REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Turkish Flag sebagai Simbol Terbukanya Pendatang di Süperlig


Aditya Hasymi pada 2021-09-03 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sudah terjadi secara natural bahwa seorang pendatang harus menyesuaikan pada daerah yang didiami. Oleh karena itu, terkadang, hal yang sifatnya simbolik dapat mempermudah proses adaptasi tersebut.

Turki dikenal sebagai negara yang tergolong transcontinental dari segi geografis. Berdasar bentang alamnya negara beribukota di Ankara ini menjadi negara dua benua. Sebagian besar berada di wilayah Asia, sementara sisanya masuk ke teritori Eropa daratan.

Kondisi wilayah yang menjadi jembatan antara timur dan barat bagi Turki tak boleh dipandang begitu saja. Suka atau tidak suka, negara dengan lambang bintang dan bulan sabit ini terus menerus terpapar oleh berbagai macam peradaban dari dua kutub besar. Secara langsung masyarakat yang tinggal menjadi terbuka akan banyak hal, salah satunya budaya.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa semakin terbuka kondisi suatu wilayah, maka semakin besar pula peluang terjadinya percampuran budaya. Itulah yang terjadi dengan negara Turki. Lokasi mereka yang ada di dua benua membuka kesempatan lalu lalang banyak pihak. Kemunculan pendatang tak dapat ditolak.

Gelombang pendatang yang hilir mudik singgah di Turki menjadikan kawasan ini penuh dengan peradaban beraneka ragam. Alhasil, percampuran budaya tak terelakkan. Ada kondisi dimana menjadi bias mana budaya lokal dan mana yang telah tercampur baurkan. Kedatangan mereka yang bukan penduduk asli inilah yang menjadikan paham sekuler bisa tumbuh.

Perdebatan di ranah budaya inilah yang begitu mengakar di Turki. Mereka yang penduduk asli tak ingin nilai-nilai yang telah dibangun tercampur begitu saja. Hal tersebut membuat para pendatang amat ditolak hadirnya karena akan memberikan dampak buruk bagi negara. Sejarah memberikan bukti bagaimana yang asing ditentang masuk kala rezim Usmani masih berkuasa dengan gerakan nasionalisnya.

Sepakbola, yang juga merupakan representasi akan budaya itu sendiri, berjalan serupa di Turki. Sedari awal urusan bal-balan di negeri seribu masjid ini memang hadir bukan untuk masyarakat lokal. Si kulit bundar ini dibawa oleh para pendatang, dimana mereka mengembangkannya sendiri, tanpa melibatkan penduduk asli. Sentimen negatif pun turut terbangun.

Untuk melihat fakta bagaimana sepakbola di Turki awalnya bukan untuk lokal melainkan pendatang, pendulum waktu perlu diarahkan pada medio 1880. Pada masa itu, negara yang berbatasan dengan Laut Mediterania di selatan ini mengenal bal-balan andil dari para pendatang. Mereka masuk melalui kota kecil di Izmir untuk mengadakan pertandingan pertama.


sumber foto: reuters

Adalah seorang bernama James La Fontaine, ekspatriat asal Inggris Raya yang mengadu nasib di Turki, sebagai pihak pertama yang membawa sepakbola ke Izmir. La Fontaine, bersama anggota keluarga Inggris lain yang juga menetap, mendirikan ‘Bournabat Football and Rugby Club’ sebagai wadah pendatang memainkan si kulit bundar di negara bulan sabit ini. Denyutnya makin terasa ketika dirinya pindah ke Istanbul pada tahun 1889. Budaya bal-balan yang dibawa pihak dari Barat ini mulai mengusik publik lokal.

Berdasarkan narasi historis yang dituliskan oleh Erhan Afyoncu (2018), budaya bal-balan yang dibawa oleh ekspatriat British ini menyebabkan sentimen lokal versus pendatang makin meruncing. Kekaisaran Ottoman merasa terganggu oleh kerumunan yang diakibatkan oleh laga sepakbola rintisan La Fontaine dan kawan-kawan.

Bahkan, lewat otoritasnya, Ottoman Empire sampai perlu mengirim pasukan untuk berjaga-jaga di pertandingan olahraga yang mereka sebut sebagai upaya memasukkan ban ke dalam dua pintu ini. Apabila terjadi keonaran, para pendatang tinggal digelandang ke wilayah pusat untuk dipidanakan.

Menjadi jelas bahwa sepakbola justru menjadi wadah pembawa kebencian penduduk lokal Turki kepada para pendatang yang mendiami wilayahnya. Para ekspatriat, dalam pandangan masyarakat Turki, mencoba memasukkan peradaban Barat lewat bal-balan yang mengancam kelestarian nilai luhur negara dengan mayoritas pemeluk Islam ini.

Namun, kondisinya berbalik ketika simbol Turkish flag hadir di tengah-tengah lapangan Sukru Saracoglu.

 
Simbol yang Mendekatkan Pendatang dengan Penduduk Lokal

Kondisi perseteruan antara pendatang dan penduduk lokal di lini sepakbola Turki bergeser akibat hadirnya simbol yang mempersatukan. Benar kata pepatah lama, bahwa untuk menyatukan banyak pihak, butuh satu hal yang dapat dijadikan landasan bersama agar terjalin kesepahaman.

Aktor di balik pemersatu ekspatriat dan pandemen bal-balan Turki, layaknya semesta mendukung, adalah sosok British pula. Graeme Souness, pria Skotlandia yang besar bersama Liverpool FC, menjadi protagonisnya. Setelah didapuk menjadi suksesor Kenny Dalglish sebagai gaffer The Reds namun gagal, pria kelahiran Edinburgh ini mengembara ke Liga Turki untuk membesut Galatasaray.

Saat Souness menerima tawaran Galatasaray, sentimen negatif publik Turki terhadap pendatang diam-diam masih bersemayam. Peraih lima gelar Premier League ini sadar akan resiko besar yang dihadapinya nanti.

Namun, perlu dicatat bahwa pada musim 1995-1996, kondisi Turki telah relatif terbuka secara politis. Bentuk negara telah berganti, dari kerajaan menjadi Republik, dimotori oleh Mustafa Kemal Ataturk yang mengobarkan semangat sekularisme. Pun di lapangan hijau, publik lokal telah ikut bergelut di dalamnya dengan mengorbitkan sosok Ali Sami Yen, yang kemudian dikenal sebagai pencetus berdirinya Galatasaray.

Benar saja, walau kondisi Turki telah membuka diri atas hadirnya pihak luar, masih ada oknum yang tak turut terbuka wacananya. Souness tak luput dari cemoohan para suporter. Pada biografi berjudul namanya sendiri “Souness: The Management Years”, pria kelahiran 1953 ini menceritakan pilu yang ia alami kala membesut Cimbom.

Souness sukses membawa Galatasaray ke final Piala Turki menghadapi musuh bebuyutan Fenerbahce. Setelah unggul 1-0 di kandang pada leg pertama, tensi semakin panas saat bertandang ke Sukru Saracoglu. Sebagai wujud gertakan urat syaraf, mayoritas suporter Sari Kanaryalar meneriaki nya: ‘kenapa Galatasaray memilih orang cacat sebagai pelatih?’ merujuk pada sakit jantung yang pernah dideritanya.

Apa yang terjadi setelahnya akan dikenang sebagai tonggak tergerusnya sekat yang membedakan antara pendatang dan lokal di sepak bola Turki. Galatasaray sukses menjadi kampiun Piala Turki dan Souness melakukan selebrasi ikonik dengan menancapkan bendera skuad Aslan di tengah lapangan Sukru Saracoglu.

Usut punya usut, selebrasi dengan menancapkan bendera ini merupakan simbol pembebasan pada sejarah Turki. Kejadian yang sama terjadi kala Ottoman sukses menaklukan benteng Konstantinopel di tahun 1453, dimana saat itu sosok Ulubatli Hasan tampil sebagai martir pemberani dengan menancapkan bendera Turki.

Perlakuan seorang pendatang seperti Souness yang menirukan keberanian sosok Ulubatli Hasan ternyata mendapat tempat di hati masyarakat Turki. Sontak, semenjak saat itu, perlahan-lahan pemain dan pelatih asing mendapat tempat di kompetisi bal-balan tertinggi, Süperlig. Tentu saja dengan satu syarat: membuka diri dengan tak malu untuk membaur dengan budaya lokal.

Begitu kunci untuk para pendatang dapat diapresiasi oleh pandemen sepak bola Turki telah ditemukan, kontak pandora untuk menghilangkan sentimen negatif itu telah terbuka. Banyak pemain asing yang melakukan hal serupa.

Diceritakan dalam buku dokumenter sepak bola Turki ‘Welcome to Hell? In Search of the Real Turkish Football’, dimana penulisnya kebetulan seorang British juga, John McManus, para pemain asing menjadi Turki untuk merebut hati suporter lokal.

Jangkar lini tengah Nigeria, Ogenyi Onazi, begitu menikmati sarapan ala negeri bulan sabit ini ketika melahap sepiring menemen. Ia posting dirinya ketika sarapan dengan scramble egg-nya Turki itu ketika berseragam Trabzonspor.

Pemain tengah Belanda yang besar di Inter Milan, Wesley Sneijder, tak sungkan pula dengan budaya Turki saat berlaga di Süperlig bersama Galatasaray. Gelandang dengan 134 caps bersama tim Holland ini bukan hanya menikmati sisa karirnya semata, namun ikut belajar akan budaya setempat. Satu alat musik orkestrasi asli Turkish, Saz, sukses ia kuasai.

Kemauan untuk melebur dengan nilai dan budaya setempat memang tak bisa ditawar bagi seorang pendatang. Begitupun di Turki. Presiden termasyhur Turki, Recep Tayyip Erdogan, pernah berujar: “Di Turki anda tidak bisa beradaptasi tanpa menjadi Turkish (orang setempat). Sepak bola memang tidak mengenal asal-usul, tetapi lebih baik jika anda pemain asing untuk berlaku layaknya pria Turki!”


TAG: Turki Laga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI