REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Tragedi Superga, Peruntuh Kehebatan Torino


M. Bimo pada 2020-05-04 jam 12:00 PM


devastatingdisasters


Jika berbicara soal klub besar Italia yang berasal dari Turin, banyak orang pasti akan merujuk ke Juventus. Klub berjuluk Nyonya Tua ini memang tak terhentikan selama beberapa musim terakhir. Mereka mendominasi Serie A sampai tak memberi kesempatan klub lain untuk mencicipi gelar juara.

Tapi lupakan dulu soal Juventus. Turin juga memiliki satu lagi klub hebat yang kini mulai terlupakan. Siapa lagi kalau bukan Torino, rival sekota Juventus ini punya sejarah panjang dan pernah menjadi salah satu klub yang disegani di Italia bahkan dunia.

Namun status tim besar menakutkan yang tersemat di dalam klub Torino mulai runtuh sejak tragedi Superga terjadi. Tragedi pilu yang menewaskan 18 pemain Torino dalam kecelakaan pesawat terbang. Tragedi yang terjadi ketika Torino baru saja menyabet gelar Serie A secara lima musim secara beruntun.

Tragedi Superga terjadi pada 4 Mei 1949, tepat hari ini 71 tahun yang lalu. Pada akhir April 1949, manajemen Torino mendapat undangan kehormatan untuk menjalani pertandingan persahabatan kontra Benfica di Portugal. Laga persahabatan ini digelar spesial untuk perpisahan kapten Benfica saat itu, Fransisco Jose Ferreira yang akan pensiun.

Ferreira secara langsung menunjuk Torino sebagai klub yang akan dilawan di laga terakhirnya. Alasannya sederhana, dia ingin merasa bangga dengan melawan klub terhebat di dunia sebelum pensiun sebagai pemain sepak bola. Selain itu, Ferreira juga mempunyai hubungan pershabatan dengan kapten tim berjuluk Il Toro, Valentino Mazzola. Pertandingan persahabatan itu tentu punya nilai personal buat Ferreira.

Manajemen Torino mengiyakan undangan tersebut. Untuk mewujudkannya, manajemen meminta izin kepada Federasi Sepak bola Italia (FIGC) untuk memajukan jadwal pertandingan melawan Inter Milan menjadi 30 April 1949. Pertandingan itu adalah laga penting bagi Torino. Kemenangan atau minimal hasil imbang melawan Nerazzurri akan membawa Il Toro menjadi kampiun di Italia.

Meski laga berakhir dengan 0-0, Torino berhasil menyabet gelar Serie A lima kali berturut-turut. Raihan ini menyamai rekor Juventus pada tahun 30-an yang juga juara liga lima musim berturut-turut.

Skuat Torino akhirnya bisa melakukan perjalanan ke Portugal tanpa beban. Pada 3 Mei 1949, Valentino Mazzola dan kawan-kawan lepas landas ke Lisbon, Portugal. Pada penerbangan itu, Torino membawa 18 pemain beserta dengan lima staf pelatih. Laga persahabatan akan digelar malam harinya di markas Benfica.

Sekitar 40.000 fans Benfica memadati Estadio do Campo Grande. Tidak ada tempat duduk tersisa. Para penonton sangat antusias melepas pensiunnya kapten Ferreira. Kedatangan Torino sebagai lawan Benfica pada malam itu juga menyedot antusiasme warga Portugal. Laga perpisahan ini berakhir manis untuk Ferreira, tim tuan rumah menang tipis dengan skor 4-3 dalam pertandingan yang berlangsung sangat seru.

Tak berlama-lama di Portugal karena Serie A masih menyisakan empat pertandingan terakhir, skuat Torino langsung pulang keesokan paginya. 4 Mei 1949, tim terbang ke Italia dengan menggunakan pesawat FIAT G-212. Selain 23 pemain dan staf Torino, ada juga tiga jurnalis yakni Renato Casalbore (pendiri Tuttosport), Luigi Cavallero (La Stampa) dan Renato Tosatti (Gazzetta del Popolo).

Di dalam pesawat itu juga terdapat lima awak pesawat yakni Pierluigi Meroni sebagai pilot, Antonio Pangrazi, Celestino D'Inca, Cesare Biancardi dan Andrea Bonaiuti. Total ada 31 orang di dalam pesawat nahas tersebut.

Pesawat lepas landas pada pagi hari, mampir di Barcelona untuk mengisi bahan bakar kemudian melanjutkan perjalanan ke Italia. Usai pesawat ini memasuki wilayah Italia, tiba-tiba datang badai. Hujan lebat di daerah Superga membuat komunikasi pilot dengan menara pengawas bandara Turin-Aeritalia terputus-putus. Disebutkan saat itu pandangan pilot pun hanya mencapai 40 meter saja.

Pukul 17.05, menara pengawas mulai kehilangan suara dari pilot FIAT G-212. Dari yang awalnya putus-putus, kini hening tidak ada suara sama sekali. Tak lama kemudian, muncul kabar mengejutkan dari polisi bahwa sebuah pesawat dikabarkan menabrak bukit Superga. Sebanyak 31 orang di dalamnya tewas seketika.

Seluruh sosok yang membuat Torino menjadi tim terhebat gugur dalam hitungan detik. Kecelakaan ini juga secara tak langsung menghancurkan timnas Italia, sebab tujuh pemain inti tim Azzurri di pesawat itu merupakan pemain asal Torino.

Beberapa pemain yang 'selamat' dari kecelakaan itu ialah Sauro Toma, dia tidak ikut penerbangan karena sedang cedera, Laszlo Kubula yang tidak ikut pulang ke Italia dan tinggal di Portugal karena putranya sedang sakit, Luigi Giuliano yang paspornya belum selesai tepat waktu, serta presiden klub Ferrucio Novo yang tidak ikut ke Portugal karena komitmen pekerjaan.

Beberapa orang mungkin menyebutkan mereka ini adalah orang yang beruntung, namun mereka harus hidup dalam bayang-bayang kesedihan yang sangat besar untuk ditanggung di pikiran masing-masing. Novo bahkan menyebutkan kalau dia berharap ada di pesawat itu daripada hidup tapi penuh trauma kehilangan puluhan orang yang disayang sekaligus.

Pada tahun 1940-an, Torino memiliki julukan Il Grande Torino alias The Great Torino. Julukan ini disematkan karena ketangguhan Torino dalam mendominasi Liga Italia. Kejayaan bermula ketika Ferrucio Novo menjabat sebagai presiden klub. Ia secara perlahan tapi pasti membangun skuat Torino dengan pemain-pemain yang tangguh.

Novo memulai dengan merekrut dua pemain terbaik, Ezio Loik dan Valentino Mazzola pada 1942. Ini adalah langkah besar yang sukses dilakukan Novo karena dua pemain ini menjadi kunci kesuksesan terbesar Torino. Mazzola kemudian didapuk menjadi kapten tim dan jasanya akan selalu diingat oleh para fans.

Dalam lima musim bersama Torino, Mazzola  mencetak lebih dari 100 gol . Dia mencetak rekor hattrick tercepat pada 1947, tiga gol hanya dalam 180 detik. Selain dikenal sebagai pemain, ia juga dikenal sebagai ayah dari Alessandro "Sandro" Mazzola yang kemudian jadi pemain hebat untuk Inter Milan.

Menggunakan gaya bermain Total Football ala Belanda, Il Toro mendominasi Serie A. Mereka sukses juara lima kali beruntun pada musim 1942-1943, 1945-1946, 1946-1947, 1947-1948 dan 1948-1949. Sebagai catatan, FIGC tidak menggelar Serie A musim 1944-1945 karena Perang Dunia II.

Selama empat musim, mereka tidak pernah kalah di kandang. Bahkan, mereka mencetak rekor untuk kemenangan beruntun di kandang dengan 83 kemenangan. Juga rekor tak terkalahkan di kandang dari 93 pertandingan di mana hanya dua tim lawan yang bisa menjaga clean sheet.

Selain mendominasi Serie A, mereka juga mendominasi skuat timnas Italia. Pernah suatu waktu 10 pemain dari Torino turun semua dalam starting eleven pada laga persahabatan melawan Hungaria pada 1947. Rumor mengatakan pelatih Italia, Vittorio Pozzo tidak menggunakan kiper Torino karena tak ingin skuat timnas hanya terdiri dari satu klub saja. Pada pertandingan itu, Azzurri menang 3-2 dari Hungaria yang saat itu dikenal sebagai tim kuat.

Usai tragedi Superga yang merenggut nyawa dari sosok-sosok di balik kehebatan Torino, diperkirakan 300.000-500.000 rakyat Italia tumpah ke jalan untuk menghormati jasa para pahlawan dalam kecelakaan pesawat itu. Torino menjadi tim yang penting bagi fans maupun masyarakat Italia. Para pemainnya merupakan cahaya bagi tim nasional.

Pada musim saat kecelakaan terjadi, Il Grande Torino telah mengamankan gelar Scudetto untuk kelima kalinya secara beruntun. Mereka unggul 15 poin dari Inter Milan yang berada di peringkat kedua.

Torino memainkan empat pertandingan terakhirnya dengan menurunkan pemain Primavera atau pemain-pemain muda. Sebagai rasa hormat, klub-klub yang menjadi lawan Torino di empat pertandingan sisa - Genoa, Palermo, Sampdoria dan Fiorentina - juga menurunkan pemain Primavera mereka. Dengan semangat membalas jasa senior mereka, tim muda Torino berhasil memenangkan empat pertandingan tersebut.

Bencana ini bukan hanya soal Torino. Namun tragedi Superga telah merobek sepotong besar sejarah sepak bola Italia, tim nasional dan bahkan dunia sepak bola. Butuh waktu 20 tahun bagi mereka untuk memenangkan gelar Scudetto lagi yakni pada musim 1975-1976. Tapi itu merupakan gelar Serie A terakhir yang bisa didapatkan Torino hingga hari ini.

Sejak musim 1996-1997, Torino terseok-seok serta naik turun divisi ke Serie B dan Serie A. Baru pada musim 2012-2013, Torino konsisten berada di antara papan bawah dan papan tengah klasemen Serie A. Hari ini, Torino bertengger di posisi 15 Serie A dengan sisa musim yang masih dinanti kelanjutannya.

Duka mendalam untuk para pemain, staf pelatih, awak pesawat dan jurnalis yang menjadi korban tragedi Superga di peringatan ke-71 tahun hari ini.




TAG: Superga Torino Serie A Onthisday






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI