REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Terbitnya Sepakbola Vietnam


M Bimo pada 2021-08-02 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Sepakbola Asia Tenggara memang masih belum bisa berbicara banyak di kancah Piala Dunia. Sejauh ini baru Indonesia yang pernah merasakan atmosfer Piala Dunia 1938. Saat itu pun masih memakai nama Hindia Belanda karena masih di bawah jajahan Belanda. Indonesia menjadi negara Asia Tenggara pertama yang pernah tampil di ajang tersebut. Namun hingga kini belum ada penerusnya.

Vietnam punya kans yang tinggi untuk menjadi negara Asia Tenggara kedua yang bisa lolos ke putaran final Piala Dunia. Kini timnas berjuluk Golden Stars Warriors tersebut sudah berada di fase ketiga kualifikasi Piala Dunia 2022. Ia berada di grup B dan harus menyingkirkan Australia, China, Jepang, Oman, dan Arab Saudi untuk bisa lolos ke Qatar.

Vietnam menjadi satu-satunya wakil Asia Tenggara di ajang tersebut. Ini adalah sebuah pencapaian dalam rangka menunjukkan taji mereka sebagai salah satu negara kuat di wilayah Asia Tenggara.

Vietnam mungkin hebat, namun kamu perlu tahu kalau mereka ini bisa dibilang anak bawang. Perkembangan sepakbola mereka dulunya kalah jauh tertinggal dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Namun apa yang membuat Vietnam bisa tancap gas merangsek Big Four Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura) dan saat ini bahkan sudah tinggal selangkah lagi lolos Piala Dunia?

 
Dihantam Perang

Vietnam termasuk telat dalam mengembangkan sepakbola di negerinya. Ketika Indonesia sudah disegani dan mendapat reputasi serta julukan Macan Asia pada era 1950-1960, Vietnam masih disibukkan oleh perang hingga 1970an. Saat itu, mereka belum sama sekali fokus mengembangkan sepakbola. Hingga perang usai sekali pun, Vietnam masih fokus membangun negerinya yang berantakan gara-gara perang daripada bermain bola.

Sebenarnya Vietnam merdeka tak lama setelah Indonesia yakni pada 2 September 1945. Namun perang masih terus menyertai negara tersebut hingga pasca-Perang Dunia II. Padahal di tahun 1970an, tetangga mereka seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura sudah mulai membangun reputasi dan berlomba menjadi negara dengan sepakbola terkuat di Asia Tenggara.

Menurut buku Football in Asia: History, Culture and Business karya Cho Young Han, Vietnam sebenarnya mulai kenal sepakbola tak berbeda jauh daripada ketiga negara kuat di ASEAN atau negeri-negeri Afrika dan juga Amerika Selatan. Sebab, sepakbola dibawa dan diperkenalkan oleh masing-masing penjajah atau penguasa negara mereka saat itu.

Di Malaysia, sepakbola diperkenalkan oleh Inggris bersamaan dengan olahraga Barat lainnya. Sedangkan Belanda mengenalkan sepakbola di Indonesia melalui kantor-kantor dagang, militer, dan pegawai sipil. Sementara itu di Vietnam, menurut Cho, sepakbola dibawa oleh militer Prancis.


sumber foto: saigoneer

Meski belum diketahui pasti kapan sepakbola pertama kali dimainkan oleh Vietnam, namun beberapa sumber menyebutkan sepakbola sudah dimainkan di Cochinchina sejak 1986. Pegawai sipil, pedagang, dan militer kolonial Prancis merupakan tokoh pertama yang memainkan sepakbola di Negeri Paman Ho tersebut.

Pertandingan sepakbola pertama yang dimainkan di Cochinchina mempertemukan antara tim militer Prancis melawan Inggris pada 1905. Pertandingan ini diadakan sebagai bentuk jamuan tuan rumah atas kedatangan kapal penjelajah Angkatan Laut Inggris.

Cochinchina adalah daerah yang berada di Vietnam Selatan yang memiliki ibu kota Saigon. Itu merupakan kota terbesar dan memiliki banyak penduduk, sehingga sepakbola bisa lebih populer daripada kota lainnya.

Setahun kemudian yakni pada 1906, Vietnam Cercle Sportif Saigonnais (CSS) lahir. Itu adalah perhimpunan olahraga tertua yang dimiliki oleh Vietnam. CSS membuat tim bernama sama yang kemudian menjadi tim sepakbola pertama yang lahir di Vietnam.

Lahirnya CSS kemudian menyulut klub-klub baru bermunculan di Saigon. Di antaranya ada Athletic Club yang diisi oleh para pegawai perusahaan swasta, Tabert Club yang anggotanya para pelajar blasteran Eropa-Asia, Chinese Sporting Club dari golongan orang-orang China, dan ada juga klub Gia Dinh Sport  yang mewakili orang Vietnam lokal.

Tak cuma di Saigon, kepopuleran sepakbola sudah merambah kota lain seperti Tonkin dan Annam. Pada 1915 mulai bermunculan klub-klub amatir di sana seiring dengan dibentuknya komite olahraga di wilayah itu.

Sementara itu, kompetisi sepakbola di Vietnam baru ada pada 1914. Kompetisi yang diberi nama Kejuaraan Cochinchina diikuti oleh tim-tim bentukan orang Eropa di selatan Vietnam. Pada 1920, mulai banyak kompetisi lain bermunculan. Tak hanya diikuti klub lokal Vietnam, klub dari Laos dan Kamboja pun ikut berkompetisi di Vietnam.

Vietnam juga merupakan salah satu pioner sepakbola perempuan di Asia. Mereka memiliki tim putri bernama Cai Von yang terbentuk pada 1932. Setahun kemudian, ada satu klub lagi yang terbentuk yakni Rach Gia Sport.

 

Akar Masalah Ada pada Lemahnya Mentalitas Pemain Muda

Perang Dunia II sungguh lah membuat Vietnam hancur berantakan. Gara-gara perang ini juga Vietnam pernah terbelah menjadi dua bagian, Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Masing-masing wilayah itu memiliki asosiasi sepakbola sendiri, Asosiasi Sepakbola Republik Vietnam untuk selatan pada 1949 dan Asosiasi Sepakbola Republik Demokratik Vietnam untuk utara pada 1954.

Keduanya sama-sama mencari pengakuan akan identitas nasional dan tentu saja mereka saling mengaku paling unggul satu sama lain. Kedua asosiasi sepakbola itu diakui oleh AFC. Tapi hanya Vietnam Selatan yang diterima sebagai anggota FIFA.

Maka dari itu, Vietnam Selatan yang berhak mengikuti gelaran Kualifikasi Piala Dunia, Piala Asia, dan Asian Games. Sementara itu kompetisi internasional yang pernah diikuti Vietnam Selatan hanya Ganefo I (Games of the New Emerging Forces) 1963 di Jakarta dan Ganefo II 1967 di Phnom Penh. Laga lainnya ia habiskan untuk bermain pertandingan persahabatan dengan negara-negara beraliran kiri seperti China, Kamboja, dan Korea Utara.

Perang mulai mereda pada 1976. Reformasi Doi Moi berhasil membentuk asosiasi sepakbola baru yakni Federasi Sepakbola Vietnam (VFF) pada 1989. Pembentukan induk baru ini membawa wajah baru bagi persepakbolaan Vietnam.

Meski begitu, sepakbola Vietnam masih jalan di tempat karena liganya banyak terlibat skandal. Hal ini berdampak pada timnasnya yang belum bisa bersaing dengan Big Four Asia Tenggara. Sejak 2000, Vietnam membuat kebijakan memakai pemain dan pelatih asing untuk liga dan timnasnya. Namun itu belum cukup untuk membuat sepakbola Vietnam berlari lebih jauh.

Tapi Vietnam terus mencari solusi bagaimana cara menaikkan pamor sepakbola negerinya di kancah Asia Tenggara. Pada 2007, VFF melakukan pembenahan setelah mengetahui kelemahan soal mentalitas pada bidang pembinaan pemain usia dini. Salah satu upayanya adalah melakukan kerja sama dengan Arsenal dan akademi sepakbola asal Prancis, JMG Academy.

Kerja sama dengan kedua belah pihak itu melahirkan pusat pelatihan HAGL-Arsenal JMG Academy yang dibangun di Pleiku. Akademi ini memiliki infrastruktur berstandar internasional.


sumber foto: pvf.com

Setelah mencabut akar masalah, hasilnya dapat mereka tuai tak lama kemudian. Vietnam mampu lolos sampai perempat final Piala AFF 2007. Kemudian mereka meraih gelar juara pertama pada kompetisi itu pada 2008. The Golden Warriors sempat merasakan gelar keduanya pada 2018 lalu dan pada 2019 mereka menyabet medali emas di cabor sepakbola SEA Games. Kini Vietnam tengah membidik satu dari empat jatah Piala Dunia 2022 di zona Asia.

Akademi dengan sistem yang baik dan infrastruktur memadai memang menjadi kunci Vietnam. Setelah HAGL-Arsenal JMG Academy sukses mengubah performa timnas, mulai banyak akademi-akademi lain yang bermunculan. Salah satu yang paling menonjol adalah Akademi PVF yang bekerja sama dengan Manchester United. Pada 2018, Ryan Giggs sempat didapuk sebagai yang bertanggung jawab atas latihan dan evaluasi staf kepelatihan senior di sana.

Selain akademi, yang bisa membuat sepakbola Vietnam kuat adalah liganya. Banyak klub kontestan V League yang membantu meningkatkan kualitas sepakbola Vietnam. Mereka tidak hanya mengejar kesuksesan jangka pendek melainkan lebih mengandalkan kesabaran serta percaya pada proses.

Alih-alih mendatangkan pelatih dan pemain asing yang mahal, klub-klub V League lebih percaya kepada pelatih lokal dan bahkan memberikan mereka kontrak jangka panjang. Kebijakan menggunakan pemain muda juga membuat ada proses positif dari lahirnya wonderkid-wonderkid baru.

Kamu pasti tak akan percaya kalau hasil luar biasa ini didapat hanya berjarak sekitar sembilan tahun pasca sepakbola Vietnam hampir terkubur dalam jurang krisis. Tahun 2012 adalah tahun terburuk yang pernah mereka lalui. Vietnam secara umum mengalami yang namanya krisis ekonomi. Nasib sepakbola mereka pun merosot tajam, banyak klub yang menghadapi kesulitan finansial dan sponsor. Mereka bahkan harus menarik diri dari V League demi penghematan dan menyelamatkan klub dari kehancuran.

Tapi lihat kini, penyelamatan mentalitas pemain muda yang berangkat dari akademi serta didukung oleh klub dan liga membuat Vietnam mungkin bakal menjadi The Next Macan Asia.


TAG: Vietnam Laga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI