REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Tidak Ada Waktu untuk Menginjak Pedal Rem dalam Derby Della Madonnina


Aditya Hasymi pada 2021-01-25 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Pertemuan dua kesebelasan bertetangga satu kota di Milano tidak pernah absen menyajikan persaingan sengit. Ketika dua rival sekota yang dipisahkan oleh warna merah dan biru ini berlaga, olah bola yang ketat menjadi jaminan.

Siapa yang tak mengenal gemerlapnya Derby Della Madonnina. Ya, bagi para pandemen calcio, kala sisi merah Milan bertemu sisi biru Inter, adalah laga wajib yang tak dapat disepelekan gengsinya. Selain bersimbah peluh di lapangan hijau, ada aroma harga diri yang dipertahankan pada tiap jengkal bola yang bergulir.

Gegap gempita saat Milan menjamu Inter ataupun sebaliknya selalu ketat, sehingga partai yang mempertemukan keduanya tergolong dalam partai dengan tensi tinggi di sepak bola modern. Soal atmosfer keras yang kadang berujung bentrok, duel Milano ini tak kalah dengan rivalitas River Plate vs Boca Juniors ataupun Fenerbahce lawan Galatasaray. Motif menunjukkan siapa yang paling kuat se-antero Italia juga tak kalah hebat dengan Barcelona dan Madrid yang saling memburu predikat tim terbaik di Spanyol.

Para pemain dari AC Milan dan Inter Milan pun juga saling berganti rupa baik menjadi protagonis maupun antagonis. Dari yang dulunya dielu-elukan di San Siro, bisa jadi beberapa tahun kemudian dicemooh oleh publik Giuseppe Meazza. Beberapa nama seperti Christian Vieri, Clarence Seedorf, Mario Balotelli, Andrea Pirlo, dan Zlatan Ibrahimovic adalah beberapa persona yang pernah berseragam biru dan merah Milano sekaligus.

Nerazzurri dan Rossoneri kembali akan bertemu dalam laga perempat-final tim sekota dalam gelaran Coppa Italia, 27 Januari 2021 nanti. Gelaran ini akan dicatat sebagai partai Derby Della Madonnina ke 226 sepanjang sejarah pertemuan. Bak tanpa jeda, baru tiga bulan yang lalu mereka baru saja bertemu di Serie A. Milan berhasil unggul di giornata 4 dengan dua gol Ibrahimovic yang hanya mampu sekali dibalas Inter lewat sontekan Lukaku.

Duel antar tim sekota, Milan dan Inter, adalah pertandingan yang memiliki laju yang kencang. Tak ada dalam kamus keduanya untuk menginjak pedal rem, mengingat pertemuan sisi merah dan biru Milano ini adalah denyut kota yang abadi.

Detak Perjuangan Milan dan Inter dalam Simbol Madonnina

Bukan tanpa alasan, bahwa tiap pertandingan yang mempertemukan Internazionale Milano dan Associazione Calcio Milan, dianggap sebagai wujud bahwa kehidupan kota mode di Italia ini masih terus berjalan. Partai derby ini sendiri melambangkan sejarah dari kota terlihat dari pemberian sematan Madonnina sebagai julukan.

Madonnina, ditilik dari sudut pandang masyarakat kota yang masuk wilayah Lombardi ini, merepresentasikan hal sakral yang terletak di Katedral Milan. Duomo Milano adalah nama dari bangunan yang memiliki nilai magis itu. Pada struktur bangunan nya terdapat patung tembaga berlapis emas dengan nama yang akrab di telinga pandemen bal-balan: Madonnina.

Patung tembaga yang dibalut emas ini dibuat oleh seniman bernama Giuseppe Perego di tahun 1979. Simbol yang lekukannya dipahat oleh Giuseppe Antignati ini sontak bernilai kemegahan, keindahan, dan juga perlawanan karena terletak di jantung kota Milan.

“Apabila Duomo (katedral) adalah perlambang dari wujud kota Milan kepada dunia, maka patung Madonnina yang berada di puncak Duomo adalah jantung sekaligus jiwa dari kota Milan”, ujar perwakilan dari Veneranda Fabbrica del Duomo di Milano –organisasi yang mengawal pembangunan katedral Milan– untuk menggambarkan Madonnina dalam wawancara yang dilansir duomomilano.it

Hadirnya patung Madonnina sebagai jantung dan jiwa kota Milan semakin dipertegas dengan penempatan yang amat menjulang tinggi. Artefak yang dibangun pada 1769 ini menjadi titik tertinggi di kota mode Italia ini dengan ketinggian 108,5 meter di atas permukaan tanah.

Tak hanya itu, unsur perlawanan yang dilambangkan oleh patung Madonnina juga berangkat dari pemberontakan bersejarah lima hari di Milan jelang perang kemerdekaan Italian pada 1948. Peristiwa bersejarah itu bernama Cinque Giornate di Milano yang terjadi dari tanggal 18 Maret yang berkesudahan setelah lima hari di tanggal 22 Maret 1948.

Pemberontakan lima hari nan bersejarah yang melibatkan patung Madonnina ini tergambar hampir mirip dengan apa yang terjadi di Surabaya 10 November. Kala itu kota Milan sedang diduduki oleh kekaisaran Austria dengan Dinasti Hapsburg sebagai pemegang kekuasaan. Dikutip dari buku “The Risorgimento: Italy 1815-1871” karya Tim Chapman, terjadi friksi berupa protes dari warga kota Milan atas penjajahan tanah mereka. Puncaknya pada 20 Maret 1948 pemberontakan itu meletus, dimana dua pahlawan bernama Luigi Torelli dan Scipione Bagaggi, naik ke puncak Duomo untuk mengibarkan bendera Tricolore di patung Madonnina.

Di era sepak bola modern, Madonnina menjadi simbol denyut nadi kota Milan. Mulanya sisi merah tumbuh atas jasa seorang imigran Inggris bernama Herbert Kiplin. AC Milan tumbuh setelah itu medio 1908. Pihak-pihak yang merasa tidak tertampung kemudian melakukan langkah tandingan dengan mendirikan Internazionale dengan semangat keterbukaan di tahun yang sama.

Itulah mengapa, di setiap pertandingan yang mempertemukan Milan dan Inter, tensi yang tersaji selalu sengit. Entah apapun ajangnya, dari yang reguler di Serie A dan Coppa Italia, sampai level lebih luas di Liga Champions, selalu penuh dengan aroma persaingan yang kental. Tak ada waktu barang sedetik pun untuk tak menekan pedal gas dalam-dalam demi menjadi nomor satu kebanggaan kota Milan.

Partai yang mempertemukan keduanya di perempat final Coppa Italia ini juga diramalkan akan tetap panas. Motivasi mencari trofi perdana setelah dahaga yang begitu panjang menjadi alasan utama. Baik Nerazzurri atau Rossoneri sudah lama tak memberikan raihan trofi bagi para pendukungnya.

Inter terakhir kali merasakan gelar juara adalah sembilan tahun silam, tepatnya di 2011, dengan menjuarai Coppa Italia. Milan pun mengalami nasib serupa, dimana trofi yang hadir sudah cukup lama, di 2016 silam, itupun trofi yang gengsinya bernada minor yakni SuperCoppa Italia.

Duo Milano yang Mengincar Gol

Gelaran taktik yang diperagakan oleh AC Milan dan Inter Milan musim ini adalah definisi tancap gas dalam setiap pertandingan. Gol adalah tujuan utama yang dikejar oleh keduanya dari pekan ke pekan.

Klasemen Serie A hingga giornata ke 19 menjadi bukti sahih dimana duo Milan sangat mendominasi tim paling produktif. Inter, yang walaupun saat ini bertengger di pos 2 di bawah Milan, menjadi kesebelasan paling tajam dengan torehan 45 gol. Sementara Rossoneri menjadi tim dengan jumlah gol ke gawang lawan di urutan kelima dengan jumlah 39 gol.

Jumlah gol dicetak secara signifikan, baik di sisi merah Milan atau biru Milan, tak lain tak bukan berkat dari pendekatan yang dipercayai oleh sang pelatih.

Sejak kedatangannya di Inter, Antonio Conte menyulap si ular biru sebagai tim yang selalu mengambil inisiatif menyerang. Penekanan pada penggunaan dua bek sayap yang aktif membantu skema penyerangan menjadi kunci Conte. Formasi 3-4-1-2 menjadi kuncian favorit dari pelatih yang sukses meraih juara Premier League bersama Chelsea ini. Hal tersebut juga ditopang dengan bagaimana perolehan umpan yang akurat turut meningkat.

Serupa pula dengan pendekatan Stefano Pioli bersama Il Diavolo Rosso. Pelatih kelahiran Parma ini menjanjikan target jangka panjang untuk membuat Milan bertaji dengan skema yang atraktif. Kepercayaan diri menjadi kunci utama yang diyakini Pioli untuk membuat raksasa Italia yang lama tertidur ini untuk bangkit. 

Pemain muda menjadi kepingan penting bagi AC Milan. “Apa yang diturun temurunkan menjadi ideologi sepak bola Rossoneri dengan bermain proaktif menyerang penting untuk dipertahankan. Pemain muda yang masih memiliki antusiasme tinggi akan membantu mewujudkan hal itu”, ujar Pioli dalam wawancara yang dilansir dari Sempre Milan.

Etos kerja tinggi di lapangan, yang dilambangkan dengan melakukan pressing dengan garis tinggi, juga menjadi pilihan dari taktik yang dipakai oleh Milan dan Inter. Tak ada kamusnya bermalas-malasan menunggu bola bagi Rossoneri dan Nerazzurri.

Stefano Pioli menginstruksikan pemain Milan untuk terus menekan sejak dari lawan berada di kotak penalti nya sendiri.  Bukan tanpa alasan bahwa Il Diavolo Rosso di tangan pelatih berusia 55 tahun ini menggunakan striker tunggal yang mampu membuka ruang dan beroperasi secara spartan dalam formasi 4-2-3-1. Pioli menginginkan bermula dari lini depan pressing itu telah dilakukan oleh anak asuhan.

Sebuah langkah yang jitu dari Pioli ketika berhasil memanfaatkan kokohnya Ibrahimovic sebagai ujung tombak. Zlatan adalah tipe striker yang disukai oleh Pioli, yakni penyerang yang tak hanya diam menunggu bola di depan, tetapi juga memberikan tekanan agar lawan hilang penguasaan bola. Hadirnya Mandzukic di bursa transfer Januari turut mendukung preferensi Pioli akan striker tipe bigman pekerja keras demi suksesnya taktik pressing dengan garis tinggi.

Inter di tangan Conte juga meyakini bahwa taktik melakukan pressing dengan garis tinggi adalah taktik mujarab dalam sepak bola modern. Aturan baru dalam Law of The Game yang memperbolehkan defender berada di kotak penalti sendiri saat proses tendangan gawang benar-benar dimanfaatkan Conte dengan cerdik. Pada setiap kesempatan lawan melakukan tendangan gawang, pelatih yang sempat berseragam Juventus ini selalu menginstruksikan pemain untuk melakukan pressing setinggi mungkin.

Striker pilihan Conte pun setali tiga uang dengan Pioli. Mereka yang menghuni lini depan Il Biscione adalah persona yang tak malas untuk mengejar bola di setiap sudut lapangan. Inter mendapatkanya pada duet Romelu Lukaku dan Lautaro Martinez. Kerja duet Belgia dan Argentina ini didukung oleh pekerja di lini tengah yang membentuk trisula di formasi 3-1-4-2, yakni Brozovic-Barella-Sensi.

Maka, duel yang mempertemukan Rossoneri dan Nerazzurri pada babak perempat-final Coppa Italia nanti akan ditentukan dari detail kecil. Kedua akan saling berbalas serangan dan gonta ganti menekan. Karena, dalam Derby Della Madonnina, tak akan sempat untuk menekan rem berhenti.


TAG: Derby Della Madonnina Ac Milan Inter Milan Coppa Italia






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI