris, Italia, Spanyol, Jerman, Wales, Prancis, dan Skotlandia yang mengisi survei mengaku setuju dengan gerakan ini. Hanya Belanda yang menurut survei itu suporternya kebanyakan tidak mendukung gerakan itu, yakni dengan persentase sebesar 54 persen.

Para suporter juga disodori survei lain dengan pertanyaan, seberapa penting gestur berlutut dalam melawan rasisme?

Ketika ditanya soal penting atau tidak penting, hanya 37 persen penggemar sepakbola di Inggris yang menganggap aksi itu penting. Sementara 57 persen menganggap tidak penting dalam mengatasi rasisme dan 5 persen sisanya ragu-ragu.

Hasilnya juga sama dengan survei yang diisi oleh suporter dari Skotlandia, Wales, dan Belanda. Mayoritas dari mereka menganggap bertekuk lutut kurang dianggap penting sebagai simbol perlawanan rasisme.

Sementara itu suporter dari Jerman, Italia, Spanyol, dan Portugal masih menganggap aksi ini penting untuk dilakukan.

 

Mereka yang Menolak

Hingga kini, gerakan berlutut sebelum pertandingan masih dilakukan di berbagai liga sepakbola Eropa. Namun, sudah ada beberapa pemain yang menolak untuk melakukannya karena menganggap aksi ini kurang penting dan berbagai alasan lainnya.

Wilfried Zaha menjadi pemain Liga Inggris pertama yang terang-terangan menolak. Pada Maret lalu saat pertandingan Crystal Palace kontra West Bromwich, Zaha memilih berdiri meski semua pemain dan staf berlutut.

Ia menganggap kalau aksi ini hanya akan menjadi rutinitas sebelum pertandingan saja. Toh, dia mengaku tetap saja mendapat tindakan pelecehan ras selama aksi ini dilakukan.

"Saya akan terus berdiri tegak," tegas Zaha seperti dilansir Goal.

Pada Euro 2020 lalu, setidaknya ada empat tim yang melakukan penolakan. Kroasia menyebut tidak ada paksaan kepada pemain dan staf untuk berlutut sebelum pertandingan. Tapi Luka Modric dan kawan-kawan saat itu sepakat untuk tidak melakukannya. Menurut mereka, setiap individu memiliki cara sendiri untuk menendang rasisme.

Skotlandia menolak berlutut pada Euro karena menurut pelatih Steve Clark, mau berlutut atau tidak aksi rasisme tetap saja terjadi. Sementara Hungaria menyebut kalau gerakan tersebut mengandung muatan politik, oleh karena itu mereka menolak melakukannya.

Tim terakhir yang menolak berlutut adalah Republik Ceko. Setelah berbagai kontroversi, pemain dan staf Ceko hanya melakukan aksi simbolis menunjuk badge Respect pada jersey mereka sebagai gantinya.

Terbaru, Marcos Alonso dari Chelsea juga tidak mau melakukan aksi berlutut lagi. Ia sudah melakukannya pada pertandingan derby kontra Tottenham Hotspurs pada 19 September lalu.

Pemain berkebangsaan Spanyol ini lebih suka menyoroti gerakan No Room For Racism dan UEFA's No To Racism. Sebagai gantinya, ia akan menunjuk badge No To Racism yang tertempel di jerseynya saat pertandingan.

Seperti yang disebutkan oleh pelatih Skotlandia, mau pakai aksi berlutut atau tidak aksi rasisme tetap saja ada di dalam dan luar lapangan hijau. Bek Aston Villa dan Timnas Inggris, Tyrone Mings, berujar jika aksi ini dihentikan pun tidak akan memberikan dampak penting apa-apa.

"Saya kira jika kami berlutut lalu berhenti melakukannya, aku tidak yakin diskriminasi rasial baik verbal maupun online akan berhenti terjadi. Ini cuma seperti pemanis bibir saja," katanya seperti dilansir SkySports.


sumber foto: irishtimes

Tim yang baru promosi ke Premier League, Brentford, pun sudah berhenti melakukan gerakan itu. Mereka percaya bahwa berlutut sebelum pertandingan sudah tidak berdampak pada apapun.

Sementara itu, Direktur Sepakbola Queens Park Rangers, Les Ferdinand, mengatakan bahwa pesan di balik gerakan ini sudah hilang. Sehingga mau dilakukan atau tidak, berlutut sudah tidak memberi pesan apa-apa dan hanya dianggap sebagai rutinitas saja. Maka dari itu, QPR yang berlaga di Divisi Championship sudah mulai berhenti melakukannya sejak September tahun lalu.

Sudah banyak pemain dan tim yang tak percaya gerakan berlutut sebelum pertandingan efektif menekan tindakan diskriminasi rasial. Mereka menyadari kalau ada motif tertentu di balik gerakan ini. Paling jauh, berlutut hanya akan menjadi kebiasaan, kosmetik, dan hiasan saja dalam sepakbola.

Memang sulit untuk memberantas rasisme. Apalagi sekarang ini diskriminasi dan pelecehan ras bukan lagi hanya terjadi di lapangan atau stadion saja. Berkembangnya media sosial pun berdampak lumayan hebat dalam penyebaran rasisme. Coba kamu sekali-sekali mampir ke kolom komentar media sosial dari seorang pemain. Dijamin, pasti ada komentar rasis yang diketikkan warganet untuk merendahkan ras dari pemain tersebut.

Jika ingin benar-benar menendang rasisme, ya harus dimulai dari kesadaran diri sendiri. Baik suporter, pemain, staf, dan pelatih bisa saja menjadi pelaku tindakan tak terpuji itu.

Kalau menurut kamu, aksi berlutut ini perlu dilakukan dan penting atau nggak, sih?


TAG: Rasisme Lawanrasisme Laga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI