REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Wacana Memulai Kembali Liga Indonesia, Memangnya sudah Siap?


M Bimo pada 2020-06-10 jam 12:00 PM


PSSI


Tak bisa dipungkiri, kerinduan akan adanya sepak bola di dalam negeri sudah kian memuncak. Sekitar tiga bulan yang lalu, Liga 1, Liga 2 dan Liga 3 diputuskan untuk berhenti sementara. Hal ini terkait dengan kasus positif corona di Indonesia yang kian sulit dikendalikan. Kini sudah memasuki bulan Juni, namun tak kunjung ada titik cerah kapan liga akan dilanjutkan.

Sepekan belakangan, linimasa sosial media diramaikan dengan wacana PSSI yang akan kembali menggulirkan Liga Indonesia. Meski PSSI belum memutuskan kapan pastinya liga akan digelar kembali, namun nyatanya wacana itu sudah tersebar dan jadi perbincangan.

Kabar yang beredar, Liga 1 akan dimulai kembali per September. Sehingga besar kemudian musim ini liga akan selesai pada tahun 2021. Selain itu, kabarnya Liga 1 akan dipusatkan di Pulau Jawa dengan meniadakan degradasi. Sehingga pada musim berikutnya, Liga 1 akan berjalan dengan 20 tim dari sebelumnya 18.

Untuk Liga 2 akan dimulai satu bulan usai Liga 1 digelar, tepatnya pada Oktober. Perubahan juga terjadi untuk tim promosi yang biasanya ada tiga klub yang bakal promosi, khusus musim ini hanya akan ada dua klub saja. Sementara Liga 2 juga diusulkan terpusat di Pulau Jawa dengan sistem home tournament. Sehingga tim tak perlu banyak berada di bandara untuk melakukan laga away luar pulau.

Sebelumnya pada akhir Mei 2020, PSSI dan klub-klub Liga 1 menggelar rapat virtual yang membahas kelanjutan kompetisi. Berbeda dengan keinginan banyak orang, rupanya mayoritas klub Liga 1 malah ingin kompetisi disetop saja. Setidaknya ada empat tim yang dengan tegas ingin menghentikan liga tanpa syarat apapun, yakni Madura United, Persebaya Surabaya, PSIS Semarang dan Bhayangkara FC.

Sementara itu, beberapa klub yakni Persib Bandung, Bali United, Borneo FC dan Tira Persikabo ingin kompetisi lanjut namun dengan syarat. Beberapa syarat di antaranya yaitu soal negosiasi ulang kontrak serta gaji pemain dan pelatih dan mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.

Klub Liga 1 lainnya seperti PSM Makassar, Barito Putera, Persela Lamongan dan Persija Jakarta menginginkan kompetisi disetop namun memulai lagi kompetisi dengan format yang baru. Sedangkan Persipura Jayapura tidak memberikan suara terkait kelanjutan Liga 1 2020.

Kelanjutan kompetisi memang penting, namun yang lebih penting untuk dibahas adalah bagaimana kesiapan PSSI terkait protokol kesehatan jika kompetisi dilangsungkan lagi. Terlepas dari kemungkinan Liga 1 2020 ini akan dilanjutkan atau disetop tapi memulai lagi dengan format yang baru.

Meski rumor kelanjutan kompetisi itu belum dibenarkan oleh PSSI, tapi rupanya federasi sepak bola Indonesia ini sudah merancang panduan kesehatan menyelenggarakan sepak bola di tengah pandemik Covid-19. Panduan ini bahkan sudah diedarkan kepada klub-klub kontestan Liga Indonesia.

Pada panduan ini, PSSI setidaknya mengatur tujuh bagian yang harus dilakukan dan ditaati oleh tiap tim. Bagian pertama, PSSI mengungkapkan dasar pemikiran dalam merancang panduang ini. Tujuan PSSI membuat aturan tersebut adalah demi mengantisipasi penyebaran Covid-19 jika kompetisi benar-benar ingin dilanjutkan.

Kedua, PSSI mewajibkan klub untuk melakukan pemeriksaan rapid test kepada seluruh pemain, pelatih dan staff minimal satu minggu sekali. PSSI juga mewajibkan para pemain untuk mengenakan masker di tempat latihan, klub menyediakan fasilitas kesehatan yang baik dan melakukan pengecekan suhu tubuh pemain dan ofisial setiap hari. Serta menyarankan pemain ataupun ofisial yang punya gejala untuk melakukan karantina mandiri.

Ketiga, PSSI mengadakan dua kali rapid test lagi kepada pemain, ofisial serta wasit. Tes pertama dilakukan pada tiga hari sebelum pertandingan dan tes kedua dilakukan pada satu hari sebelum pertandingan. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir false negative dari pemeriksaan sebelumnya.

Jika ada pemain dan ofisial yang hasil tesnya menunjukkan positif, mereka tidak diperbolehkan untuk terlibat dalam pertandingan. Tim dokter juga akan mengarahkan pemain atau ofisial tersebut ke Dinas Kesehatan. Sementara jika ada wasit dinyatakan positif, pada pertandingan itu akan diganti dengan wasit cadangan.

Pada bagian keempat, PSSI mengatur zona stadion yang boleh diisi oleh orang yang berkepentingan. Zona tersebut dibagi oleh tiga bagian. Zona pertama yakni di dalam lapangan, zona kedua adalah area tribun dan zona ketiga yakni di luar stadion. Sementara di tiap zonanya, akan dibagi-bagi lagi lebih detail untuk menerapkan physical distancing di dalam stadion.

Bagian kelima membahas soal peraturan ketat pada hari pertandingan. Beberapa di antaranya, orang yang masuk dan keluar area stadion hanya akan dibuka melalui satu pintu. Selain itu, diatur juga bahwa pemain tidak boleh saling berjabat tangan dan bersentuhan badan, tidak boleh berbagi botol minuman dan tidak boleh meludah sembarangan di area pertandingan.

Tak hanya saat pertandingan, PSSI juga membuat protokol pascapertandingan yang ditaruh di bagian keenam. PSSI mengatur waktu maksimal bagi kedua tim untuk meninggalkan area stadion adalah 90 menit setelah wasit meniup peluit akhir. PSSI juga menyarankan untuk tidak mandi dan ganti pakaian di ruang ganti pemain.

Terakhir, bagian ini mengatur soal higienitas area stadion. PSSI menyebutkan akan mewajibkan pihak pengelola stadion untuk menggunakan disinfektan untuk pembersihan seluruh area stadion. Termasuk lapangan, koridor dan ruang ganti pemain. Menurut PSSI, tujuh bagian protokol kesehatan ini disusun berdasarkan referensi dari FIFA, WHO, AFF, Kemenkes, Kemenpora dan Bundesliga.

Dengan diedarkannya Panduan Pencegahan dan Pengendalian Pandemi Covid-19 dalam Penyelenggaraan Pertandingan Sepak Bola Liga Indonesia Baru, semakin menguatkan sinyal kemungkinan kompetisi akan digulirkan kembali. Langkah ini pun mendapat respons positif dari berbagai kalangan.

Jika melihat berkas lengkapnya, sekilas protokol yang disusun oleh PSSI ini cukup lengkap. Apalagi PSSI mengaku mengadaptasi aturan-aturan kesehatan WHO dan Bundesliga. Seperti diketahui, Bundesliga jadi liga top Eropa pertama yang berhasil memulai kembali kompetisinya pada pekan kedua bulan Mei lalu. Dengan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat, terbukti Bundesliga berjalan lancar di tengah pandemik.

Namun jika dibandingkan dengan Bundesliga, protokol kesehatan yang disusun PSSI masih kurang lengkap. Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFL), mengatur seluruh prosedur rangkaian pertandingan yang dilakukan. Termasuk saat tim berada di hotel atau mes sebelum pertandingan, bagaimana cara sebuah klub beserta pemain dan ofisialnya sampai ke stadion, memantau kamp karantina dan memberikan sanksi kepada pemain dan ofisial.

Dalam aturan yang dibuat DFL, pemain dan ofisial diwajibkan melakukan karantina beberapa hari sebelum pertandingan. Karantina bisa dilakukan di hotel, bagi tim yang berlaga tandang, atau juga mes pemain. DFL diizinkan untuk memantau kamp karantina klub tersebut. Jika ada salah satu atau lebih pemain atau ofisial yang meninggalkan kamp, barang sebentar saja, bakal dikenakan sanksi tidak boleh mengikuti pertandingan. Juga pemain yang disanksi akan diwajibkan melakukan karantina mandiri selama 14 hari.

Selain itu, DFL juga mengatur kendaraan yang membawa pemain dan ofisial ke stadion. Dalam protokol tersebut, tim yang biasanya hanya memakai satu bus untuk mengangkut semua personel, kini diwajibkan memakai beberapa bus. Hal ini dikarenakan nantinya satu bus akan diisi maksimal 50 persen atau kurang dari kapasitas penuh. Sebab, DFL mengatur bahwa pemain akan duduk di bus dengan jarak 1,5 meter dari pemain lainnya.

Sementara bagi tim tuan rumah, pemain dan ofisial diperbolehkan untuk membawa kendaraan masing-masing ke stadion. Namun dengan catatan, ia menyetir sendiri, tidak boleh menumpang atau menumpangi seseorang.

DFL juga mengatur para pemain cadangan di pinggir lapangan. Seperti yang sudah terlihat, selain wajib memakai masker, kursi pemain cadangan juga kini dibuat berjarak. Bahkan jika tidak memungkinkan karena stadion yang tidak begitu besar, pemain cadangan diperbolehkan untuk mengisi kursi di tribun.

Satu hal yang harusnya juga jadi pertanyaan yakni peraturan untuk suporter. Tentu ini menjadi sangat penting jika Liga Indonesia kembali digelar, PSSI harus benar-benar membuat aturan yang jelas untuk kelompok suporter. Di Bundesliga, DFL melarang keras bagi suporter untuk datang apalagi menyaksikan langsung di stadion.

Sebagai gantinya, para suporter boleh mengirim spanduk atau banner dukungan ke stadion pada sehari sebelum pertandingan. Nantinya, spanduk ini akan dipasang oleh panitia di stadion. Direktur olahraga Frankfurt menjelaskan, DFL mengatur cukup ketat terkait peraturan ini. Ia menyebutkan jika ada suporter yang datang, bahkan jika hanya diluar, maka klub dari suporter tersebut paling parah bisa dinyatakan kalah pada pertandingan itu.

Sementara di Liga Inggris, yang katanya akan mulai kick off pada pertengahan Juni ini, juga mengatur ketat soal protokol kesehatan penyelenggaraan pertandingan sepak bola di tengah pandemik. Peraturannya tak jauh lebih ketat dibanding yang DFL buat. Namun, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) lebih detail dalam mengatur jika ada pemain atau ofisial yang terindikasi atau dinyatakan positif corona.

Prosedurnya pun cukup panjang, dimulai dari ketika pemain dinyatakan ada gejala atau positif. Pemain akan diwajibkan untuk karantina mandiri 14 hari. Selama karantina tersebut, pemain akan diberikan jadwal latihan mandiri yang harus dilakukan di tempat karantina. Nantinya setiap pekan dokter tim akan memeriksa laporan latihan dan kesehatan pemain tersebut.

Jika dokter menyatakan lolos, pemain akan diberikan porsi latihan berbeda di pekan kedua. Sampai akhirnya diperbolehkan lagi mengikuti latihan penuh ketika telah memenuhi syarat karantina mandiri 14 hari. Jika menurut dokter pemain tersebut kondisi kesehatannya belum menujukkan perbaikan, maka akan diserahkan kepada Dinas Kesehatan setempat untuk dirujuk ke rumah sakit.

Ya, itu sekilas protokol kesehatan ketat yang diatur oleh dua asosiasi sepak bola top Eropa belakangan ini. Setiap federasi memang punya urgensi masing-masing dalam menentukan peraturan. Tentu saja dari melihat perkembangan kondisi pandemik di setiap negara.

Di Indonesia sendiri sudah mulai menerapkan new normal. Kabarnya, orang-orang sudah mulai kembali diperbolehkan beraktivitas di luar rumah dengan mengikuti prosedur kesehatan baru. Ini tentu bisa jadi angin segar bagi PSSI untuk meminta izin kepada pemerintah atau siapapun yang berwenang untuk melanjutkan kompetisi.

Namun jika dilihat dari data per hari ini, Selasa (9/5), jumlah kasus positif di Indonesia telah mencapai 33.076. Di mana ada penambahan 1.043 kasus baru. Sementara dengan penambahan 40 orang meninggal dunia, jumlah pasien positif corona yang meninggal mencapai 1.923. Angka ini masih jauh dari status aman. Namun Indonesia sudah memasuki new normal sementara grafik kasus terus menanjak.

Tapi apakah PSSI dan para klub sudah siap melaksanakan tujuh panduan protokol kesehatan tersebut? PSSI juga masih punya PR soal peraturan bagi suporter, protokol pemantauan kamp karantina klub dan juga peraturan soal transportasi pemain ke stadion. Kalau boleh mengingatkan, penyebaran virus sendiri kebanyakan terjadi justru dari luar area pertandingan. Oleh karenanya, PSSI juga harus memantau itu, seperti yang DFL lakukan.

Nah, kalau untuk para suporter bagaimana, sudah siap untuk menyongsong Liga Indonesia kembali? Sebab, yang harus mematuhi protokol kesehatan nantinya gak cuma klub dan pemain saja. Suporter juga harus mau mengikutinya. Jikalau terpaksa sisa kompetisi harus digelar tanpa penonton, maka patuhi saja ya. Daripada tak ada sepak bola sama sekali? 


TAG: Liga Indonesia Covid-19






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

3

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

4

Omelan Bang Ben dan Intensitas Permainan Timnas yang Buruk

5

Formasi WM dan Perkembangannya

LEGENDA HARI INI


Card image cap
05 March

Pada tanggal 5 Maret 1870, London menjadi tuan rumah pertandingan internasional pertama di dunia, dengan mempertemukan Timnas Inggris menghadapi sekelompok pemain Skotlandia yang berbasis di London. Pertadningan Itu berakhir imbang 1-1.


IKUTI KAMI